JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terus menyebar. Dampaknya bahkan mulai terasa di sejumlah wilayah Jakarta.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat tidak menganggap remeh kondisi tersebut.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengeluarkan enam imbauan untuk melindungi warga dari paparan abu vulkanik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Gunung Anak Krakatau sedang mengalami beberapa kali erupsi,” kata Teddy melalui akun Instagram Setkab, Minggu (6/9/2026).
Enam Langkah Lindungi Diri
Teddy meminta warga mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Berikut enam langkah yang perlu dilakukan:
- Gunakan masker N95 atau KN95 saat keluar rumah untuk menyaring partikel abu vulkanik.
- Pakai kacamata pelindung dan hindari penggunaan lensa kontak.
- Batasi aktivitas di ruang terbuka selama udara masih dipenuhi abu.
- Kurangi kecepatan saat berkendara karena abu dapat mengganggu jarak pandang dan membuat jalan licin.
- Cuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar rumah.
- Pantau informasi penerbangan karena operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara akibat dampak abu vulkanik.
Untuk poin terakhir, kondisi terbaru menunjukkan penutupan Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB.
Sebelumnya, bandara sempat ditutup sampai 05.30 WIB dan kembali diperpanjang hingga 09.30 WIB.
209 Penerbangan, 22.798 Penumpang Terdampak
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan warga. Aktivitas penerbangan juga ikut terganggu.
Data Ditjen Perhubungan Udara yang diperbarui pada periode penutupan hingga 09.30 WIB mencatat 209 pergerakan penerbangan dan 22.798 penumpang terdampak.
Rute domestik yang paling terdampak adalah Makassar dengan 16 pergerakan. Sementara itu, rute internasional Singapura tercatat 11 pergerakan.
Penerbangan internasional mengalami pembatalan, penundaan, dan penjadwalan ulang.
Sejumlah penerbangan domestik juga dibatalkan atau dialihkan. Sebanyak 170 pesawat yang bermalam di bandara tetap dalam kondisi aman.
Abu Vulkanik Membentang hingga Jakarta
Sementara itu, BMKG terus memantau pergerakan abu menggunakan citra satelit Himawari-9 serta informasi PVMBG dan VAAC Darwin.
Pada analisis terbaru pukul 08.00 WIB, BMKG masih menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik.
Salah satunya bergerak ke arah timur hingga mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya pada ketinggian hingga 20.000 kaki.
Klaster lainnya mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat terbawa angin jauh dari pusat erupsi. Karena itu, warga di wilayah terdampak perlu tetap waspada meski berada jauh dari Gunung Anak Krakatau.
Jangan Panik, Tapi Jangan Lengah
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Partikel abu juga bisa mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.
Karena itu, masker menjadi perlindungan penting ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga sebaiknya tidak berlama-lama di ruang terbuka saat abu semakin pekat.
Bagi pengendara, kewaspadaan harus ditingkatkan. Kecepatan kendaraan perlu dikurangi ketika jarak pandang terganggu.
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya informasi yang beredar di media sosial.
Pantau perkembangan melalui BMKG, Badan Geologi/PVMBG, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah daerah.
Erupsi gunung api memang tidak selalu berarti bencana besar. Namun, kondisi ini mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas.
Jadi, tidak perlu panik, tetapi jangan lengah. Pakai masker, lindungi mata, batasi aktivitas luar ruangan, dan ikuti arahan pemerintah. **
Editor : Hadwan














