TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Militer Israel mengeklaim telah membunuh Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam sebuah serangan udara pada hari Selasa. Jika terkonfirmasi, Larijani menjadi tokoh paling senior yang tewas sejak hari pertama perang ketika AS dan Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merayakan keberhasilan ini melalui sebuah video singkat. Sambil menarik kartu kecil dari saku jasnya, Netanyahu menyatakan telah menghapus dua nama lagi dari daftar target utamanya. Selain Larijani, Israel juga mengonfirmasi tewasnya Gholamreza Soleimani, pemimpin milisi Basij yang berpengaruh.
Mojtaba Khamenei: “Bukan Waktunya untuk Damai”
Di tengah gempuran udara yang masif, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menunjukkan sikap yang sangat defensif namun menantang. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Mojtaba telah menolak semua proposal pengurangan ketegangan atau gencatan senjata yang disampaikan melalui perantara diplomatik.
Dalam sesi kebijakan luar negeri pertamanya, Mojtaba menegaskan bahwa perdamaian tidak akan terjadi hingga Amerika Serikat dan Israel menerima kekalahan dan membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan. Hingga saat ini, sosok Mojtaba belum muncul secara visual di depan publik sejak penunjukannya, memicu spekulasi mengenai keberadaannya saat memimpin rapat tersebut.
Trump Kecam NATO: “Kesalahan yang Sangat Bodoh”
Di Washington, Presiden Donald Trump menunjukkan kekesalan mendalam terhadap para sekutunya. Trump mengecam negara-negara NATO, Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang menolak mengirim bantuan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur vital tersebut kini masih lumpuh total, menghambat 20% pasokan minyak dan LNG global.
“Karena kesuksesan militer kita yang luar biasa, kita tidak lagi butuh bantuan negara-negara NATO—KITA TIDAK PERNAH BUTUH!” tulis Trump di media sosial. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, merespons dengan menyatakan bahwa tidak ada negara yang siap mempertaruhkan nyawa rakyatnya dalam konflik tersebut. Kallas mendesak jalur diplomasi guna menghindari krisis pangan dan energi yang lebih parah.
Serangan Balasan Iran: Pelabuhan Fujairah Terbakar
Meskipun digempur habis-habisan, Teheran membuktikan masih memiliki kemampuan serangan jarak jauh yang mematikan. Sirene peringatan berbunyi di seluruh Tel Aviv dan Yerusalem saat Iran meluncurkan rentetan rudal balistik pada hari Selasa. Di Teluk, Iran kembali menyerang fasilitas minyak di Uni Emirat Arab (UEA).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebakaran besar melanda terminal ekspor di pelabuhan Fujairah setelah serangan ketiga dalam empat hari. Serangan ini sangat strategis karena Fujairah adalah salah satu dari sedikit pelabuhan yang bisa mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Selain itu, satu warga negara Pakistan tewas di Abu Dhabi akibat jatuhnya puing-puing rudal balistik yang berhasil dicegat.
Tragedi Kemanusiaan dan Inflasi Global
Biaya manusia dari perang ini terus membengkak dengan cepat. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari 900 orang tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret. Di Iran, kelompok hak asasi manusia HRANA menyebut jumlah korban tewas telah melampaui 3.000 jiwa.
Secara ekonomi, harga minyak dunia telah melonjak 45% sejak perang meletus pada 28 Februari lalu. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa puluhan juta orang akan menghadapi kelaparan akut jika perang ini terus berlanjut hingga Juni. Dunia kini terjebak dalam ancaman inflasi global yang mengerikan di tengah kebuntuan diplomatik antara kekuatan besar.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















