WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah pembangkit listrik yang tidak pernah tidur. Tidak peduli malam hari, musim dingin, atau badai salju, ia terus memproduksi energi bersih tanpa henti. Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan konsep nyata yang sedang badan antariksa dunia kejar: Space-Based Solar Power (SBSP).
SBSP adalah sistem yang memanen sinar matahari langsung di luar angkasa, mengubahnya menjadi energi listrik, dan memancarkannya ke penerima (rectenna) di zona khatulistiwa Bumi.
Mengapa harus ke luar angkasa? Jawabannya adalah efisiensi. Atmosfer, malam hari, dan cuaca menghambat panel surya di bumi. Sebaliknya, di orbit rendah 1.100 km di atas bumi, satelit bisa mengumpulkan 144% lebih banyak tenaga surya. Di sana, pengumpulan energi bisa terjadi 24 jam sehari.
Tenda Raksasa di Orbit
Desain prototipe SBSP tampak futuristik. Bayangkan sebuah struktur “tenda raksasa” yang melayang di angkasa. Kerangka segitiganya ringan namun masif, dengan panjang 336 meter.
Kolektor surya melapisi sisi-sisinya. Di lantai “tenda”, terdapat konverter surya dan antena pemancar. Antena ini mengirimkan gelombang mikro (microwave) ke Bumi.
Tenang saja, fisikawan menjamin ini bukan “sinar kematian” (death ray) ala film alien. Gelombang ini bersifat non-ionisasi, tidak merusak DNA, dan aman bagi satwa liar maupun manusia. Gelombang ini menembus atmosfer dengan kehilangan energi minimal, dan ladang antena oval raksasa di bumi akan menerimanya.
Jepang Memimpin Perlombaan
Meskipun ilmuwan AS Dr. Peter Glaser telah mematenkan konsep ini pada 1973, Jepang-lah yang kini memimpin perlombaan menuju realisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) telah terlibat serius sejak 1998. Berkat dukungan raksasa industri seperti Mitsubishi dan IHI Corporation, JAXA memprediksi satelit SBSP pertama mereka akan mengorbit pada tahun 2030.
Mereka fokus pada enam area krusial, mulai dari konfigurasi umum hingga sistem transmisi daya nirkabel. Meski pengujian masih berjalan, ambisi Jepang adalah yang paling konkret di dunia saat ini.
Tantangan: Biaya dan Sampah Antariksa
Tentu, jalan menuju energi tak terbatas ini terjal. Hambatan teknis terbesar adalah peluncuran. Mengirim material ke orbit rendah—apalagi orbit tinggi 36.000 km—membutuhkan biaya selangit. Belum ada agensi yang berpengalaman membangun struktur sebesar itu di angkasa.
Masalah kedua adalah transmisi nirkabel. Pada 2009, peneliti AS dan Jepang sukses mengirim energi microwave sejauh 145 km antar-pulau di Hawaii. Namun, mereplikasi kesuksesan ini dari luar angkasa adalah tantangan berbeda.
Kritikus juga menyoroti risiko tabrakan dengan sampah antariksa (space junk) atau meteor kecil. Selain itu, teknisi akan sangat sulit memperbaiki struktur tanpa awak yang rusak di orbit.
Banyak pihak skeptis berpendapat bahwa mengembangkan tenaga surya di bumi—seperti di Gurun Arizona atau Afrika Utara—masih lima kali lebih hemat biaya daripada SBSP.
Namun, seiring kebutuhan energi dunia yang melonjak dan krisis nuklir atau minyak yang terus menghantui, memanen matahari langsung dari sumbernya mungkin adalah satu-satunya jalan keluar di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















