LONDON, POSNEWS.CO.ID – Menjadi orang tua sering kali berarti menebak-nebak isi kepala anak. Namun, tahukah Anda bahwa anak-anak juga mengalami fase di mana mereka belajar menebak isi kepala orang lain? Kemampuan ini, yang para psikolog sebut sebagai Theory of Mind (TOM), adalah tonggak emas perkembangan manusia.
Riset ekstensif sejak 1980-an menunjukkan bahwa sekitar usia empat tahun, anak-anak mengalami lonjakan kognitif. Mereka mulai memahami bahwa orang lain bisa memiliki keyakinan, keinginan, dan cara pandang dunia yang berbeda dari mereka sendiri. Sayangnya, absennya kemampuan ini sering menjadi indikator utama pada anak dengan autisme.
Uji Coba Cokelat dan Boneka
Bagaimana cara mengukurnya? Ilmuwan Wimmer dan Perner merancang metode cerdas bernama “tugas keyakinan salah” (false belief task). Mereka menceritakan kisah Maxi, yang menyimpan cokelat di lemari biru lalu pergi. Saat Maxi pergi, ibunya memindahkan cokelat itu ke lemari hijau.
Peneliti kemudian bertanya kepada anak-anak: “Di mana Maxi akan mencari cokelatnya saat kembali?”
Anak di bawah empat tahun dengan polos menunjuk lemari hijau (tempat cokelat sebenarnya berada), berasumsi bahwa apa yang mereka tahu, Maxi juga tahu. Sebaliknya, anak di atas empat tahun dengan tepat menunjuk lemari biru. Mereka sadar bahwa Maxi memiliki keyakinan yang salah karena tidak melihat pemindahan itu.
Eksperimen Sally dan Anne
Baron-Cohen kemudian menyederhanakan tes ini menggunakan dua boneka, Sally dan Anne. Sally menaruh kelereng di keranjang lalu pergi jalan-jalan. Diam-diam, Anne memindahkan kelereng itu ke dalam kotak.
Hasilnya konsisten. Anak yang lolos tes mampu memisahkan pengetahuan mereka sendiri dari perspektif Sally. Mereka paham bahwa Sally akan mencari di keranjang, tempat terakhir ia melihat kelereng itu. Kemampuan memprediksi perilaku berdasarkan pemahaman mental orang lain inilah yang menjadi inti dari interaksi sosial yang sehat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Imajinasi: Pisang Jadi Telepon
Ternyata, benih kemampuan ini sudah tumbuh jauh lebih awal. Peneliti Leslie berpendapat bahwa saat bayi berusia 18 bulan mulai bermain pura-pura—misalnya menggunakan pisang sebagai telepon—mereka sedang melatih sistem kognitif untuk membedakan antara realitas dan imajinasi.
Mekanisme “pemisahan” (de-coupler) ini memungkinkan anak membuat representasi sekunder dari dunia nyata. Tanpa kemampuan membedakan yang nyata dan yang pura-pura, seorang anak akan kesulitan memahami konsep kebohongan atau perspektif orang lain di kemudian hari.
Peran Saudara dan Keluarga Besar
Apakah kecerdasan ini murni biologis? Bukti menunjukkan faktor sosial bermain peran besar. Lewis meneliti anak-anak di Kreta dan Siprus yang hidup dalam keluarga besar. Temuannya menarik: anak yang sering berinteraksi dengan banyak orang dewasa dan memiliki kakak kandung cenderung menguasai TOM lebih cepat.
Dunn menambahkan poin penting. Interaksi dengan teman sebaya atau saudara sering kali lebih “menantang” daripada dengan orang tua. Teman sebaya tidak selalu memaklumi keinginan kita, sehingga memaksa anak untuk bekerja lebih keras memahami pikiran orang lain demi kelancaran bermain.
Empati Sejak Dini
Meskipun usia empat tahun adalah ambang batas klasik, beberapa ahli seperti Harris menyarankan bahwa anak-anak mungkin lebih pintar dari dugaan kita. Melalui teori “simulasi”, anak-anak mungkin menempatkan diri mereka dalam posisi orang lain secara imajinatif.
Bahkan bayi pun menunjukkan tanda-tanda awal empati dan keinginan berbagi perhatian dengan menunjuk objek. Oleh karena itu, kemampuan sosial bukanlah tombol lampu yang tiba-tiba menyala di ulang tahun keempat, melainkan sebuah spektrum yang terus berkembang seiring asahan lingkungan dan kematangan otak.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















