Televisi dan Persepsi Ketakutan: Mengapa Dunia Terasa Lebih Kejam dari Kenyataan?

Sabtu, 28 Februari 2026 - 09:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Layar yang mendistorsi realitas. Melalui Cultivation Theory, kita memahami bagaimana paparan berita kriminal yang terus-menerus menciptakan

Ilustrasi, Layar yang mendistorsi realitas. Melalui Cultivation Theory, kita memahami bagaimana paparan berita kriminal yang terus-menerus menciptakan "Mean World Syndrome". Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa takut untuk berjalan sendirian di malam hari? Perasaan ini sering kali muncul setelah menonton rangkaian berita kriminal di televisi atau media sosial. Meskipun data kepolisian menunjukkan angka kejahatan di lingkungan Anda menurun, rasa cemas tersebut tetap ada.

Fenomena ini merupakan inti dari studi psikologi komunikasi yang kita kenal sebagai Cultivation Theory. Oleh karena itu, kita perlu memahami mekanisme “penanaman” persepsi oleh media. Pemahaman ini krusial agar kita tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar.

Mean World Syndrome: Dunia yang Jahat di Mata Penonton

George Gerbner memperkenalkan istilah Mean World Syndrome guna mendeskripsikan kondisi kognitif penonton media tingkat berat. Pasalnya, media cenderung menonjolkan aspek kekerasan, konflik, dan tragedi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan rating atau keterlibatan (engagement) yang tinggi.

Akibatnya, penonton mulai membangun keyakinan bahwa dunia luar adalah tempat yang penuh ancaman. Individu yang terpapar konten kekerasan secara intensif merasa lebih rentan menjadi korban kejahatan. Bahkan, rasa takut ini mendorong masyarakat untuk mendukung kebijakan keamanan yang lebih represif. Langkah ini sering kali membatasi kebebasan sipil, meskipun ancaman nyata di lapangan sebenarnya sangat rendah.

Baca Juga :  Drama Suami Cemburu Berujung Mengerikan, 2 Warga Jakarta Selatan Kritis Dihujani Ditusukan

Efek “Tetesan”: Bagaimana Media Membentuk Pandangan Dunia?

Berbeda dengan teori yang melihat dampak media secara instan, Teori Kultivasi berfokus pada efek yang terakumulasi. Gerbner mengibaratkan proses ini seperti tetesan air yang perlahan-lahan membentuk pola pada batu.

Selanjutnya, paparan media secara terus-menerus melakukan hal-hal berikut:

  • Pengarusutamaan (Mainstreaming): Media menyeragamkan pandangan dunia dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Hal ini menciptakan satu narasi dominan yang sering kali penuh kecemasan.
  • Resonansi: Efek kultivasi akan semakin kuat ketika penonton melihat kejadian di layar yang mirip dengan pengalaman pribadinya. Hal ini melipatgandakan rasa takut yang mereka rasakan.
  • Normalisasi Kekerasan: Sering melihat kekerasan membuat individu menganggap kriminalitas sebagai bagian yang “normal”. Mereka pun merasa bahwa konflik adalah bagian kehidupan manusia yang tak terhindarkan.

Dengan demikian, media tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan. Media secara perlahan mengubah cara kita merasakan lingkungan sekitar secara permanen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Realitas Statistik vs Citra Media Massa

Kesenjangan antara kenyataan dengan representasi media sering kali sangat lebar. Di banyak negara pada tahun 2026, kemajuan teknologi keamanan telah menurunkan angka kriminalitas fisik secara signifikan.

Baca Juga :  Kejaksaan Agung Raih Penghargaan, Institusi Terpopuler di Media Sosial 2025

Namun demikian, di layar ponsel dan televisi kita, jumlah konten kekerasan justru meningkat. Hal ini terjadi akibat kecepatan distribusi informasi digital. Pasalnya, berita mengenai keberhasilan pembangunan jarang mendapatkan tempat di algoritma media sosial. Petugas nilai menganggap konten damai kurang “menjual”. Alhasil, masyarakat mengalami disorientasi informasi; mereka lebih memercayai “kebenaran dramatis” di layar daripada “kebenaran statistik” di dunia nyata.

Mengembalikan Literasi di Tengah Ketakutan

Teori Kultivasi mengingatkan kita bahwa kita adalah apa yang kita konsumsi secara mental. Pada akhirnya, ketakutan massal yang berlebihan hanya akan merugikan kohesi sosial dan kesehatan mental bangsa.

Oleh sebab itu, langkah bijak yang harus kita ambil adalah dengan meningkatkan literasi media. Cobalah untuk membatasi konsumsi berita negatif. Carilah data pembanding dari sumber statistik resmi. Sadarilah bahwa media memiliki motif komersial dalam setiap dramatisasi kontennya. Dengan bersikap kritis terhadap setiap gambar di layar, kita dapat merebut kembali ketenangan pikiran. Kita dapat melihat dunia dengan perspektif yang lebih adil dan objektif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masinis di Cilacap Tewas Diserang Tawon Vespa Saat Bersihkan Toren, Sempat Kritis 5 Jam
Krisis Kepemimpinan Inggris: Kekalahan Bersejarah di Gorton dan Denton Ancam Posisi Keir Starmer
Parasocial Relationship: Mengapa Kita Merasa Kenal Dekat dengan Influencer yang Tak Pernah Ditemui?
Dibalik Layar Algoritma: Siapa yang Menentukan Apa yang Layak Anda Ketahui Hari Ini?
Diskon Ramadan 2026 di Jakarta Tembus 70 Persen, 101 Mal Ikut Serta
Sebar Video Call Asusila Kekasih, Pria Asal Gowa Ditangkap di Bekasi
Peringatan Dini BMKG: Hujan Lebat Guyur Jabodetabek Akhir Pekan Ini
Perempuan Bangsa Jakarta Blusukan di Muara Angke, Bagikan Ratusan Takjil untuk Nelayan dan Ojol

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 10:31 WIB

Masinis di Cilacap Tewas Diserang Tawon Vespa Saat Bersihkan Toren, Sempat Kritis 5 Jam

Sabtu, 28 Februari 2026 - 09:07 WIB

Televisi dan Persepsi Ketakutan: Mengapa Dunia Terasa Lebih Kejam dari Kenyataan?

Sabtu, 28 Februari 2026 - 08:17 WIB

Krisis Kepemimpinan Inggris: Kekalahan Bersejarah di Gorton dan Denton Ancam Posisi Keir Starmer

Sabtu, 28 Februari 2026 - 07:58 WIB

Parasocial Relationship: Mengapa Kita Merasa Kenal Dekat dengan Influencer yang Tak Pernah Ditemui?

Sabtu, 28 Februari 2026 - 07:23 WIB

Dibalik Layar Algoritma: Siapa yang Menentukan Apa yang Layak Anda Ketahui Hari Ini?

Berita Terbaru