WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ekosistem media sosial menghadapi ancaman baru. Facebook kini mengalami gelombang disinformasi visual yang masif. Selain itu, berbagai gambar palsu hasil AI beredar luas tak lama setelah otoritas mengidentifikasi Cole Tomas Allen sebagai tersangka penyerangan di Gedung Putih.
Gambar-gambar tersebut menunjukkan Allen bersanding dengan selebriti papan atas. Selanjutnya, narasi unggahan mengeklaim hubungan profesional masa lalu antara Allen dan tokoh-tokoh tersebut. Namun, hingga saat ini Meta belum memberikan komentar resmi terkait ledakan konten manipulatif ini.
Klaim Hubungan Selebriti dan Tokoh Dunia yang Dibuat-buat
Investigasi AFP mengungkap skala penyebaran hoaks yang sangat luas. Bahkan, konten tersebut mengeklaim hubungan palsu antara Allen dan 50 tokoh publik global. Sebagai contoh, gambar-gambar itu mencatut identitas Tom Hanks, Sydney Sweeney, Chris Brown, hingga Taylor Swift.
Tidak hanya itu, ranah politik turut mengalami serangan serupa. Gambar palsu menunjukkan Allen bersama mantan Presiden AS Barack Obama dan politisi Kanada Pierre Poilievre. Lebih jauh lagi, narasi palsu tersebut melibatkan Paus Leo XIV serta jurnalis Savannah Guthrie demi mengejar viralitas.
Evolusi Teknologi: Dari Selebriti ke Individu Biasa
Para ahli menilai fenomena ini mencerminkan kemajuan berbahaya teknologi AI generatif. Menurut Hany Farid dari UC Berkeley, penciptaan pemalsuan orang biasa dulu sangat sulit. Hal ini terjadi karena individu seperti Allen memiliki jejak digital yang sangat minim.
Dulu sistem AI membutuhkan data digital masif dari para selebriti untuk menghasilkan draf yang meyakinkan. Sebaliknya, teknologi saat ini hanya memerlukan satu foto asli untuk menempatkan wajah seseorang dalam lingkungan apa pun. Oleh sebab itu, produsen disinformasi dapat bekerja jauh lebih cepat daripada menggunakan metode manual seperti Photoshop.
Dampak Berbahaya dan Eksploitasi Algoritme
Banjir konten palsu ini membahayakan keselamatan publik. Salah satunya, jurnalis independen Aaron Parnas mendesak pengikutnya melaporkan gambar palsu yang mencatut identitasnya. Secara tegas, ia menyebut narasi kerja sama dengan Allen sebagai kebohongan yang sangat berbahaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, ribuan unggahan lain mengeklaim bahwa Allen bekerja pada 40 tim olahraga profesional. Sistem AI pun menghasilkan atribut visual tim olahraga yang terlihat meyakinkan. Oleh karena itu, pakar Mike Caulfield menyebut fenomena ini sebagai perilaku pabrik konten yang mencari profit finansial secara massal.
Profitabilitas di Balik “Omong Kosong” Digital
Sebagai kesimpulan, peneliti memprediksi fenomena “AI slop” akan terus muncul pada setiap peristiwa besar di dunia. Akibatnya, mereka khawatir pengguna media sosial akan merasa lelah dan berhenti memedulikan kebenaran informasi.
Menurut Hany Farid, produsen memang sengaja merancang konten ini agar viral. Dengan demikian, algoritme platform sosial akan terus mempromosikan unggahan tersebut secara otomatis. “Fenomena ini sangat menguntungkan, jadi saya rasa omong kosong semacam ini tidak akan hilang dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















