TANGGAMUS, POSNEWS.CO.ID – Warga Pekon Tanjung Raja dan Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, akhirnya bisa bernapas lega.
Jembatan gantung yang selama ini menjadi jalur penting mereka kembali diresmikan dan digunakan. Jembatan Merah Putih itu bukan sekadar penghubung dua pekon.
Bagi warga, jembatan tersebut menjadi jalan menuju sekolah, tempat kerja, pasar, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peresmian berlangsung Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB di Pekon Tanjung Raja.
Momen tersebut terasa istimewa karena jembatan itu telah berdiri sejak 2001. Selama sekitar 25 tahun, warga menggantungkan mobilitas mereka pada akses sepanjang 42 meter tersebut.
Kini, setelah diperbaiki melalui semangat gotong royong, jembatan kembali dimanfaatkan masyarakat.
200 KK Bergantung pada Jembatan
Jembatan Gantung Merah Putih memiliki panjang 42 meter dengan lebar sekitar 1,3 meter.
Setidaknya 200 kepala keluarga memanfaatkan akses tersebut. Tidak hanya itu, sekitar 100 pelajar juga menggunakan jembatan dalam aktivitas pendidikan mereka.
Karena itu, kerusakan jembatan bukan persoalan kecil.
Ketika lantai papan mulai rusak, perjalanan warga ikut terancam. Anak-anak sekolah harus lebih berhati-hati. Begitu pula warga yang menggunakan jembatan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Kondisi tersebut berlangsung cukup lama. Bagian lantai papan bahkan disebut mengalami kerusakan selama sekitar empat tahun.
Kapolres Tanggamus Turun Tangan
Melihat kondisi tersebut, perbaikan dilakukan secara bersama-sama.
Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., bersama personel Polri, TNI, pemerintah daerah, Forkopimcam, Tagana, serta masyarakat turun langsung melakukan renovasi pada 1 September 2026.
Perbaikan menyasar sejumlah bagian penting jembatan.
Lantai papan diperbaiki. Tiang dan sling baja pengait juga dicat kembali. Selain itu, Polres Tanggamus memberikan dua unit lampu tenaga surya untuk membantu penerangan pada malam hari.
Langkah tersebut membuat jembatan tidak hanya kembali berfungsi, tetapi juga diharapkan lebih nyaman digunakan masyarakat.
Pernah Ada Warga Terjatuh
Kerusakan jembatan sebelumnya bukan tanpa risiko.
Sejumlah warga dilaporkan pernah mengalami kecelakaan saat melintas. Ada yang keseleo, mengalami luka hingga patah tulang. Bahkan, terdapat warga yang dilaporkan terjatuh ke bawah sungai.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam berbagai kejadian tersebut. Namun, pengalaman itu menjadi peringatan keras bahwa kondisi jembatan tidak boleh dibiarkan.
Apalagi, akses tersebut digunakan setiap hari oleh masyarakat dan pelajar.
Karena itu, perbaikan jembatan menjadi kebutuhan mendesak. Bukan hanya untuk memperlancar perjalanan, tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan.

Anak Sekolah Jadi Perhatian
Bagi anak-anak Tanjung Raja dan Tanjung Jati, jembatan ini memiliki cerita tersendiri.
Setiap hari mereka harus melintasinya untuk menjalankan aktivitas pendidikan. Jembatan yang tampak sederhana itu menjadi bagian dari perjalanan mereka mengejar cita-cita.
Saat kondisi jembatan rusak, rasa khawatir tentu muncul. Kini, akses tersebut kembali digunakan setelah melalui proses perbaikan.
Pesannya sederhana. Jalan menuju sekolah tidak boleh menjadi jalan yang mempertaruhkan keselamatan.
Infrastruktur yang aman menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak dapat belajar dengan tenang dan masyarakat bisa bergerak tanpa rasa cemas.
Warga Langsung Uji Jembatan
Setelah prosesi peresmian, warga tidak sekadar menyaksikan pemotongan pita dan tumpeng. Mereka langsung mencoba jembatan tersebut.
Lima warga melintas menggunakan sepeda motor. Lima warga lainnya berjalan kaki. Uji coba itu menjadi tanda bahwa Jembatan Merah Putih kembali membuka akses antara dua pekon.
Antusiasme warga pun terlihat. Sebab, selama bertahun-tahun jembatan tersebut menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Gotong Royong Hidupkan Kembali Akses Warga
Perbaikan jembatan ini juga menunjukkan bahwa persoalan masyarakat dapat diselesaikan melalui kolaborasi.
Polri, TNI, pemerintah daerah, aparatur kecamatan, pemerintah pekon, tokoh masyarakat, tokoh adat, relawan, dan warga bergerak bersama.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil ketika manfaatnya dirasakan banyak orang.
Semangat tersebut menjadi kekuatan dalam memperbaiki jembatan yang telah lama menjadi urat nadi masyarakat.
Bahkan, pemasangan lampu tenaga surya menjadi tambahan penting. Penerangan tersebut diharapkan membantu warga ketika harus melintas pada malam hari.
42 Meter yang Menyimpan Banyak Harapan
Jembatan Tanjung Raja-Tanjung Jati kini kembali berdiri sebagai penghubung dua wilayah. Namun, maknanya jauh lebih besar daripada sekadar bentang sepanjang 42 meter.
Di atas jembatan itu ada anak-anak yang berangkat sekolah. Ada warga yang mencari nafkah. Ada keluarga yang membutuhkan akses menuju fasilitas umum.
Karena itu, Jembatan Merah Putih menjadi simbol harapan bagi masyarakat.
Meski demikian, warga masih berharap pemerintah dapat menghadirkan jembatan permanen yang mampu dilalui kendaraan roda empat.
Harapan itu semakin penting ketika hujan deras atau kondisi sungai membuat jalur alternatif sulit dilalui.
Untuk sementara, jembatan yang telah diperbaiki ini menjadi jawaban atas kebutuhan warga. Sebab, bagi masyarakat Tanjung Raja dan Tanjung Jati, sebuah jembatan bukan hanya soal besi, papan, dan tali baja.
Jembatan adalah jalan untuk terus bergerak. Jalan anak-anak mengejar pendidikan. Jalan warga mencari penghidupan. Dan jalan bagi sebuah harapan untuk tetap terhubung. **
Editor : Hadwan













