China Balik Serang: Jepang Penyusup, Tuduhan Radar Hanya Hype Palsu yang Berbahaya

Selasa, 9 Desember 2025 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Beijing murka! China tuduh jet tempur Jepang terobos zona latihan militer. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Beijing murka! China tuduh jet tempur Jepang terobos zona latihan militer. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID  Perang narasi antara dua raksasa Asia semakin sengit. China memberikan respons berapi-api atas tuduhan Jepang terkait insiden radar di perairan Okinawa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menolak mentah-mentah klaim Tokyo pada Senin (08/12/2025).

Guo mendesak Jepang untuk segera menghentikan “pelecehan berbahaya” terhadap aktivitas pelatihan normal China. Bahkan, ia menuntut Tokyo menyetop segala bentuk manipulasi politik dan “hype palsu” yang tidak bertanggung jawab.

Posisi China sangat jelas dan serius. Menurut Guo, latihan militer China di wilayah laut dan udara terkait sepenuhnya mematuhi hukum internasional. Operasi tersebut, klaimnya, berjalan profesional, standar, dan tidak tercela.

“Itu Radar Pencari, Bukan Radar Tembak”

Guo meluruskan detail teknis yang menjadi sumber sengketa. Ia menjelaskan bahwa pengaktifan radar pencari (search radars) oleh pesawat berbasis kapal induk adalah hal yang lumrah.

“Ini adalah prosedur normal yang digunakan oleh militer di seluruh dunia untuk memastikan keselamatan penerbangan,” tegas Guo.

Pernyataan ini membantah tuduhan Jepang bahwa pesawat China menggunakan radar pengendali tembakan (fire-control radar) yang bersifat agresif. Artinya, Beijing mengklaim tindakan mereka murni untuk navigasi, bukan ancaman serangan.

Baca Juga :  Prahara di Levent: Turki Tangkap 198 Simpatisan IS Pasca-Serangan Konsulat Israel

Tudingan Balik: Jet Jepang Menyusup

Justru, China melempar bola panas kembali ke Tokyo. Guo menyebut inti masalah sebenarnya terletak pada perilaku jet tempur Jepang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesawat Jepang dituduh telah menerobos masuk (trespassed) ke dalam zona latihan China. Tidak hanya itu, mereka melakukan pengintaian jarak dekat dan interferensi terhadap aktivitas militer China.

“Jepang memutarbalikkan fakta, mengalihkan kesalahan, dan menyesatkan komunitas internasional,” serang Guo.

Oleh karena itu, China menyatakan ketidakpuasan yang kuat. Mereka telah mengajukan protes keras (stern representations) kepada Tokyo. Guo mengecam Jepang karena sengaja menyebarkan informasi palsu dengan “motif tersembunyi” untuk menciptakan ketegangan di momen sensitif ini.

Analisis: Probabilitas Konflik Masa Depan

Eskalasi insiden “saling lapor” dan manuver militer jarak dekat ini memunculkan pertanyaan besar: Seberapa besar kemungkinan konflik terbuka pecah di masa depan?

1. Risiko Bentrokan Tidak Sengaja (Tinggi) Probabilitas terjadinya bentrokan fisik akibat salah perhitungan (miscalculation) kini berada di level Tinggi. Pasalnya, frekuensi pertemuan jarak dekat (close encounters) antara aset militer kedua negara semakin sering terjadi. Jika salah satu pilot panik atau sistem senjata otomatis terpicu, insiden kecil bisa memicu baku tembak yang tidak direncanakan.

Baca Juga :  Musim Semi: Takaichi dan Trump Rancang Pertemuan

2. Perang Terbuka Skala Penuh (Menengah-Rendah) Meskipun retorika memanas, probabilitas perang total dalam jangka pendek masih Menengah-Rendah. Kedua negara memiliki ketergantungan ekonomi yang dalam. Selain itu, keberadaan payung keamanan Amerika Serikat di Jepang masih menjadi faktor pencegah (deterrent) utama bagi Beijing untuk memulai agresi terbuka.

3. Perang Zona Abu-abu (Sangat Tinggi) Skenario yang paling mungkin terjadi dan sedang berlangsung adalah “Perang Zona Abu-abu” (Gray Zone Warfare). Probabilitasnya Sangat Tinggi. Kita akan terus melihat taktik non-militer yang agresif, seperti penggunaan milisi maritim, blokade ekonomi terselubung, serangan siber, dan perang informasi seperti kasus radar ini. Tujuannya adalah menekan lawan tanpa memicu perang konvensional.

Pada akhirnya, Laut China Timur kini telah berubah menjadi salah satu titik api paling berbahaya di dunia. Satu percikan kecil dari “hype palsu” atau manuver nekat bisa saja membakar stabilitas kawasan yang sudah rapuh.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan
Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC
Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI
Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih
Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:22 WIB

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Berita Terbaru

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

INTERNASIONAL

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Konfrontasi para titan. CEO OpenAI Sam Altman memberikan kesaksian panas di pengadilan, mengungkap ambisi kontrol absolut Elon Musk yang menjadi pemicu keretakan hubungan di raksasa kecerdasan buatan tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sidang darurat anggaran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi tekanan dari kedua partai terkait pembengkakan biaya perang di Iran dan dampaknya terhadap kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik global lainnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Guncangan otoritas kesehatan. Kepala FDA Marty Makary mengundurkan diri setelah setahun menjabat, meninggalkan lembaga tersebut dalam ketidakpastian di tengah perselisihan mengenai kebijakan rokok elektrik dan tinjauan obat-obatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB