Diplomasi PBB: Tiongkok Dorong Solusi Politik Ukraina

Rabu, 25 Februari 2026 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Tiongkok secara resmi menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mempercepat upaya penciptaan solusi politik bagi krisis di Ukraina. Pernyataan ini muncul bertepatan dengan peringatan empat tahun dimulainya konflik bersenjata tersebut.

Konselor Misi Tetap Tiongkok untuk PBB, Teng Fei, menyampaikan posisi negaranya setelah sesi pemungutan suara di Majelis Umum PBB pada Selasa petang. Tiongkok berharap Majelis Umum dapat memainkan peran konstruktif dalam membangun konsensus perdamaian di antara seluruh negara anggota.

Alasan di Balik Keputusan Abstain

Majelis Umum PBB resmi mengadopsi resolusi bertajuk “Dukungan untuk Perdamaian Abadi di Ukraina”. Hasil pemungutan suara menunjukkan 107 negara setuju, 12 negara menolak, dan 51 negara memilih untuk abstain.

Teng Fei menjelaskan bahwa keputusan Tiongkok untuk abstain mencerminkan prinsip dan sikap konsisten Beijing terhadap isu Ukraina. Oleh karena itu, langkah ini menunjukkan keinginan Tiongkok untuk tetap menjadi pihak yang mendorong dialog tanpa memihak secara ekstrem di tengah polarisasi global yang tajam.

Pilar Kedaulatan dan Arsitektur Keamanan Baru

Dalam penjelasan diplomatiknya, Tiongkok menekankan tiga pilar utama bagi terciptanya perdamaian. Pertama, komunitas internasional harus menghormati kedaulatan dan integritas wilayah seluruh negara tanpa kecuali. Kedua, para aktor global wajib menjunjung tinggi tujuan dan prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB.

Selanjutnya, pilar ketiga adalah penanganan kekhawatiran keamanan yang sah dari semua pihak yang terlibat. Teng Fei menilai isu Ukraina kini telah memasuki fase kritis untuk negosiasi intensif. “Semua pihak harus mempertahankan momentum positif dan berjuang untuk mencapai perjanjian perdamaian yang komprehensif, langgeng, dan mengikat,” tegas Teng.

Baca Juga :  Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Menangani Akar Penyebab Konflik

Beijing berargumen bahwa perdamaian jangka panjang di Eropa mustahil tercapai tanpa menangani akar penyebab masalah. Tiongkok mendesak pembentukan arsitektur keamanan Eropa yang lebih seimbang, efektif, dan berkelanjutan.

Langkah ini bertujuan untuk memastikan stabilitas permanen di benua tersebut agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. Tiongkok berkomitmen untuk terus bekerja aktif bersama komunitas internasional guna mewujudkan solusi politik yang bermartabat. Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi ini akan bergantung pada kemauan para pihak untuk beralih dari konfrontasi militer menuju meja perundingan yang substantif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru