JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Model ekonomi dasar sering mengasumsikan “informasi sempurna”, di mana pembeli dan penjual sama-sama tahu segalanya. Kenyataannya, pasar sering kali timpang.
Pada tahun 1970, ekonom George Akerlof mempublikasikan karya legendarisnya, “The Market for Lemons” (Pasar untuk Mobil Jelek/Rongsokan). Ia mengajukan skenario sederhana: di pasar mobil bekas, penjual tahu persis kondisi mobilnya (apakah itu mobil bagus atau “lemon”). Pembeli, di sisi lain, tidak tahu—mereka hanya melihat harga rata-rata.
Karena pembeli tidak bisa membedakannya, mereka hanya bersedia membayar harga rata-rata (campuran antara harga mobil bagus dan jelek).
Masalahnya? Harga rata-rata ini terlalu rendah bagi pemilik mobil bagus, sehingga mereka menarik mobil bagus mereka dari pasar. Akibatnya, yang tersisa di pasar hanyalah mobil-mobil “lemon”. Pembeli menyadari ini, harga rata-rata semakin jatuh, dan pada akhirnya, pasar bisa kolaps total.
Kondisi ini, di mana satu pihak memiliki informasi lebih banyak daripada pihak lain, dikenal sebagai Asimetri Informasi.
Adverse Selection dan Moral Hazard
Asimetri informasi menciptakan dua masalah besar yang merusak efisiensi pasar:
- Adverse Selection (Seleksi Merugikan): Ini adalah masalah yang terjadi sebelum transaksi. Karena informasi yang timpang, pihak yang tidak memiliki informasi cenderung menarik “tipe” yang salah dari pihak yang memiliki informasi.
- Contoh Klasik: Asuransi kesehatan. Orang yang paling mungkin membeli asuransi kesehatan adalah mereka yang sudah tahu bahwa mereka sakit atau berisiko tinggi (informasi yang tidak dimiliki perusahaan asuransi). Ini menyebabkan premi menjadi mahal bagi semua orang, mengusir orang sehat dari pasar.
- Moral Hazard (Bahaya Moral): Ini adalah masalah yang terjadi setelah transaksi. Pihak yang memiliki informasi (atau yang terlindungi) mengubah perilakunya menjadi lebih berisiko karena pihak lain menanggung konsekuensinya.
- Contoh Klasik: Asuransi mobil. Setelah seseorang mendapatkan asuransi penuh, ia mungkin menjadi pengemudi yang kurang berhati-hati (misalnya, ngebut atau parkir sembarangan) karena ia tahu asuransi akan menanggung biayanya jika terjadi kecelakaan.
Signaling dan Screening
Pasar tidak tinggal diam; ia mengembangkan mekanisme untuk mencoba “menyeimbangkan” informasi. Dua mekanisme utamanya adalah:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Signaling (Pemberian Sinyal): Pihak yang memiliki informasi (penjual mobil bagus) mengirimkan “sinyal” yang kredibel—dan mahal—kepada pihak yang tidak memiliki informasi untuk membuktikan kualitasnya.
- Contoh: Garansi mobil bekas (hanya penjual mobil bagus yang berani menawarkannya), atau gelar sarjana. Bagi seorang pemberi kerja, ijazah sarjana (terutama dari universitas ternama) adalah sinyal bahwa kandidat tersebut cerdas dan tekun, karena mendapatkan ijazah itu “mahal” (butuh biaya dan usaha) dan sulit dipalsukan.
- Screening (Penyaringan): Pihak yang tidak memiliki informasi (perusahaan asuransi) merancang mekanisme untuk “memaksa” pihak lain mengungkapkan informasinya.
- Contoh: Perusahaan asuransi menawarkan berbagai paket: paket premi murah dengan potongan (deductible) tinggi, dan paket premi mahal dengan potongan rendah. Orang sehat (berisiko rendah) akan memilih paket murah, sementara orang sakit (berisiko tinggi) akan memilih paket mahal. Perusahaan berhasil “menyaring” pelanggannya.
Kredit, Asuransi, dan Barang Bekas
Kita melihat ini setiap hari:
- Pasar Kredit: Peminjam tahu kemampuannya membayar, bank tidak. Bank melakukan screening melalui skor kredit dan BI Checking, dan meminta signaling berupa agunan/jaminan.
- Asuransi Kesehatan: (Seperti dibahas di atas).
- Pasar Barang Bekas: Penjual menggunakan signaling (garansi toko, reputasi online, sertifikat keaslian) untuk meyakinkan pembeli.
Pentingnya Transparansi
Ekonomi Informasi menunjukkan bahwa pasar bebas tidak otomatis efisien jika informasi tidak terdistribusi secara merata. Asimetri informasi adalah “gesekan” yang dapat menghentikan roda perekonomian.
Inilah mengapa transparansi sangat penting. Mekanisme modern seperti review pelanggan di e-commerce, regulasi pemerintah yang mewajibkan pengungkapan (misalnya, kandungan gizi pada makanan), dan lembaga sertifikasi independen semuanya adalah solusi untuk “Market for Lemons”. Tujuannya satu: memastikan pembeli dan penjual bisa bertransaksi dengan percaya diri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















