Grand Banks: Kisah Ladang Ikan Terkaya Dunia yang Hancur

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu surga ikan kod, kini ladang minyak. Grand Banks menyimpan sejarah eksploitasi berlebihan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dulu surga ikan kod, kini ladang minyak. Grand Banks menyimpan sejarah eksploitasi berlebihan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID –  Di tenggara Newfoundland, terbentang dataran tinggi bawah laut seluas 93.200 kilometer persegi. Area ini dikenal sebagai Grand Banks. Di sinilah Arus Labrador yang dingin bertemu dengan Arus Teluk yang hangat.

Pertemuan dua arus raksasa ini mengangkat nutrisi dari dasar laut ke permukaan. Seketika, kondisi ini menciptakan salah satu tempat pemijahan ikan terkaya di dunia. Kehidupan laut tumbuh subur di perairan yang dangkal namun berbahaya ini.

Nelayan harus bertaruh nyawa menghadapi kabut tebal, gunung es, dan badai musim dingin yang ganas. Namun, kekayaan alam di balik ombak ganas itu terlalu menggoda untuk dilewatkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jejak Viking dan Penemuan Cabot

Sejarah mencatat John Cabot sebagai penemu resmi area ini pada 1497. Namun, fakta sejarah menunjukkan cerita lain. Kapal-kapal Inggris dan Portugis sebenarnya telah menjelajahi perairan ini jauh sebelumnya.

Mereka mengikuti jejak pelayaran Viking kuno. Beberapa teks lama bahkan menyebut tanah bernama Bacalao atau “negeri ikan kod”. Setelah Cabot melaporkan kelimpahan ikan yang luar biasa, nelayan Eropa langsung menyerbu kawasan tersebut.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Grammar: Mengapa Me Station Lebih Efektif

Prancis memelopori teknik perikanan “basah” sekitar tahun 1550. Mereka menggarami ikan kod langsung di atas kapal, sehingga bisa segera kembali ke Eropa dengan muatan segar.

Kehancuran Akibat Pukat Harimau

Puncak kejayaan Grand Banks terjadi pada abad ke-19 dan 20. Sayangnya, kemajuan teknologi justru membawa petaka. Penggunaan sonar dan kapal pukat pabrik raksasa (factory freezer trawlers) pada 1950-an memicu penangkapan ikan yang gila-gilaan.

Armada asing, termasuk dari Rusia, datang dengan kekuatan penuh. Mereka mengeruk ikan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, stok ikan kod menipis drastis.

Pada akhir 1980-an, hasil tangkapan mulai anjlok. Pemerintah Kanada dan warga pesisir akhirnya sadar. Penangkapan ikan berlebihan (overfishing) telah menghancurkan sumber daya alam mereka.

Lantas, pada 1992, pemerintah Kanada mengambil langkah ekstrem. Mereka mendeklarasikan moratorium total untuk penangkapan ikan kod utara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Baca Juga :  Timur Tengah Membara: Iran Tutup Selat Hormuz

Tanda-Tanda Kehidupan Kembali

Setelah hampir dua puluh tahun pembatasan ketat, harapan mulai muncul. Dalam sepuluh tahun terakhir, ikan kod terlihat kembali ke Grand Banks dalam jumlah kecil.

Ilmuwan menduga kerusakan akibat pukat harimau mungkin tidak permanen. Ekosistem laut perlahan memulihkan diri jika manusia memberinya waktu istirahat yang cukup.

Meskipun demikian, kita harus tetap waspada. Stok ikan kod saat ini baru mencapai sekitar 10 persen dari level tahun 1960-an. Pemulihan penuh mungkin membutuhkan waktu satu atau dua dekade lagi.

Ancaman Baru: Emas Hitam

Di tengah pemulihan yang rapuh, Grand Banks menghadapi tantangan baru. Perusahaan minyak menemukan cadangan minyak bumi yang melimpah di wilayah tersebut.

Ladang minyak Hibernia yang raksasa mulai berproduksi pada 1997. Tercatat, sumur ini menghasilkan lebih dari 50.000 barel minyak mentah per hari.

Kini, risiko bencana ekologis mengintai. Aktivitas gempa bumi dan gunung es di Grand Banks berpotensi merusak infrastruktur minyak. Jika tumpahan minyak terjadi, “ladang ikan” yang baru saja mulai bernapas lega ini bisa mati kembali dalam sekejap.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:48 WIB

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Berita Terbaru

Pulsar meluncurkan mouse gaming X2F CrazyLight berdesain fingertip. Simak spesifikasi sensor 42K, polling rate 8K, dan harga resminya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Pulsar Meluncurkan Mouse Gaming X2F CrazyLight

Jumat, 2 Okt 2026 - 13:25 WIB

HiBy Digital merilis headset PULSE dan sound card GRID edisi Cyberpunk 2077. Simak rincian desain visual dan kolaborasinya di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HiBy Digital Rilis Headset PULSE dan Sound Card GRID

Jumat, 2 Okt 2026 - 12:21 WIB

Colorful meluncurkan laptop gaming Panda P15E dengan GPU RTX 3050 dan RAM DDR4. Simak rincian spesifikasi dan harganya di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Colorful Rilis Laptop Gaming Panda P15E Berbekal RTX 3050

Jumat, 2 Okt 2026 - 11:05 WIB

Thermaltake merilis casing PC Stage 500 TG ARGB dengan kaca melengkung dan panggung pajangan. Simak spesifikasi lengkapnya di sini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Thermaltake Meluncurkan Casing PC Transparan Stage 500 TG

Jumat, 2 Okt 2026 - 10:03 WIB