Eksistensialisme di Abad 21: Menemukan Makna di Dunia yang Tampak Absurd

Minggu, 5 April 2026 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kedaulatan atas diri sendiri. Di tengah ketidakpastian global 2026, eksistensialisme mengajak kita berhenti mencari makna di luar sana dan mulai menciptakannya sendiri melalui kebebasan dan tindakan nyata. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kedaulatan atas diri sendiri. Di tengah ketidakpastian global 2026, eksistensialisme mengajak kita berhenti mencari makna di luar sana dan mulai menciptakannya sendiri melalui kebebasan dan tindakan nyata. Dok: Istimewa.

PARIS, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa terjebak dalam rutinitas yang tidak memiliki arti, atau merasa cemas karena dunia tampak tidak peduli pada rencana Anda? Di tahun 2026, perasaan ini kian meluas di kalangan masyarakat urban. Dalam konteks ini, eksistensialisme hadir bukan untuk menambah kesuraman, melainkan sebagai alat untuk merebut kembali kendali atas kehidupan kita sendiri.

Langkah filsafat ini dimulai dengan sebuah pengakuan jujur bahwa alam semesta tidak memberikan naskah kepada siapa pun. Oleh karena itu, setiap orang adalah sutradara sekaligus aktor utama dalam panggung kehidupannya masing-masing.

Eksistensi Mendahului Esensi: Kita adalah Kanvas Kosong

Jean-Paul Sartre merumuskan tesis yang mengguncang dunia: L’existence prĂ©cède l’essence. Artinya, manusia hadir di dunia ini terlebih dahulu, baru kemudian ia mendefinisikan dirinya melalui pilihan-pilihannya. Berbeda dengan sebuah gunting yang diciptakan untuk memotong, manusia tidak memiliki fungsi bawaan yang kaku.

Dalam hal ini, kita lahir sebagai kanvas kosong. Tidak ada takdir yang terukir di bintang-bintang, dan tidak ada esensi yang ditentukan oleh biologi semata. Sebagai hasilnya, kita sepenuhnya bebas untuk menjadi apa saja. Pilihan pekerjaan, nilai moral, hingga tujuan hidup sepenuhnya berada di tangan kita. Di tahun 2026, gagasan ini membebaskan manusia dari tekanan untuk mengikuti standar kesuksesan tradisional yang sering kali mengekang potensi individu.

Baca Juga :  Kebutaan Perubahan: Mengapa Mata Kita Sering Menipu Otak

Menghadapi Angst: Kebebasan Adalah Kutukan yang Indah

Meskipun demikian, kebebasan absolut ini menuntut harga yang mahal. Sartre menyebut kondisi ini sebagai “dikutuk untuk bebas”. Setiap pilihan yang kita ambil membawa tanggung jawab penuh atas konsekuensinya. Akibatnya, kita sering mengalami Angst—sebuah kecemasan mendalam saat menyadari bahwa tidak ada tempat untuk bersandar selain pada diri sendiri.

Lebih lanjut, kecemasan ini bukan tanda gangguan mental, melainkan tanda kesadaran akan potensi diri. Oleh sebab itu, alih-alih menghindari kecemasan, eksistensialisme mendorong kita untuk menghadapinya dengan autentisitas. Bertindak secara autentik berarti membuat pilihan berdasarkan nilai pribadi, bukan karena mengikuti arus atau tekanan sosial (bad faith). Di tengah kebisingan algoritma media sosial, kejujuran terhadap nurani sendiri menjadi bentuk perlawanan yang paling berani.

Mitologi Sisyphus: Kebahagiaan dalam Perlawanan terhadap Absurditas

Jika Sartre fokus pada pilihan, Albert Camus fokus pada cara kita merespon kekosongan makna di dunia. Ia menggunakan metafora Sisyphus, tokoh mitologi yang dihukum untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali ke bawah selamanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara khusus, Camus menyebut ini sebagai kondisi Absurd. Kita memiliki keinginan kuat untuk mencari makna, namun dunia tetap diam dan tidak memberikan jawaban. Meskipun demikian, Camus tidak menyarankan kita untuk menyerah. Ia menyimpulkan: “Seseorang harus membayangkan Sisyphus berbahagia.”

Baca Juga :  Anak Muda Tolak Hustle Culture: Ketenangan Kini Lebih Berharga dari Gaji

Mengapa? Karena kebahagiaan Sisyphus terletak pada kesadarannya. Ia tahu batunya akan jatuh kembali, namun ia tetap memilih untuk mendorongnya lagi. Terlebih lagi, tindakan terus melangkah di tengah rutinitas yang tampak sia-sia adalah sebuah bentuk pemberontakan. Di tahun 2026, di mana pekerjaan sering kali terasa seperti pengulangan tanpa ujung, Camus mengingatkan kita bahwa makna tidak ditemukan di puncak gunung (hasil akhir), melainkan dalam setiap tetes keringat saat kita mendorong batu tersebut (proses).

Menjadi Pencipta Makna

Masa depan kesehatan mental dan spiritual kita bergantung pada keberanian untuk mengakui bahwa hidup ini absurd namun layak dijalani. Pada akhirnya, eksistensialisme mengajarkan bahwa kita bukan korban dari situasi, melainkan pencipta dari setiap makna yang ada di sekitar kita.

Dengan demikian, dunia memerlukan individu yang tidak lagi menunggu instruksi dari luar untuk menjadi bahagia. Di tahun 2026, kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk tersenyum di hadapan ketidakpastian. Kita bebas, kita bertanggung jawab, dan meskipun dunia tetap sunyi, kita akan terus menari di atas panggung kehidupan dengan penuh martabat dan sukacita yang kita ciptakan sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz
Produsen Minyak Teluk Aktifkan Jalur Lintas Darat Guna Hindari Selat Hormuz
Karyawan Pabrik di Tangerang Tewas Terlindas Truk Saat Tidur di Kolong Kontainer
Menu Spageti Picu Keracunan, DPR Minta SPPG Pondok Kelapa Ditutup
Polemik Vonis Bebas Amsal Sitepu, Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk
Krisis Nuklir di Bushehr: Satu Staf Tewas Akibat Serangan Proyektil di Dekat PLTN Iran
Syarat Akhir Perang: Iran Tuntut Solusi Permanen dan Bantah Boikot Dialog Islamabad
Polri Kerahkan 148 Personel ke Papua Tengah dan Maluku Utara, Perkuat Keamanan

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 14:27 WIB

Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz

Minggu, 5 April 2026 - 13:24 WIB

Produsen Minyak Teluk Aktifkan Jalur Lintas Darat Guna Hindari Selat Hormuz

Minggu, 5 April 2026 - 12:58 WIB

Karyawan Pabrik di Tangerang Tewas Terlindas Truk Saat Tidur di Kolong Kontainer

Minggu, 5 April 2026 - 12:42 WIB

Menu Spageti Picu Keracunan, DPR Minta SPPG Pondok Kelapa Ditutup

Minggu, 5 April 2026 - 12:29 WIB

Polemik Vonis Bebas Amsal Sitepu, Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Berita Terbaru

Blokade semakin mematikan. Garda Revolusi Iran (IRGC) menghantam tanker minyak

INTERNASIONAL

Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz

Minggu, 5 Apr 2026 - 14:27 WIB