TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Gendang perang kembali bertalu di Timur Tengah. Pada hari Rabu (29/1), Angkatan Darat Iran mengirimkan sinyal perlawanan yang jelas terhadap tekanan Amerika Serikat. Mereka secara resmi memasukkan 1.000 drone strategis ke dalam formasi tempur empat cabang militernya.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, spesialis angkatan darat bekerja sama dengan kementerian pertahanan untuk mengembangkan drone-drone ini. Tujuannya adalah menjawab ancaman yang terus berkembang.
Lebih spesifik, Iran mengklaim teknologi drone ini menggabungkan “pelajaran dari perang 12 hari,” merujuk pada konflik intensitas tinggi sebelumnya. Oleh karena itu, langkah ini merespons langsung pengepungan militer yang sedang berlangsung di perairan mereka.
Armada “Masif” USS Abraham Lincoln Tiba
Faktanya, pengerahan drone ini terjadi hanya berselang dua hari setelah kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di wilayah tersebut pada 27 Januari. Kehadiran kapal induk ini menempatkan kekuatan udara AS dalam jarak tembak untuk operasi potensial yang menargetkan Iran.
Presiden AS Donald Trump tidak menutupi niatnya. Dalam unggahan di Truth Social pada 28 Januari, ia sesumbar bahwa sebuah “armada masif”—yang lebih besar dari armada Venezuela—sedang menuju Iran.
Selain itu, Trump secara terbuka mendukung protes anti-pemerintah yang meletus di Iran sejak akhir Desember 2025 akibat krisis ekonomi. “Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulis Trump. Ia menyerukan warga Iran untuk “mengambil alih institusi” dan mencatat nama-nama pembunuh mereka.
Rapat Perang di Washington
Sementara itu, roda mesin perang berputar cepat di Washington. Pada hari Rabu (29/1), pemerintahan Trump menjadi tuan rumah bagi pejabat pertahanan dan intelijen senior dari Israel dan Arab Saudi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara khusus, pertemuan tingkat tinggi ini membahas strategi menghadapi Iran. Diskusi berlangsung saat laporan menyebutkan Presiden Trump sedang mempertimbangkan opsi serangan militer. Akibatnya, Israel, Arab Saudi, dan negara-negara lain di kawasan berada dalam siaga tinggi selama berhari-hari guna mengantisipasi dampak dari potensi serangan AS.
Diplomasi Menit Terakhir di Ankara
Di tengah ancaman konfrontasi fisik, jalur diplomasi bekerja keras untuk mencegah bencana. Beberapa negara Timur Tengah telah mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka melarang pihak mana pun menggunakan wilayah mereka untuk tindakan militer terhadap Iran.
Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, berencana terbang ke Turki pada Jumat (30/1). Kunjungan ini sangat krusial.
Sumber Kementerian Luar Negeri Turki menyebutkan bahwa Menlu Hakan Fidan akan menekankan posisi Ankara. Turki mengikuti perkembangan di Iran dengan cermat dan menegaskan bahwa keamanan, perdamaian, dan stabilitas Iran sangat penting bagi Ankara. Harapannya, dialog ini dapat menjadi rem darurat bagi eskalasi yang kian tak terkendali.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















