TEHERAN/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Eskalasi kata-kata dan pergerakan militer antara Iran dan Amerika Serikat mencapai titik didih baru pada hari Rabu (28/1). Pemerintah Iran secara tegas menutup pintu negosiasi dengan Washington selama ancaman aksi militer masih membayangi.
Penolakan ini merupakan respons langsung terhadap retorika agresif Presiden AS Donald Trump yang baru saja mengumumkan pengerahan kekuatan angkatan laut tambahan ke Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan posisi negaranya melalui kantor berita negara IRNA.
“Tidak mungkin ada negosiasi dalam suasana ancaman,” tegas Araghchi. “Melakukan diplomasi melalui tekanan militer tidak efektif dan tidak berguna. Jika mereka menginginkan negosiasi, mereka harus meninggalkan ancaman, tuntutan berlebihan, dan masalah yang tidak logis.”
“Jari di Pelatuk”
Melalui platform X, Araghchi memperjelas sikap Teheran. Meskipun Iran menyambut baik kesepakatan baru terkait program nuklirnya, mereka tidak akan ragu merespons operasi militer AS dengan kekuatan penuh.
“Angkatan Bersenjata kami yang berani sudah siap – dengan jari mereka di pelatuk,” tulis diplomat top Iran tersebut.
Trump: Armada Masif dan Tenggat Waktu
Di Washington, Donald Trump tidak mengendurkan tekanan. Melalui platform Truth Social, ia mendesak Teheran untuk segera kembali ke meja perundingan nuklir, sembari memberikan peringatan keras tentang kekuatan militer yang sedang bergerak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebuah armada masif sedang menuju Iran,” tulis Trump.
Ia sesumbar bahwa kekuatan ini akan lebih besar daripada yang sebelumnya dikerahkan di dekat Venezuela dan siap bertindak jika diperlukan.
“Semoga Iran segera datang ke meja perundingan dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara – TIDAK ADA SENJATA NUKLIR,” tambahnya dengan huruf kapital. “Waktu hampir habis.”
Trump memperingatkan bahwa serangan AS di masa depan akan “jauh lebih buruk” daripada tindakan militer sebelumnya jika kesepakatan tidak tercapai.
USS Abraham Lincoln Sudah di Posisi
Ancaman Trump bukan sekadar gertakan kosong. Amerika Serikat telah mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak peluru kendali pendampingnya ke wilayah tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Senin mengonfirmasi bahwa kelompok tempur yang dipimpin kapal induk tersebut telah mengambil posisi di perairan Timur Tengah, meskipun mereka merahasiakan lokasi tepatnya.
Postur militer yang meningkat ini terjadi sekitar satu bulan setelah protes meletus di seluruh Iran. Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Sejak saat itu, Trump terus mengirimkan sinyal campuran: di satu sisi menyerukan negosiasi, namun di sisi lain menolak untuk mengesampingkan intervensi militer.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















