Suara Global South: Perang AS-Israel di Iran Dikecam Sebagai Agresi Ilegal dan Imperialis

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kecaman internasional menghantam Washington dan Tel Aviv menyusul eskalasi militer besar-besaran di Iran. Sebagian besar negara di belahan bumi selatan (Global South) melabeli perang ini sebagai aksi ilegal yang mengabaikan kedaulatan bangsa.

Tiongkok secara tegas menyatakan bahwa pembunuhan terhadap pemimpin negara berdaulat merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat petugas terima. Penolakan ini mencerminkan sentimen luas bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak memberikan kesempatan bagi jalur perundingan nuklir untuk membuahkan hasil sebelum meluncurkan bombardir udara.

Kecaman dari Pakistan hingga Afrika Selatan

Pemimpin negara-negara berkembang menyuarakan keberatan mereka melalui landasan hukum internasional. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan belasungkawa atas kematian Ayatollah Ali Khamenei sembari mengingatkan bahwa hukum internasional melarang penargetan kepala negara secara sengaja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senada dengan itu, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mempertanyakan pembenaran “serangan pre-emptif” yang AS gunakan sebagai alasan perang. Ramaphosa menegaskan bahwa hak bela diri hanya petugas izinkan sebagai respon atas invasi bersenjata yang nyata. “Masalah politik yang mendasar tidak akan pernah memiliki solusi militer,” tegasnya guna mendorong penghentian segera aksi kekerasan tersebut.

Baca Juga :  Diplomasi Asia Tengah: Wang Yi Desak Rekonsiliasi Damai Afghanistan-Pakistan

Posisi Indonesia dan Gejolak Domestik

Indonesia, sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara, menyatakan “penyesalan mendalam” atas kegagalan negosiasi Iran. Meskipun Jakarta sempat berkomitmen mengirimkan pasukan untuk Board of Peace di Gaza, agresi terbaru ini memicu tekanan politik di dalam negeri.

Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah untuk menarik diri dari dewan perdamaian bentukan Trump sebagai bentuk protes. Presiden Indonesia bahkan menawarkan diri untuk melakukan perjalanan ke Teheran guna membuka kembali saluran dialog yang sempat terputus. Langkah ini menunjukkan keinginan Indonesia untuk tetap menjadi penengah yang aktif di tengah polarisasi kekuasaan global.

Analisis Pakar: Standar Ganda dan Imperialisme Baru

Para analis politik internasional melihat konflik ini dalam konteks sejarah panjang upaya penggulingan rezim di Irak dan Libya. Profesor Siphamandla Zondi dari University of Johannesburg menilai perang ini memiliki motif imperialis yang bertujuan untuk dominasi dan subordinasi.

Baca Juga :  Apakah Energi Bersih Akhirnya Menjadi Kenyataan?

Selain itu, muncul kritik tajam mengenai standar ganda Eropa. “Eropa membela hukum internasional dengan gigih saat Trump mencoba menganeksasi Greenland, namun mereka justru terdiam melihat kehancuran di Iran,” ungkap salah satu pengamat. Amitav Acharya, pakar tata kelola global, mencatat pergeseran perilaku AS yang kini sepenuhnya mengandalkan paksaan ketimbang legitimasi. Kondisi ini petugas nilai akan mempercepat migrasi negara-negara Global South untuk mencari koalisi alternatif, termasuk mendekat ke arah pengaruh ekonomi Tiongkok dan Rusia.

Pada akhirnya, tindakan sepihak administrasi Trump yang mengabaikan persetujuan Dewan Keamanan PBB serta suara perwakilan terpilih di dalam negerinya sendiri, menciptakan preseden berbahaya. Dunia kini menghadapi pengikisan sistematis terhadap hukum internasional yang selama ini menjadi tameng bagi negara-negara yang secara militer lemah namun kaya akan sumber daya alam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Berita Terbaru

Tandukan dramatis Daichi Kamada pada menit-menit akhir menyelamatkan Jepang dari kekalahan saat menghadapi Belanda pada laga pembuka Piala Dunia. Dok: (AP Photo/Julio Cortez)

SPORT

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Senin, 15 Jun 2026 - 08:35 WIB