Jika Perpustakaan Aleksandria Selamat: Seberapa Maju Peradaban Kita Hari Ini?

Selasa, 2 Desember 2025 - 06:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mesin uap di era Romawi? Andai Perpustakaan Aleksandria tidak hancur, kita mungkin sudah mendarat di Mars seribu tahun lalu. Simak analisis sejarah alternatif ini. Dok: Istimewa.

Mesin uap di era Romawi? Andai Perpustakaan Aleksandria tidak hancur, kita mungkin sudah mendarat di Mars seribu tahun lalu. Simak analisis sejarah alternatif ini. Dok: Istimewa.

Bayangkan sebuah dunia di mana kita sudah mendarat di Bulan pada tahun 1500 Masehi. Atau, bayangkan internet sudah ada sejak zaman Renaisans.

Skenario ini terdengar seperti fiksi ilmiah gila. Namun, beberapa sejarawan percaya bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi. Syaratnya hanya satu: Perpustakaan Agung Aleksandria harus selamat dari kehancuran.

Perpustakaan ini berdiri megah di Mesir kuno sebagai mercusuar ilmu pengetahuan. Sayangnya, hilangnya institusi ini sering dianggap sebagai kemunduran terbesar dalam sejarah intelektual manusia. Kita seolah menekan tombol reset dan kembali ke kegelapan selama berabad-abad.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gudang Ilmu Tanpa Batas

Perpustakaan Aleksandria bukan sekadar tempat meminjam buku. Justru, tempat ini adalah universitas riset pertama di dunia. Para penguasa Ptolemeus memiliki ambisi gila untuk mengumpulkan semua pengetahuan di muka bumi.

Mereka mengirim agen ke seluruh penjuru dunia untuk memborong naskah. Bahkan, setiap kapal yang berlabuh di Aleksandria wajib menyerahkan buku mereka untuk disalin.

Hasilnya, koleksi perpustakaan ini sangat mencengangkan. Rak-raknya menyimpan ratusan ribu gulungan papirus. Isinya mencakup matematika rumit, astronomi presisi, kedokteran bedah, hingga sastra epik.

Baca Juga :  Legislatif Setujui Pemakzulan Lai Ching-te, Petisi Online Tembus 8 Juta

Tokoh-tokoh besar bekerja di sini. Eratosthenes berhasil mengukur keliling bumi dengan akurat. Sementara itu, Aristarchus sudah mengajukan teori bahwa bumi mengelilingi matahari (heliosentris), jauh sebelum Copernicus lahir.

Bukan Cuma Satu Api

Misteri terbesar terletak pada bagaimana perpustakaan ini hancur. Budaya populer sering menyalahkan satu kebakaran besar sebagai penyebab tunggal. Padahal, realitas sejarah jauh lebih rumit dan menyedihkan.

Penghancuran terjadi secara bertahap selama beratus-ratus tahun. Awalnya, Julius Caesar tidak sengaja membakar sebagian gudang pelabuhan saat berperang pada 48 SM. Api tersebut merambat dan menghanguskan ribuan naskah.

Kemudian, kaisar-kaisar Romawi selanjutnya memotong anggaran perawatan. Akibatnya, institusi ini mulai terbengkalai.

Pukulan telak datang kemudian dari fanatisme agama. Theophilus, Patriark Aleksandria, memerintahkan penghancuran kuil-kuil pagan, termasuk sisa-sisa perpustakaan pada tahun 391 M. Akhirnya, invasi pasukan Arab pada abad ke-7 menutup lembaran sejarah tempat legendaris ini selamanya.

Revolusi Industri yang Tertunda?

Mari kita bermain dengan imajinasi sejarah atau counterfactual history. Apa yang terjadi jika semua ilmu itu selamat?

Carl Sagan, astronom ternama, pernah berspekulasi tentang hal ini. Ia menyoroti penemuan Hero of Alexandria berupa mesin uap sederhana bernama aeolipile. Saat itu, orang hanya menganggapnya sebagai mainan unik.

Baca Juga :  Viral Dugaan Asusila di Taksi Online Cipulir, Gojek Blokir Permanen Akun Penumpang

Andai catatan Hero selamat dan ilmuwan lain mengembangkannya, Revolusi Industri bisa saja terjadi 1.000 tahun lebih cepat. Kita tidak perlu menunggu James Watt di abad ke-18.

Bangsa Romawi atau Yunani mungkin sudah memiliki kereta api uap. Lantas, kemajuan kedokteran akan mencegah wabah penyakit mematikan seperti Black Death. Matematika kalkulus mungkin sudah rampung jauh sebelum Newton lahir.

Oleh karena itu, peradaban kita hari ini mungkin setara dengan peradaban tahun 3000 Masehi dalam garis waktu alternatif tersebut.

Rapuhnya Pengetahuan Manusia

Pada akhirnya, kisah Perpustakaan Aleksandria adalah peringatan keras. Pengetahuan manusia ternyata sangat rapuh.

Kita pernah memiliki segalanya, lalu kehilangan hampir semuanya. Zaman Kegelapan (Dark Ages) di Eropa membuktikan betapa sulitnya membangun kembali peradaban yang runtuh.

Hari ini, kita menyimpan pengetahuan di server digital atau cloud. Kita merasa aman. Akan tetapi, kita harus tetap waspada. Jangan sampai ketidaktahuan, perang, atau fanatisme kembali membakar “perpustakaan” masa depan kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB