Bayangkan sebuah dunia di mana kita sudah mendarat di Bulan pada tahun 1500 Masehi. Atau, bayangkan internet sudah ada sejak zaman Renaisans.
Skenario ini terdengar seperti fiksi ilmiah gila. Namun, beberapa sejarawan percaya bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi. Syaratnya hanya satu: Perpustakaan Agung Aleksandria harus selamat dari kehancuran.
Perpustakaan ini berdiri megah di Mesir kuno sebagai mercusuar ilmu pengetahuan. Sayangnya, hilangnya institusi ini sering dianggap sebagai kemunduran terbesar dalam sejarah intelektual manusia. Kita seolah menekan tombol reset dan kembali ke kegelapan selama berabad-abad.
Gudang Ilmu Tanpa Batas
Perpustakaan Aleksandria bukan sekadar tempat meminjam buku. Justru, tempat ini adalah universitas riset pertama di dunia. Para penguasa Ptolemeus memiliki ambisi gila untuk mengumpulkan semua pengetahuan di muka bumi.
Mereka mengirim agen ke seluruh penjuru dunia untuk memborong naskah. Bahkan, setiap kapal yang berlabuh di Aleksandria wajib menyerahkan buku mereka untuk disalin.
Hasilnya, koleksi perpustakaan ini sangat mencengangkan. Rak-raknya menyimpan ratusan ribu gulungan papirus. Isinya mencakup matematika rumit, astronomi presisi, kedokteran bedah, hingga sastra epik.
Tokoh-tokoh besar bekerja di sini. Eratosthenes berhasil mengukur keliling bumi dengan akurat. Sementara itu, Aristarchus sudah mengajukan teori bahwa bumi mengelilingi matahari (heliosentris), jauh sebelum Copernicus lahir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan Cuma Satu Api
Misteri terbesar terletak pada bagaimana perpustakaan ini hancur. Budaya populer sering menyalahkan satu kebakaran besar sebagai penyebab tunggal. Padahal, realitas sejarah jauh lebih rumit dan menyedihkan.
Penghancuran terjadi secara bertahap selama beratus-ratus tahun. Awalnya, Julius Caesar tidak sengaja membakar sebagian gudang pelabuhan saat berperang pada 48 SM. Api tersebut merambat dan menghanguskan ribuan naskah.
Kemudian, kaisar-kaisar Romawi selanjutnya memotong anggaran perawatan. Akibatnya, institusi ini mulai terbengkalai.
Pukulan telak datang kemudian dari fanatisme agama. Theophilus, Patriark Aleksandria, memerintahkan penghancuran kuil-kuil pagan, termasuk sisa-sisa perpustakaan pada tahun 391 M. Akhirnya, invasi pasukan Arab pada abad ke-7 menutup lembaran sejarah tempat legendaris ini selamanya.
Revolusi Industri yang Tertunda?
Mari kita bermain dengan imajinasi sejarah atau counterfactual history. Apa yang terjadi jika semua ilmu itu selamat?
Carl Sagan, astronom ternama, pernah berspekulasi tentang hal ini. Ia menyoroti penemuan Hero of Alexandria berupa mesin uap sederhana bernama aeolipile. Saat itu, orang hanya menganggapnya sebagai mainan unik.
Andai catatan Hero selamat dan ilmuwan lain mengembangkannya, Revolusi Industri bisa saja terjadi 1.000 tahun lebih cepat. Kita tidak perlu menunggu James Watt di abad ke-18.
Bangsa Romawi atau Yunani mungkin sudah memiliki kereta api uap. Lantas, kemajuan kedokteran akan mencegah wabah penyakit mematikan seperti Black Death. Matematika kalkulus mungkin sudah rampung jauh sebelum Newton lahir.
Oleh karena itu, peradaban kita hari ini mungkin setara dengan peradaban tahun 3000 Masehi dalam garis waktu alternatif tersebut.
Rapuhnya Pengetahuan Manusia
Pada akhirnya, kisah Perpustakaan Aleksandria adalah peringatan keras. Pengetahuan manusia ternyata sangat rapuh.
Kita pernah memiliki segalanya, lalu kehilangan hampir semuanya. Zaman Kegelapan (Dark Ages) di Eropa membuktikan betapa sulitnya membangun kembali peradaban yang runtuh.
Hari ini, kita menyimpan pengetahuan di server digital atau cloud. Kita merasa aman. Akan tetapi, kita harus tetap waspada. Jangan sampai ketidaktahuan, perang, atau fanatisme kembali membakar “perpustakaan” masa depan kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















