Koral Bernilai $375 Miliar, Tapi Sekarat di Tangan Manusia

Minggu, 11 Januari 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Meliputi kurang dari 0,1% lautan, namun menopang 25% kehidupan laut. Terumbu karang adalah mesin ekonomi global yang kini terancam bom ikan dan pemanasan global. Dok: Istimewa.

Meliputi kurang dari 0,1% lautan, namun menopang 25% kehidupan laut. Terumbu karang adalah mesin ekonomi global yang kini terancam bom ikan dan pemanasan global. Dok: Istimewa.

CAIRNS, POSNEWS.CO.ID – Di bawah permukaan ombak, tersembunyi struktur megah yang terbuat dari kalsium karbonat. Ini bukan batu mati, melainkan koloni hewan hidup kecil bernama polip. Meskipun hanya menutupi kurang dari 0,1 persen permukaan laut—kira-kira setengah luas Prancis—terumbu karang menopang kehidupan yang tak sebanding dengan ukurannya.

Sering mendapat julukan “hutan hujan laut”, ekosistem ini menjadi rumah bagi 25 persen dari seluruh spesies laut. Paradoksnya, terumbu karang justru tumbuh subur di perairan tropis yang miskin nutrisi. Wilayah Indo-Pasifik menjadi rajanya, menyumbang hampir 92 persen dari total luas karang dunia.

Namun, kekayaan hayati ini menyimpan nilai ekonomi yang mencengangkan. Estimasi global menempatkan nilai terumbu karang pada angka $375 miliar per tahun, mencakup pariwisata, perikanan, hingga pelindung pantai dari hantaman ombak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih Berharga Hidup daripada Mati

Di wilayah biodiversitas tinggi seperti Indonesia dan Karibia, hitungan ekonominya berubah drastis. Ternyata, terumbu karang bernilai jauh lebih tinggi sebagai objek wisata daripada sekadar tempat penangkapan ikan.

Baca Juga :  Pra-Pemesanan GTA VI Kabarnya Tembus US$1 Miliar

Estimasi menunjukkan nilai karang di kawasan wisata mencapai US$1 juta per kilometer persegi. **Sementara itu**, studi di Great Barrier Reef, Australia, menemukan bahwa karang sebagai ekosistem utuh menyumbang AU$4,3 miliar bagi ekonomi negara lewat pariwisata.

PBB mencatat bahwa sekitar 30 juta nelayan skala kecil di negara berkembang bergantung pada karang. Misalnya di Filipina, lebih dari satu juta nelayan menggantungkan hidupnya di sana.

Perbandingannya sangat kontras: ikan untuk akuarium bisa berharga $500 per kilogram, sedangkan ikan untuk konsumsi hanya dihargai $6.

Racun Sianida dan Bom Ikan

Sayangnya, “mesin uang” alami ini sedang sekarat. Secara global, sekitar 10 persen terumbu karang dunia telah mati, dan 60 persen lainnya terancam punah. Ancaman terbesar justru datang dari aktivitas manusia yang destruktif.

Praktik penangkapan ikan dengan sianida menjadi sorotan kelam. Nelayan menyelam dan menyemprotkan racun ke celah-celah karang untuk membius ikan hias atau ikan konsumsi segar yang diminati restoran Asia. Akibatnya, ikan pingsan mudah tertangkap, tetapi karang di sekitarnya mati keracunan.

Lebih parah lagi, penggunaan bahan peledak atau blast fishing menghancurkan struktur fisik karang dalam sekejap. Teknik memukul-mukul karang (muro-ami) juga merusak habitat yang butuh ratusan tahun untuk tumbuh.

Baca Juga :  Selandia Baru dan AC Alami: Beruntung Secara Geografis

Wisatawan: Teman atau Lawan?

Industri pariwisata pun bermata dua. Resor yang membuang limbah langsung ke laut dan tangki septik yang bocor menyumbang degradasi serius.

Selain itu, perilaku wisatawan yang ceroboh—seperti menginjak karang, menendang sedimen, atau menjatuhkan jangkar kapal sembarangan—ikut mempercepat kehancuran.

Ancaman lokal ini diperparah oleh krisis global: kenaikan suhu laut dan pengasaman samudra (ocean acidification) akibat emisi gas rumah kaca. Di Asia Tenggara, tingkat ancaman ini mencapai titik kritis di mana 80 persen terumbu karang kini dalam status bahaya.

Harapan dari Kearifan Lokal

Di tengah suramnya data, secercah harapan muncul dari kearifan tradisional. Penduduk Pulau Ahus di Papua Nugini, misalnya, mempraktikkan pembatasan penangkapan ikan secara turun-temurun di enam area laguna mereka.

Mereka melarang jaring dan tombak, hanya mengizinkan pancing tali. Hasilnya, biomassa dan ukuran ikan di area tersebut jauh lebih besar daripada di tempat yang bebas eksploitasi.

Sains dan tradisi kini berlomba dengan waktu. Jika kita gagal melindungi benteng alami ini, kita tidak hanya kehilangan keindahan bawah laut, tetapi juga perlindungan pantai dan sumber protein bagi jutaan manusia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Sony bayar $50.000 untuk laporan celah hypervisor PS5. Langkah peneliti independen ini memicu kemarahan komunitas dan menghentikan proyek PS5 Linux. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Sony Bayar Hadiah 50 Ribu Dolar AS untuk Celah PS5 Jailbreak

Sabtu, 31 Okt 2026 - 11:53 WIB

Valve tambahkan dukungan drive CD optik ke kernel Steam Frame VR hanya dalam 10 menit usai respons permintaan pengguna. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Dengarkan Komunitas, Valve Tambahkan CD Drive Eksternal

Sabtu, 31 Okt 2026 - 10:49 WIB

Pentagon menuduh Letjen Brett Sylvia membocorkan rahasia Perang Iran usai dipecat Menhan Pete Hegseth. Simak hasil uji poligraf. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:44 WIB

Aktor legendaris Sir Patrick Stewart meninggal dunia pada usia 86 tahun. Simak riwayat karier pemeran Kapten Picard dan Profesor X tersebut. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Aktor Legendaris Sir Patrick Stewart Meninggal Dunia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 08:40 WIB