Interdependensi Kompleks: Kekuatan Militer Tak Lagi Jadi Solusi Tunggal?

Minggu, 21 Desember 2025 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, panggung politik dunia didominasi oleh satu hukum rimba: siapa yang memiliki tentara terkuat, dialah yang berkuasa. Kaum Realis percaya bahwa negara selalu dalam kondisi siap perang.

Namun, pada akhir 1970-an, dua pemikir besar bernama Robert Keohane dan Joseph Nye menantang pandangan kuno tersebut. Mereka memperkenalkan konsep revolusioner yang disebut “Interdependensi Kompleks”.

Teori ini mengajarkan bahwa di dunia modern, negara tidak lagi berdiri sendiri seperti bola biliar yang saling bertabrakan. Sebaliknya, negara terikat dalam jaring laba-laba hubungan yang rumit dan saling tumpang tindih. Akibatnya, menggunakan otot militer bukan lagi solusi cerdas untuk memenangkan persaingan.

Ribuan Saluran, Satu Tujuan

Karakteristik utama dari dunia baru ini adalah keberadaan “banyak saluran”. Hubungan antarnegara tidak lagi hanya terjadi lewat telepon merah antara presiden atau diplomat.

Faktanya, interaksi global kini melibatkan aktor non-negara. Perusahaan multinasional, bank, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga turis saling terhubung setiap detik.

Baca Juga :  Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Selain itu, tidak ada lagi hierarki isu yang kaku. Dulu, isu militer (High Politics) selalu dianggap lebih penting daripada isu ekonomi (Low Politics).

Kini, batas itu telah kabur. Krisis mata uang atau sengketa dagang bisa mengguncang keamanan negara sama kerasnya dengan ancaman invasi militer.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Perang Besar Jadi Tidak Rasional?

Interdependensi ini menciptakan semacam jaminan keamanan yang unik. Mari kita lihat hubungan Amerika Serikat (AS) dan China. Keduanya memiliki militer raksasa dan sering bersitegang.

Akan tetapi, perang fisik terbuka antara keduanya sangat kecil kemungkinannya terjadi. Alasannya sangat pragmatis: biaya perangnya terlalu mahal dan tidak masuk akal.

Ekonomi kedua negara saling terkunci. Pabrik China butuh pasar Amerika, sedangkan konsumen Amerika butuh barang murah China. Jika satu pihak menembakkan rudal, mereka sama saja dengan menembak kaki sendiri.

Baca Juga :  Mengapa Narasi Musuh Bersama Masih Laku di Politik Luar Negeri?

Kehancuran ekonomi lawan berarti kehancuran ekonomi sendiri. Saling ketergantungan ini membuat perang menjadi opsi bunuh diri ekonomi (economic suicide).

Era “Smart Power”

Lantas, jika perang bukan solusi, bagaimana cara negara bersaing? Pertarungan bergeser ke ranah Smart Power.

Negara berlomba menguasai teknologi canggih, mendominasi sistem keuangan global, dan menyusun aturan hukum internasional. Menguasai paten chip semikonduktor atau mengendalikan jalur serat optik kini lebih strategis daripada menduduki wilayah teritorial.

“Decoupling” yang Menyakitkan

Pada akhirnya, kita melihat betapa sulitnya negara-negara untuk memisahkan diri atau melakukan decoupling. Memutus hubungan dagang dengan rival ternyata jauh lebih menyakitkan daripada bernegosiasi di meja runding.

Interdependensi Kompleks memaksa musuh untuk tetap bekerja sama. Maka, di abad ke-21 ini, pemenangnya bukanlah negara yang paling jago berperang, melainkan negara yang paling pandai menjalin koneksi dan mengelola ketergantungan orang lain terhadap dirinya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terbaru

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB