Krisis Demografi Jepang: Angka Kelahiran 2025 Sentuh Titik Terendah dalam 126 Tahun

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Runtuhnya imperium kontroversial. Pengadilan Tinggi Tokyo resmi mengesahkan perintah pembubaran Gereja Unifikasi, mencabut hak istimewa pajak dan memulai proses likuidasi aset guna mengganti rugi ribuan korban donasi paksa. Dok: Istimewa.

Runtuhnya imperium kontroversial. Pengadilan Tinggi Tokyo resmi mengesahkan perintah pembubaran Gereja Unifikasi, mencabut hak istimewa pajak dan memulai proses likuidasi aset guna mengganti rugi ribuan korban donasi paksa. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Jepang kembali menghadapi tantangan demografi yang sangat berat. Kementerian Kesehatan merilis data terbaru pada Kamis yang menunjukkan angka kelahiran tahun 2025 mencapai titik terendah dalam 126 tahun terakhir.

Jumlah bayi lahir, termasuk dari penduduk asing, hanya menyentuh angka 705.809 jiwa. Oleh karena itu, pencapaian negatif ini menandai rekor terendah selama sepuluh tahun berturut-turut bagi Negeri Matahari Terbit tersebut.

Inflasi dan Kecemasan Pengasuhan Anak

Penurunan sebesar 2,1 persen ini terjadi di tengah fenomena penuaan populasi yang sangat cepat. Para ahli mengidentifikasi peningkatan kecemasan warga terhadap pengasuhan anak sebagai penyebab utama.

Pasalnya, inflasi yang terus berlanjut telah meningkatkan biaya hidup secara signifikan. Hal ini membuat banyak pasangan merasa tidak mampu secara finansial untuk memiliki anak. Meskipun demikian, laju penurunan tahun ini sebenarnya sedikit melambat jika petugas bandingkan dengan tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Rekap State of the Union: Trump Klaim Kemenangan Ekonomi

Pergeseran Prioritas dan Pernikahan Terlambat

Selain kendala ekonomi, perubahan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan pribadi turut memperkeruh situasi. Semakin banyak warga Jepang yang memilih untuk menikah di usia yang lebih tua.

Bahkan, sebagian besar individu kini memutuskan untuk tidak menikah sama sekali. Alhasil, pergeseran prioritas hidup ini secara langsung memengaruhi jumlah kelahiran nasional. Para pakar menekankan bahwa tren sosial ini sulit untuk pemerintah balikkan hanya melalui kebijakan insentif finansial semata.

Penurunan Alami Mencapai Rekor Tertinggi

Kondisi populasi Jepang saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan mencatat angka penurunan alami populasi yang sangat fantastis.

Baca Juga :  Operasi Lilin 2025 Dimatangkan, Polri Prediksi Lonjakan 8,83 Juta Pemudik Nataru 2026

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, selisih antara angka kematian dan kelahiran mencapai rekor tertinggi sebesar 899.845 jiwa. Padahal, lembaga riset nasional sebelumnya memprediksi angka kelahiran tidak akan turun di bawah 710.000 hingga tahun 2042 mendatang. Namun, kenyataan di lapangan membuktikan bahwa krisis demografi ini datang belasan tahun lebih cepat dari perkiraan semula. Melalui data ini, pemerintah Jepang kini menghadapi tekanan besar untuk merancang strategi kependudukan yang lebih radikal guna menjaga keberlangsungan bangsa di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia
Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta
Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik
Mudik Lebaran 2026, Kapolda Metro Jaya Pastikan 1.647 Titik Pengamanan Siap
Strategi Tanpa Arah: Membedah Kekacauan Politik di Balik Serangan Militer AS ke Iran

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:04 WIB

Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:55 WIB

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:09 WIB

Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:13 WIB

Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:56 WIB

Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta

Berita Terbaru