WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengambil sikap tegas untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil. Keputusan ini muncul saat perang di Iran terus mendorong kenaikan harga energi dan mempersulit prospek inflasi domestik.
Dalam konferensi pers terakhirnya sebagai Ketua Fed, Jerome Powell juga mengumumkan keputusan krusial bagi masa depan institusi tersebut. Ia menyatakan akan tetap menjadi anggota dewan gubernur untuk “jangka waktu tertentu” setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei mendatang. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk membentengi The Fed dari intervensi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Melindungi Independensi dari “Serangan Hukum”
Jerome Powell menjelaskan bahwa keputusannya untuk tetap berada di dewan gubernur didorong oleh kekhawatiran atas rentetan “serangan hukum” dari pemerintahan Trump. Ia menyebut serangan tersebut sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah bank sentral.
“Saya khawatir serangan-serangan ini merusak institusi dan membahayakan hal yang benar-benar penting bagi publik, yaitu kemampuan untuk menjalankan kebijakan moneter tanpa mempertimbangkan faktor politik,” tegas Powell. Salah satu serangan yang ia maksud adalah penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ) terhadap dirinya terkait biaya renovasi markas besar Fed, yang baru-baru ini dihentikan namun dianggap sebagai ancaman terhadap independensi moneter.
Suku Bunga Bertahan di Tengah Badai Inflasi
Meskipun Trump terus mendesak penurunan biaya pinjaman, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mempertahankan suku bunga pada level 3,50-3,75 persen. Level ini telah bertahan sejak Desember lalu. Bank sentral menilai inflasi masih tinggi, sebagian besar mencerminkan kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Data terbaru menunjukkan harga konsumen melonjak 3,3 persen pada bulan Maret dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini naik hampir satu poin persentase dari Februari, mencapai level tertinggi sejak Mei 2024. Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak Februari lalu telah memicu lonjakan harga minyak dan ketidakpastian ekonomi yang mendalam.
Perpecahan di Internal The Fed
Keputusan suku bunga kali ini tidak diambil secara bulat. Stephen Miran, sekutu Trump yang bergabung dengan dewan tahun lalu, kembali menyerukan penurunan suku bunga sebesar seperempat poin. Secara keseluruhan, empat anggota FOMC menunjukkan ketidaksepakatan dalam berbagai poin pernyataan, menandakan perpecahan terdalam di internal bank sentral sejak Oktober 1992.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perpecahan ini terjadi saat estafet kepemimpinan sedang dipersiapkan. Kevin Warsh, mantan gubernur Fed yang dicalonkan Trump, baru saja melewati rintangan besar di Komite Perbankan Senat dengan dukungan penuh dari faksi Republik. Warsh diproyeksikan akan menggantikan Powell sebagai ketua pada pertengahan Mei mendatang.
Implikasi Politik dan Ekonomi: Menghadang Penunjukan Baru
Keputusan Powell untuk tetap berada di dewan hingga Januari 2028 memiliki signifikansi politik yang besar. Dengan tetap menjabat sebagai gubernur, ia mencegah Presiden Trump untuk segera menunjuk anggota dewan baru yang selaras dengan kebijakan ekonominya. Hal ini memastikan bahwa tiga orang pilihan Trump di dewan tetap menjadi minoritas untuk saat ini.
Powell berjanji akan menjaga profil rendah sebagai gubernur dan tidak akan mencampuri kepemimpinan ketua Fed yang baru. Namun, keberadaannya di dewan dipastikan akan memengaruhi lintasan kebijakan moneter AS, terutama dalam menyeimbangkan antara tuntutan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi di tahun 2026 yang penuh gejolak ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















