Trump Sebut Iran dalam Kondisi Runtuh Saat Harga Minyak Melambung

Rabu, 29 April 2026 - 17:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah kembali memudar. Presiden Donald Trump secara resmi menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Ia beralasan bahwa isu nuklir harus menjadi prioritas utama sejak awal perundingan.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengeklaim bahwa Teheran melaporkan kondisi “Status Runtuh” (State of Collapse) kepada Amerika Serikat. “Mereka ingin kita segera membuka Selat Hormuz. Saat ini mereka sedang mencoba membereskan situasi kepemimpinan mereka,” tulis Trump. Hingga saat ini, pihak Teheran belum memberikan respons resmi terhadap klaim sepihak presiden AS tersebut.

Krisis Kepemimpinan: Dominasi Garda Revolusi

Berbagai laporan menunjukkan gejolak hebat di dalam Iran. Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang memicu pergeseran kekuasaan. Pengangkatan putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi mempercepat proses tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Analis meyakini suksesi ini memberikan kekuatan lebih besar kepada komandan garis keras Garda Revolusi (IRGC). Hal ini memicu posisi tawar Iran yang semakin mengeras dalam perundingan. Teheran tetap menuntut penghentian perang dan jaminan keamanan sebelum membahas program nuklir. Pemerintahan Trump menolak mentah-mentah skema bertahap tersebut.

Baca Juga :  China dan Uruguay Perkuat Sinergi: Xi Jinping Dorong Kerja

Kelumpuhan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Blokade maritim di Selat Hormuz melumpuhkan jalur energi global secara drastis. Jalur ini biasanya melayani 140 kapal per hari, namun kini hanya tujuh kapal yang melintas. Saat ini, tidak ada satu pun kapal yang membawa minyak untuk pasar global. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak 2,8% menjadi sekitar $111,26 per barel pada hari Selasa.

Bank Dunia memperkirakan lonjakan harga energi hingga 24% pada tahun 2026. Hal ini akan terjadi jika gangguan akut akibat perang terus berlanjut hingga Mei. Pengumuman mengejutkan dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ semakin memperkeruh kondisi ini. Langkah tersebut menunjukkan keretakan mendalam di antara negara-negara Teluk dalam menangani konflik Iran.

Tekanan Domestik dan Sanksi Baru AS

Presiden Trump menghadapi tekanan politik yang signifikan di dalam negeri. Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Trump turun ke angka 34%. Angka ini merupakan level terendah dalam masa jabatannya saat ini. Masyarakat Amerika mulai jenuh dengan biaya hidup yang tinggi dan keterlibatan AS dalam perang yang tidak populer.

Baca Juga :  Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?

Sebagai balasan, AS memberlakukan sanksi terhadap 35 entitas dan individu pada hari Selasa. Pemerintah menuduh mereka berperan dalam “sistem perbankan bayangan” Iran. Sistem tersebut diduga memfasilitasi pergerakan puluhan miliar dolar untuk menghindari sanksi dan mendanai terorisme. Di sisi lain, juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa mereka mulai menggunakan koridor perdagangan alternatif di utara, timur, dan barat.

Diplomasi di Ambang Kegagalan

Masa depan stabilitas global kini berada dalam ketidakpastian ekstrem. Kritik terbuka Trump terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz memperuncing perselisihan dengan sekutu Eropa. Merz sebelumnya mempertanyakan strategi keluar (exit strategy) Washington di Iran.

Konflik ini akan menjerumuskan ekonomi dunia ke dalam resesi yang lebih dalam jika tidak ada kesepakatan nuklir. Masyarakat internasional kini menanti efektivitas sistem diplomasi jarak jauh melalui mediator Pakistan. Langkah ini menjadi krusial untuk memecahkan kebuntuan sebelum eskalasi militer semakin tidak terkendali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB