Perang Iran dan Sengketa Dagang Picu Gelombang Kebangkrutan Petani AS

Rabu, 15 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Piring yang kian kosong di lahan subur. Petani kedelai di Midwest Amerika Serikat menghadapi krisis eksistensial akibat lonjakan biaya pupuk pasca-perang Iran dan sisa luka perang dagang yang melumpuhkan ekspor ke Tiongkok tahun 2026. Dok: Istimewa.

Piring yang kian kosong di lahan subur. Petani kedelai di Midwest Amerika Serikat menghadapi krisis eksistensial akibat lonjakan biaya pupuk pasca-perang Iran dan sisa luka perang dagang yang melumpuhkan ekspor ke Tiongkok tahun 2026. Dok: Istimewa.

WAHOO, NEBRASKA – Angin kencang menerpa lahan seluas 2.000 hektar milik Doug Bartek. Petani generasi kelima ini bersiap menghadapi musim tanam dengan kecemasan mendalam. Bartek merasa “terpojok” oleh berbagai faktor ekonomi global di luar kendalinya.

Dalam konteks ini, masalah utama mencakup kenaikan harga bahan bakar, peralatan, dan pupuk. Kenaikan tersebut kian tidak terkendali. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi pedesaan Amerika Serikat kini berada dalam titik sangat rentan pada tahun 2026.

Dampak Perang Iran: Kelangkaan Pupuk dan Energi

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memicu krisis utama tahun ini. Penutupan Selat Hormuz melumpuhkan pengiriman pupuk nitrogen hasil produksi pabrik di Teluk Persia. Secara khusus, harga urea melonjak drastis karena hambatan pasokan dari Qatar dan Arab Saudi.

“Input kami, mulai dari pupuk hingga suku cadang, mengalami kenaikan harga drastis,” ujar Bartek. Ia juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kedelai Nebraska. Akibatnya, petani tanpa cadangan kas kesulitan menganggarkan biaya tanam yang membengkak. Gencatan senjata yang masih rapuh pun belum mampu memberikan kepastian.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Tangkap Kurir Narkoba 24,6 Kg Sabu di Apartemen Pluit

Luka Lama Perang Dagang dan Dominasi Brasil

Masalah petani kedelai berakar dari biaya produksi tinggi dan pendapatan yang rendah. Banjir pasokan global dari Brasil terus menekan harga kedelai dunia. Selain itu, kebijakan tarif pemerintah Donald Trump tahun 2025 memicu perang dagang berkepanjangan dengan Tiongkok.

Tiongkok memang berkomitmen membeli 25 juta metrik ton kedelai pada akhir 2025. Namun, kerusakan pada pasar ekspor sudah terlanjur terjadi. Ekspor kedelai AS kini berjalan 15% hingga 20% di bawah level normal. “Tiongkok mulai beralih ke Brasil dan Argentina,” tegas Joseph Glauber, mantan kepala ekonom Departemen Pertanian AS.

Krisis Likuiditas: Biaya Lahan dan Kebangkrutan

Tekanan ekonomi ini meningkatkan angka kebangkrutan pertanian di seluruh Midwest. Survei Purdue Center for Commercial Agriculture menunjukkan hampir setengah petani merasa kondisi keuangan mereka memburuk. Terlebih lagi, nilai sewa lahan yang terus naik menambah beban operasional yang sudah tinggi.

Baca Juga :  Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, banyak pemilik lahan di kota menaikkan harga sewa secara sepihak. Mereka sering tidak memahami kesulitan teknis di lapangan. Sebagai hasilnya, muncul fenomena “penjualan pensiun”. Banyak petani terpaksa melelang operasional mereka karena beban utang bank yang membengkak di tahun 2026.

Masa Depan yang Dipertaruhkan

Bagi Doug Bartek, bertani kini terasa seperti perjudian besar. Seseorang mempertaruhkan jutaan dolar ke dalam tanah demi imbal hasil yang tidak pasti. Ia mulai meragukan masa depan profesi ini, terutama bagi putranya yang baru membeli lahan sendiri.

Pada akhirnya, keberlangsungan agrikultur Amerika Serikat bergantung pada stabilitas logistik Selat Hormuz. Pemulihan hubungan dagang internasional juga menjadi syarat mutlak. Tanpa reformasi sistemik pada biaya input, kedaulatan pangan AS berisiko tergerus beban ekonomi global. Dunia kini menanti apakah bantuan federal sebesar $12 miliar mampu menyelamatkan “jantung” Amerika dari keruntuhan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Program Asta Cita, Polres Tanggamus Garap Lahan 1 Hektar untuk Bawang Putih
Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar dari Jual Tools Hacker
Begal Sadis Gunung Sahari Jakarta Pusat Viral, 4 Pelaku Todong Celurit Rampas Korban
Pramono Anung Lantik 11 Pejabat DKI Jakarta Secara Tertutup, Ini Daftar Lengkapnya
Tawuran Viral di Tamansari, Polisi Tangkap 3 Remaja, Satu Terbukti Pakai Sabu
Bareskrim Bongkar 21,9 Kg Sabu Jaringan Malaysia di Bengkalis, Nilai Hampir Rp40 Miliar
Amerika Serikat Resmi Blokade Selat Hormuz guna Tekan Harga Bensin dan Nuklir Iran
Michelle Park Steel Dinominasikan Sebagai Duta Besar AS

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 22:49 WIB

Program Asta Cita, Polres Tanggamus Garap Lahan 1 Hektar untuk Bawang Putih

Rabu, 15 April 2026 - 22:21 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar dari Jual Tools Hacker

Rabu, 15 April 2026 - 22:03 WIB

Begal Sadis Gunung Sahari Jakarta Pusat Viral, 4 Pelaku Todong Celurit Rampas Korban

Rabu, 15 April 2026 - 21:48 WIB

Pramono Anung Lantik 11 Pejabat DKI Jakarta Secara Tertutup, Ini Daftar Lengkapnya

Rabu, 15 April 2026 - 21:29 WIB

Tawuran Viral di Tamansari, Polisi Tangkap 3 Remaja, Satu Terbukti Pakai Sabu

Berita Terbaru