Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemberontakan pemilih di Kopenhagen. Perdana Menteri Mette Frederiksen menderita kekalahan pemilu terburuk dalam satu abad, namun ia tetap menjadi kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan koalisi baru Denmark. Dok: Wikipedia.

Pemberontakan pemilih di Kopenhagen. Perdana Menteri Mette Frederiksen menderita kekalahan pemilu terburuk dalam satu abad, namun ia tetap menjadi kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan koalisi baru Denmark. Dok: Wikipedia.

KOPENHAGEN, POSNEWS.CO.ID – Politik Denmark memasuki fase ketidakpastian yang panjang setelah hasil pemilihan umum pada hari Selasa memicu guncangan besar. Raja Frederik X menugaskan Perdana Menteri Mette Frederiksen untuk mengeksplorasi koalisi dengan dua partai sayap kiri guna membangun mayoritas parlemen.

Dalam konteks ini, tugas tersebut muncul setelah Frederiksen menyerahkan pengunduran diri kabinet sentrisnya menyusul kekalahan telak. Para analis menilai hasil pemilu ini sebagai bentuk “pemberontakan pemilih” terhadap kepemimpinan Frederiksen yang telah berjalan selama tujuh tahun.

Kekalahan Terburuk dalam Satu Abad

Partai Sosial Demokrat menderita kemerosotan dukungan yang sangat tajam. Mereka hanya memenangkan 38 kursi dari total 179 kursi di parlemen, turun signifikan dari 50 kursi pada periode sebelumnya. Meskipun demikian, partai ini tetap menjadi kekuatan terbesar di Parlemen Denmark.

Namun, sentimen publik menunjukkan kejenuhan terhadap janji-janji ekonomi pemerintah yang tidak ditepati. Kebijakan kontroversial seperti penghapusan hari libur umum, pemotongan pajak bagi penghuni berpenghasilan tinggi, serta usulan pajak kekayaan yang mendadak gagal menarik simpati massa. Akibatnya, isu domestik terkait kesejahteraan dan biaya hidup jauh melampaui dukungan yang Frederiksen peroleh dari sikap tegasnya melawan ambisi Donald Trump untuk membeli Greenland.

Baca Juga :  Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik

Kebangkitan Nasionalis dan Pergeseran Haluan

Pemilu tahun 2026 ini mencerminkan tren global di mana pemilih mulai meninggalkan partai-partai tengah. Partai-partai nasionalis sayap kanan berhasil meningkatkan pangsa suara mereka menjadi 17 persen. Selain itu, Partai Rakyat Denmark memanfaatkan kekhawatiran inflasi dengan menawarkan diskon bahan bakar langsung kepada para pengendara selama kampanye.

Meskipun kebijakan imigrasi ketat Frederiksen masih sejalan dengan sentimen publik, agenda ekonomi domestik menjadi faktor penentu utama. “Kehilangan ini lebih besar daripada sekadar konsekuensi dari beban memerintah,” ujar pakar politik Rune Stubager dari Universitas Aarhus. Oleh sebab itu, stabilitas ekonomi kini menjadi tuntutan utama rakyat Denmark di atas isu kedaulatan wilayah.

Lars Lokke Rasmussen: Sang Penentu Kemenangan

Lanskap politik yang terbelah membuat pembentukan pemerintahan tradisional menjadi mustahil. Blok kiri yang dipimpin Frederiksen mengamankan 84 kursi, sementara blok kanan meraih 77 kursi. Dengan demikian, kedua belah pihak masih kekurangan kursi untuk mencapai ambang batas mayoritas 90 kursi.

Partai Moderat, yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Lars Lokke Rasmussen, kini muncul sebagai “kingmaker” dengan perolehan 14 kursi. Terlebih lagi, dukungan Rasmussen akan menjadi syarat mutlak bagi Frederiksen jika ia ingin kembali menjabat untuk masa jabatan ketiga. Secara simultan, perpecahan muncul di internal koalisi lama karena Menteri Pertahanan Troels Lund Poulsen dari Partai Liberal menyatakan tidak lagi tertarik bekerja sama dengan Frederiksen.

Pesan Kolaborasi Lintas Blok

Masa depan pemerintahan Denmark kini bergantung pada kemampuan Frederiksen dalam melakukan negosiasi lintas ideologi. Pada akhirnya, paradoks pemilu ini menempatkan sosok yang “kalah besar” sebagai favorit utama untuk memimpin kembali.

“Pesan di sini adalah bahwa kita perlu bekerja sama,” tegas Frederiksen dalam debat publik pada hari Rabu. Perundingan koalisi ini diprediksi akan memakan waktu berminggu-minggu guna menyelaraskan kebijakan ekonomi yang sangat berbeda di antara partai-partai anggota parlemen. Dunia kini menanti apakah Denmark mampu membentuk pemerintahan yang stabil di tengah gelombang populisme dan krisis energi yang sedang melanda Eropa di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Israel Resmi Umumkan Pendudukan Lebanon Selatan sebagai Zona Keamanan
Pemkab Tangerang Siapkan WFH ASN, Hemat Energi Jadi Prioritas
KPK Ungkap 96 Ribu Pejabat Belum Lapor Harta, Kepatuhan LHKPN Baru 67,98 Persen
Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah
Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing
Andrie Yunus Korban Air Keras Jalani Operasi Berat, Mata Terancam Rusak
Ramai Hoax Beredar, Menteri Hak Asasi Manusia Pertimbangkan Lapor Polisi
Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:52 WIB

Israel Resmi Umumkan Pendudukan Lebanon Selatan sebagai Zona Keamanan

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:32 WIB

Pemkab Tangerang Siapkan WFH ASN, Hemat Energi Jadi Prioritas

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:17 WIB

KPK Ungkap 96 Ribu Pejabat Belum Lapor Harta, Kepatuhan LHKPN Baru 67,98 Persen

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:49 WIB

Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak

Kamis, 26 Maret 2026 - 13:46 WIB

Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

Berita Terbaru

Pemberontakan pemilih di Kopenhagen. Perdana Menteri Mette Frederiksen menderita kekalahan pemilu terburuk dalam satu abad, namun ia tetap menjadi kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan koalisi baru Denmark. Dok: Wikipedia.

INTERNASIONAL

Mette Frederiksen Cari Koalisi Baru di Tengah Kekalahan Telak

Kamis, 26 Mar 2026 - 14:49 WIB

Pilihan sulit bagi Kyiv. Presiden Donald Trump memberikan tawaran jaminan keamanan bagi Ukraina dengan syarat penyerahan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia, saat fokus Washington kini terbelah ke konflik Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

Kamis, 26 Mar 2026 - 13:46 WIB