Independensi Bank Sentral: Benteng Teknis atau Keputusan Politis?

Jumat, 7 November 2025 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Trinitas ekonomi dunia bersatu. Pimpinan IEA, IMF, dan Bank Dunia meluncurkan peringatan keras mengenai dampak perang AS-Israel melawan Iran. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Trinitas ekonomi dunia bersatu. Pimpinan IEA, IMF, dan Bank Dunia meluncurkan peringatan keras mengenai dampak perang AS-Israel melawan Iran. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Bank Sentral—baik itu Bank Indonesia, The Fed di AS, atau Bank Sentral Eropa—seringkali publik anggap sebagai lembaga teknokratik yang steril. Para gubernurnya adalah ekonom-ekonom ahli yang tugasnya hanya satu: menjaga stabilitas mata uang dan mengendalikan inflasi.

Ketika mereka memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan, dampaknya langsung terasa ke dompet kita: cicilan KPR dan kredit kendaraan melonjak. Tentu saja, ini adalah keputusan yang sangat tidak populer secara politik. Namun, mereka melakukannya atas nama “independensi”.

Tapi, seberapa independen-kah bank sentral itu? Dan apakah keputusan mereka benar-benar “teknis murni”?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjauh dari Politisi

Konsep Bank Sentral independen adalah gagasan yang relatif baru, yang kemudian menjadi populer dalam 40 tahun terakhir. Teorinya sederhana: kebijakan moneter (mengatur uang) harus kita pisahkan dari kebijakan fiskal (mengatur anggaran/pajak) yang pemerintah/politisi pegang.

Mengapa? Karena politisi memiliki siklus elektoral jangka pendek. Menjelang pemilu, politisi cenderung populis. Misalnya, mereka ingin membagi-bagi bansos, membangun proyek mercusuar, atau menurunkan pajak untuk menyenangkan pemilih. Cara termudah mendanai ini? “Mencetak uang”.

Baca Juga :  PBB Sebut Suhu Global Berpeluang Lewati Ambang Batas

Akibatnya, jika bank sentral berada di bawah kendali politisi, politisi akan memaksa mereka mencetak uang untuk membiayai defisit anggaran. Hasilnya bisa kita tebak: hiperinflasi, di mana nilai mata uang hancur lebur. Oleh karena itu, bank sentral harus independen—seperti hakim—agar bisa fokus pada mandat jangka panjangnya (melawan inflasi) tanpa tekanan politik harian.

Keputusan yang Memihak

Di sinilah letak masalahnya. Keputusan bank sentral untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga bukanlah keputusan teknis murni seperti yang sering kita kira. Sebaliknya, itu adalah keputusan politik yang sangat berdampak, yang secara inheren memilih pemenang dan pecundang dalam ekonomi.

  1. Saat Suku Bunga Dinaikkan:
    • Siapa yang Diuntungkan? Para penabung dan pemilik aset keuangan. Sebab, bunga deposito mereka naik dan nilai mata uang menguat.
    • Siapa yang Dirugikan? Rakyat kecil dan pebisnis. Pasalnya, cicilan KPR/kredit (peminjam) menjadi lebih mahal. Perusahaan enggan berekspansi (karena pinjaman mahal), sehingga lapangan kerja baru berkurang.
  2. Saat Suku Bunga Diturunkan:
    • Siapa yang Diuntungkan? Peminjam dan pebisnis. Cicilan lebih murah, ekonomi bergairah.
    • Siapa yang Dirugikan? Penabung (bunga deposito kecil) dan berisiko memicu inflasi, yang paling merugikan masyarakat berpenghasilan tetap.
Baca Juga :  Hujan Deras, Bekasi Lumpuh! Enam Kecamatan Terendam Banjir hingga 1,5 Meter

Sebagai contoh, ketika The Fed AS menaikkan suku bunga, mereka secara sadar “mendinginkan” pasar tenaga kerja—yang dalam bahasa awam berarti “menerima” akan ada lebih banyak pengangguran—demi menjinakkan inflasi. Jelas, itu adalah pilihan politik, bukan sekadar hitungan rumus.

Ilusi Ruang Steril

“Independensi” Bank Sentral seringkali hanya berarti independen dari politisi partai, tapi bukan berarti independen dari ideologi politik atau tekanan pasar keuangan.

Bankir sentral bukanlah dokter bedah di ruang operasi yang steril. Sebaliknya, mereka adalah arsitek yang membuat keputusan fundamental tentang siapa yang akan mendapat keuntungan dan siapa yang akan merugi akibat kebijakan moneter. Pada akhirnya, independensi mereka adalah ilusi yang nyaman, karena pada kenyataannya, mereka selalu berada di persimpangan antara tuntutan teknokratik yang dingin dan realitas politik yang panas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB

Pembelaan aturan digital anak. Pemerintah Australia mempertahankan kebijakan larangan media sosial anak di bawah 16 tahun meskipun delapan dari ten remaja masih aktif menggunakannya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agu 2026 - 07:00 WIB