Paus Leo Tutup Tur Afrika dengan Kecaman Ketimpangan Ekonomi

Jumat, 24 April 2026 - 07:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PPaus Leo mengakhiri tur Afrika di Guinea Khatulistiwa dengan mengunjungi penjara yang penuh tekanan dan mengecam ketimpangan. Dok: REUTERS/Guglielmo Mangiapane

PPaus Leo mengakhiri tur Afrika di Guinea Khatulistiwa dengan mengunjungi penjara yang penuh tekanan dan mengecam ketimpangan. Dok: REUTERS/Guglielmo Mangiapane

BATA, POSNEWS.CO.ID – Paus Leo menerjang badai hujan lebat guna menyapa ribuan umat di Guinea Khatulistiwa pada hari Rabu. Kunjungan ini menandai babak akhir dari perjalanan diplomatik dan spiritual yang penuh tantangan di benua Afrika tahun 2026.

Dalam konteks ini, Paus Leo menunjukkan gaya bicara yang lebih tegas dibandingkan dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, kehadirannya di pusat-pusat konsentrasi massa memicu gelombang emosional dari warga yang merindukan keadilan sosial dan kebebasan sipil.

Penjara Bata: Teriakan Kebebasan di Bawah Hujan

Momen paling dramatis terjadi saat Paus mengunjungi fasilitas penahanan di kota pesisir Bata. Amnesty International melaporkan bahwa penjara tersebut sering kali menahan orang selama bertahun-tahun tanpa akses hukum yang layak.

Secara khusus, Paus Leo mendengarkan langsung kesaksian para tahanan yang berkumpul di halam dalam. Saat Paus mulai memberikan pidato, hujan deras mengguyur lokasi tersebut. Namun, para narapidana tetap berdiri dan melompat-lompat sembari meneriakkan slogan “Kebebasan, kebebasan!” Akibatnya, suasana di atas panggung kepresidenan berubah menjadi tegang saat menteri kehakiman menyaksikan langsung protes massa tersebut.

Baca Juga :  Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Diplomasi Minyak dan Kesepakatan Deportasi Trump

Guinea Khatulistiwa telah dipimpin oleh Teodoro Obiang Nguema Mbasogo sejak tahun 1979. Statusnya sebagai presiden dengan masa jabatan terlama di dunia memberikan kestabilan politik sekaligus isolasi dari nilai-nilai demokrasi Barat.

Meskipun demikian, negara ini menikmati hubungan hangat dengan Washington karena cadangan minyaknya yang melimpah. Tahun lalu, pemerintah Obiang menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Donald Trump guna menerima para deportan dari berbagai negara.

Lebih lanjut, kelompok 70 organisasi nonpemerintah atau NGO mendesak Paus melalui surat terbuka guna membela hak para deportan tersebut. Meskipun Paus tidak menyebutkan masalah ini secara publik, kehadirannya dipandang sebagai tekanan moral terhadap praktik “diplomasi transaksional” antara Havana dan Washington pada tahun 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Misa Mongomo: Menembus Kesenjangan Si Kaya dan Si Miskin

Pada Rabu pagi, Paus Leo memimpin misa di Basilika Mongomo, struktur keagamaan terbesar di Afrika Tengah. Di hadapan Presiden Obiang dan putranya, Teodorin—yang pernah divonis oleh pengadilan Prancis atas kasus penggelapan—Paus meluncurkan kritik tajam terhadap ketimpangan kekayaan.

Baca Juga :  9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

“Kita harus melayani kebaikan bersama daripada kepentingan pribadi,” tegas Paus Leo. Ia mendesak para pemimpin negara guna menjembatani jurang antara kelompok elit yang beruntung dengan rakyat jelata yang terabaikan. Terlebih, ornamen emas basilika yang mewah tampak kontras dengan realitas ekonomi 1,8 juta penduduk yang mayoritas masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Mengenang Tragedi Barak Militer 2021

Sebagai penutup agenda, Paus memanjatkan doa di lokasi ledakan barak militer tahun 2021 di Bata. Insiden yang menewaskan lebih dari 100 orang tersebut masih meninggalkan trauma bagi warga lokal.

Oleh sebab itu, Paus mendukung seruan para aktivis untuk melakukan penyelidikan independen yang jujur. Langkah ini bertujuan murni guna memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban. Pada akhirnya, perjalanan sepanjang 18.000 kilometer ini membuktikan bahwa Vatikan tetap menjadi suara moral yang krusial di tengah anarksi politik dan kedaulatan ekonomi global tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

White Rabbit PIK Ditutup, Pemprov DKI Cabut Izin Usai Kasus Narkoba
Mobil HR-V Hantam Depot Air di Grogol, Pejalan Kaki Terseret dan Luka Parah
Dua PRT Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Polisi Periksa Agen Penyalur PRT
Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa
Begal Celurit Gunung Sahari, 4 Pelaku Dibekuk Polisi Usai Rampas Motor & HP Korban
Tiongkok Siap Bangun 11.000 Pulau guna Perkuat Klaim Teritorial
Pemerintah dan Oposisi Jepang Mulai Tarik Janji Potong Pajak Konsumsi
Armada Kapal Perang Tiongkok Terobos Jalur Strategis Okinawa

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 17:57 WIB

White Rabbit PIK Ditutup, Pemprov DKI Cabut Izin Usai Kasus Narkoba

Jumat, 24 April 2026 - 17:25 WIB

Mobil HR-V Hantam Depot Air di Grogol, Pejalan Kaki Terseret dan Luka Parah

Jumat, 24 April 2026 - 17:12 WIB

Dua PRT Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Polisi Periksa Agen Penyalur PRT

Jumat, 24 April 2026 - 17:01 WIB

Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa

Jumat, 24 April 2026 - 16:52 WIB

Begal Celurit Gunung Sahari, 4 Pelaku Dibekuk Polisi Usai Rampas Motor & HP Korban

Berita Terbaru

Presiden Turkiye Tayyip Erdogan bertemu dengan Sekretaris Jendral NATO Mark Rutte di Ankara, Turkey, April 22, 2026. Murat Kula/Turkish Presidential Press Office/Handout via REUTERS

INTERNASIONAL

Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:01 WIB