Kutukan Sumber Daya Baru: Menakar Nasib Negara Pemilik Nikel dan Litium dalam Pusaran Transisi Energi

Rabu, 25 Maret 2026 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampu hijau bagi dunia, ancaman bagi kedaulatan. Teori Ketergantungan mengungkap cara transisi energi global tahun 2026 berisiko melanggengkan eksploitasi negara Selatan oleh pusat industri manufaktur di Utara. Dok: Istimewa.

Lampu hijau bagi dunia, ancaman bagi kedaulatan. Teori Ketergantungan mengungkap cara transisi energi global tahun 2026 berisiko melanggengkan eksploitasi negara Selatan oleh pusat industri manufaktur di Utara. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 sedang berlomba-lomba meninggalkan energi fosil demi masa depan yang lebih hijau. Namun, penganut Teori Ketergantungan melihat risiko besar di balik narasi penyelamatan bumi ini. Negara berkembang kini menghadapi kerentanan ekonomi yang nyata. Nikel, litium, dan kobalt kini menjadi “emas baru”. Komoditas ini memicu ketimpangan kekuasaan antara pemilik lahan dan penguasa teknologi.

Negara-negara menyadari bahwa kebutuhan akan baterai kendaraan listrik melonjak tajam. Meskipun demikian, keuntungan terbesar tetap mengalir ke negara maju. Merekalah yang menguasai seluruh rantai manufaktur akhir.

Dinamika Utara-Selatan: Eksploitasi dalam Kedok Hijau

Teori Ketergantungan membagi ekonomi dunia menjadi dua kelompok besar. Ada kelompok “Pusat” yang kaya modal dan kelompok “Pinggiran” yang kaya sumber daya. Dalam hal ini, transisi energi hanya mengganti jenis komoditas perdagangan. Namun, pola hubungan yang tidak seimbang tetap bertahan kuat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara Utara membutuhkan mineral Selatan untuk menghijaukan ekonomi mereka. Sebaliknya, negara Selatan justru menanggung kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang tersebut. Lebih lanjut, negara industri juga sering menetapkan standar lingkungan yang tinggi. Langkah ini menjadi hambatan bagi produk olahan asal negara berkembang.

Baca Juga :  Sinner Tak Terbendung: Catat 18 Kemenangan Beruntun

Akibatnya, negara pemilik sumber daya sering kali terus menjual bijih mentah. Mereka terhalang oleh keterbatasan modal dan teknologi pemurnian. Oleh sebab itu, hilangnya kontrol atas nilai tambah kekayaan alam mengancam kedaulatan ekonomi. Negara berkembang sering kali kehilangan kendali di pasar global 2026.

Melawan Jebakan Komoditas melalui Hilirisasi

Menghadapi pola ketergantungan ini, beberapa negara mulai melancarkan strategi “Nasionalisme Sumber Daya”. Indonesia, misalnya, melarang ekspor bijih nikel mentah secara tegas. Langkah ini bertujuan memaksa investor membangun fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri. Sebagai hasilnya, Indonesia berhasil meningkatkan nilai ekspornya berkali-kali lipat.

Hilirisasi bertujuan mengintegrasikan ekonomi nasional ke dalam rantai pasok global. Indonesia ingin menjadi pemain manufaktur, bukan sekadar penyedia bahan baku. Secara simultan, strategi ini menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, transfer teknologi dari perusahaan asing ke tenaga kerja lokal kini berjalan lebih cepat. Dengan demikian, negara pemilik mineral mulai berani mendikte aturan internasional. Mereka berjuang keluar dari belenggu perangkap pendapatan menengah.

Perebutan Akses oleh Korporasi Multinasional (MNC)

Ketegangan geopolitik semakin memanas karena persaingan perusahaan raksasa seperti Tesla, BYD, dan CATL. Mereka berebut mengamankan pasokan jangka panjang secara agresif. Terlebih lagi, korporasi ini sering memanfaatkan pengaruh politik pemerintah mereka. Tujuannya adalah mendapatkan konsesi pertambangan yang eksklusif. Bahkan, mereka tidak ragu masuk ke wilayah konflik demi menjaga produksi baterai.

Baca Juga :  Polres Metro Jakbar Bongkar Sindikat Home Industri Oli Palsu di Kembangan, 3 Pelaku Dicokok

Oleh karena itu, persaingan ini menciptakan dilema baru bagi pemerintah di negara berkembang. Investasi asing memang memberikan modal yang sangat mereka butuhkan. Namun, dominasi modal asing yang berlebihan memicu ketergantungan baru. Kebijakan nasional pun terancam tunduk pada kepentingan profit korporasi asing. Pada akhirnya, kemampuan negosiasi kolektif sangat menentukan nasib negara pemilik mineral. Mereka akan menjadi pemenang atau hanya sekadar penonton revolusi hijau 2026.

Kita tidak boleh membangun masa depan bumi di atas penderitaan ekonomi negara penyedia sumber daya. Oleh sebab itu, keadilan ekologi harus berjalan beriringan dengan keadilan ekonomi global. Dengan demikian, transisi energi sejati mengharuskan penghapusan monopoli teknologi. Negara-negara Selatan membutuhkan dukungan nyata untuk melakukan industrialisasi mandiri.

Kutukan sumber daya bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem internasional yang tidak adil. Dunia harus segera merombak struktur kekuasaan ini. Jika berhasil, mineral kritis tidak lagi memicu eksploitasi. Komoditas tersebut justru akan menjadi jembatan menuju kemakmuran bersama yang berkelanjutan di abad ke-21.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai
Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik
Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump
Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan
AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP
Tanah Longsor Sapu Tujuh Persen Populasi Orangutan
Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:15 WIB

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:00 WIB

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:02 WIB

Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:21 WIB

AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP

Berita Terbaru

Gebrakan besar di perbatasan. Otoritas Hong Kong menyita ratusan ribu barang palsu termasuk jersi Piala Dunia siap ekspor senilai dua puluh juta dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:15 WIB

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Jun 2026 - 16:00 WIB