Langkah Catur Tiongkok: Memanfaatkan Kebijakan Trump

Jumat, 20 Februari 2026 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membangun masa depan bersama. Presiden Xi Jinping dan Presiden Yamandú Orsi sepakat memperdalam kemitraan strategis melalui inovasi teknologi dan penguatan ekonomi regional. Dok: Istimewa.

Membangun masa depan bersama. Presiden Xi Jinping dan Presiden Yamandú Orsi sepakat memperdalam kemitraan strategis melalui inovasi teknologi dan penguatan ekonomi regional. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Tiongkok melihat celah besar di balik kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump. Alih-alih menarik diri, Beijing justru memanfaatkan ketidakpastian global tersebut untuk menyusun ulang peta jalan perdagangan yang dapat memutus pengaruh Amerika Serikat di masa depan.

Investigasi terbaru terhadap 100 artikel karya pakar perdagangan negara Tiongkok mengungkapkan upaya sistematis untuk melakukan rekayasa balik (reverse-engineer) terhadap kebijakan dagang AS. Strategi ini bertujuan untuk membangun tatanan multilateral baru dengan Tiongkok sebagai pusatnya. Oleh karena itu, Beijing kini mulai bergerak cepat untuk merealisasikan rencana tersebut melalui berbagai diplomasi ekonomi.

Menembus Leveransir AS Lewat Kanada dan Eropa

Langkah awal dari cetak biru ini terlihat nyata dalam kesepakatan Tiongkok dengan Kanada pada Januari lalu. Saat kunjungan PM Mark Carney ke Beijing, kedua negara menyepakati pemangkasan tarif untuk kendaraan listrik Tiongkok. Selanjutnya, Tiongkok mulai melirik pasar Eropa dan Teluk.

Menteri Luar Negeri Wang Yi mengejutkan para perunding Eropa dengan melemparkan prospek perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Brussels. Bahkan, di London, PM Keir Starmer dan Presiden Xi Jinping sepakat memulai studi kelayakan untuk perjanjian perdagangan jasa. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga dijadwalkan akan mencari “kemitraan strategis” dengan Tiongkok pada kunjungan pekan depan. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Tiongkok sedang menanamkan akarnya sangat dalam sehingga mitra dagang tidak akan sanggup melakukan pemutusan hubungan (decoupling) akibat tekanan AS.

Baca Juga :  Negosiasi AS-Taiwan Memanas: Trump Tuntut Investasi Ratusan Miliar Dolar, Taipei Tawarkan Model Taiwan

Diplomasi Blok dan Integrasi Teknologi AI

Tiongkok tidak hanya menyasar negara maju, tetapi juga memperkuat pilar di kawasan berkembang. Pada Sabtu lalu, media pemerintah mengumumkan implementasi tarif nol persen untuk impor dari 53 negara Afrika. Selain itu, Beijing mulai mempromosikan sistem bea cukai berbasis kecerdasan buatan (AI) kepada negara-negara tetangga.

Visi teknologi ini sudah terbukti di “Pelabuhan Persahabatan” di perbatasan Vietnam. Penggunaan solusi AI domestik berhasil memangkas waktu tunggu pengiriman hingga 20 persen. Dengan demikian, Tiongkok berupaya mengamankan posisi sebagai penggerak utama dalam standar perdagangan digital dan intelektual global melalui inisiatif Belt and Road serta RCEP.

Baca Juga :  Gebrakan Fiskal Takaichi: Penundaan Pajak Pangan

Tantangan Surplus Triliunan Dolar dan Konsumsi Domestik

Meskipun agresif, strategi Tiongkok menghadapi hambatan besar berupa surplus perdagangan yang mencapai $1,2 triliun. Mantan Direktur Jenderal WTO, Pascal Lamy, mencatat bahwa perusahaan Tiongkok mengirimkan barang ke Eropa melebihi kapasitas serap blok tersebut. Pasalnya, kelebihan produksi dan lemahnya permintaan domestik Tiongkok memicu kekhawatiran mengenai banjir barang murah di pasar luar negeri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mitra dagang saat ini mendesak Beijing untuk segera menghidupkan kembali konsumsi rumah tangga di dalam negeri. Menteri Perdagangan Wang Wentao berjanji akan memprioritaskan pertumbuhan impor dalam rencana lima tahun mendatang yang akan diluncurkan pada Maret. Namun demikian, penyeimbangan ekonomi merupakan proyek jangka panjang yang penuh tantangan. Dengan sisa masa jabatan Trump selama tiga tahun, Tiongkok berpacu dengan waktu untuk membangun koalisi ekonomi yang tangguh sebelum administrasi AS berikutnya kembali membangun aliansi untuk membendung mereka.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejagung Tegaskan ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Berhak Ajukan Pleidoi di PN Batam
Ibu ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Menangis, Minta Prabowo Hentikan Hukuman Mati
Cuaca Jabodetabek 21 Februari 2026, Berawan Tebal Hingga Hujan Ringan
Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka
Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran
Kronologi KA Bandara Soetta Tabrak Truk Trailer di Tangerang Terekam CCTV
Pemerintah Wacanakan Komnas HAM Punya Kewenangan Penyidikan Kasus HAM Berat
Begal Modus Pura-pura Diludahi di Cempaka Putih, Motor Pemuda Sukabumi Raib

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:51 WIB

Kejagung Tegaskan ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Berhak Ajukan Pleidoi di PN Batam

Sabtu, 21 Februari 2026 - 05:19 WIB

Ibu ABK Terdakwa 2 Ton Sabu Menangis, Minta Prabowo Hentikan Hukuman Mati

Sabtu, 21 Februari 2026 - 04:53 WIB

Cuaca Jabodetabek 21 Februari 2026, Berawan Tebal Hingga Hujan Ringan

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:55 WIB

Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:45 WIB

Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran

Berita Terbaru

Minuman hangat seperti wedang jahe, susu kunyit, dan teh jahe lemon yang meningkatkan imun tubuh saat musim hujan. (Posnews/Bluebird Provisions on Unsplash)

NETIZEN

Kreasi Minuman Segar Tanpa Gula Berlebih untuk Berbuka

Jumat, 20 Feb 2026 - 18:55 WIB

Otonomi vs Federasi. Premier Alberta Danielle Smith mengumumkan referendum untuk membatasi jumlah imigran guna mengurangi beban berat pada layanan publik dan infrastruktur provinsi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran

Jumat, 20 Feb 2026 - 18:45 WIB