PBB Ungkap Kegagalan Komitmen Negara Kaya dalam Menutup Kesenjangan Global

Minggu, 12 April 2026 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Laporan evaluasi PBB terhadap “Komitmen Sevilla” mengungkapkan realitas pahit mengenai ketimpangan ekonomi internasional. Negara-negara berkembang kini menghadapi kesulitan finansial yang ekstrem di tengah runtuhnya kolaborasi global.

Dalam konteks ini, laporan tersebut terbit menjelang pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington pekan depan. Oleh karena itu, otoritas global kini mendesak adanya langkah nyata untuk mencegah kebangkrutan massal di negara-negara berpendapatan rendah.

Dampak Perang Iran dan Tekanan Geopolitik

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa perang di Iran telah menggelapkan prospek ekonomi dunia. Sebelumnya, IMF bersiap untuk meningkatkan proyeksi pertumbuhan global. Namun, konflik bersenjata tersebut justru memicu volatilitas pasar dan ketidakpastian logistik energi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Wakil Sekretaris Jenderal PBB urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua, menekankan dampak sosiologis dari ketegangan geopolitik. Menurutnya, pertimbangan politik kini lebih mendominasi kebijakan keuangan daripada kebutuhan kemanusiaan. “Ini adalah masa yang sangat berbahaya bagi kerja sama internasional,” tegas Li. Hambatan perdagangan dan guncangan iklim yang berulang turut memperburuk situasi ini di tahun 2026.

Baca Juga :  Eksperimen Listrik Nollet: Dari Rantai Manusia 1,6 KM hingga Penemuan Elektroskop

Kegagalan Komitmen Sevilla: Celah $\$4$ Triliun

Pada konferensi di Sevilla, Spanyol, Juni lalu, para pemimpin dunia (kecuali Amerika Serikat) menyepakati upaya menutup celah pendanaan pembangunan. Target utamanya adalah menyediakan dana sebesar $\$4$ triliun setiap tahun guna mencapai sasaran pembangunan PBB tahun 2030.

Meskipun demikian, realitas di lapangan menunjukkan arah yang sebaliknya. Sekjen PBB António Guterres berulang kali mengkritik IMF dan Bank Dunia karena dianggap hanya menguntungkan negara kaya. Bahkan, banyak pihak menilai Bank Dunia gagal menjalankan misinya selama pandemi COVID-19, yang meninggalkan puluhan negara dalam jeratan utang yang sangat dalam. Dominasi Amerika Serikat dan sekutu Eropa dalam pengambilan keputusan di institusi tersebut memicu rasa frustrasi yang meluas di negara-negara Selatan Global.

Penurunan Drastis Bantuan Pembangunan

Data tahun 2025 menunjukkan tren penurunan bantuan internasional yang sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 25 negara donor secara resmi mengurangi bantuan pembangunan mereka ke negara-negara miskin. Akibatnya, terjadi penurunan bantuan secara keseluruhan sebesar $23\%$ dibandingkan tahun 2024.

Baca Juga :  Jepang Menahan Diri Pasca-Serangan AS-Israel ke Iran

Secara khusus, Amerika Serikat mencatatkan penurunan bantuan paling tajam sebesar $59\%$. Selain itu, data awal untuk tahun 2026 memprediksi penurunan bantuan lanjutan sebesar $5,8\%$. Kondisi ini membuktikan bahwa prioritas anggaran negara-negara maju telah bergeser sepenuhnya ke arah penguatan militer dan perlindungan industri domestik masing-masing.

Tirani Tarif dan Proteksionisme

Laporan PBB juga menyoroti dampak destruktif dari kebijakan tarif yang administrasi Donald Trump berlakukan. Tarif rata-rata untuk ekspor dari negara-negara termiskin di dunia melonjak drastis dari $9\%$ menjadi $28\%$ sepanjang tahun 2025.

Bagi negara berkembang (di luar Tiongkok), beban tarif rata-rata meningkat dari $2\%$ menjadi $19\%$. Sebagai hasilnya, produk-produk dari negara miskin kehilangan daya saing di pasar internasional secara instan. Pada akhirnya, kombinasi antara penghentian bantuan dan hambatan dagang ini menciptakan jebakan kemiskinan permanen bagi jutaan orang. Masyarakat internasional kini menanti apakah pertemuan di Washington pekan depan mampu merombak arsitektur keuangan dunia demi keadilan ekonomi yang lebih baik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Berita Terbaru

Bencana dahsyat di barat daya Jepang. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, merenggut 14 nyawa warga dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:30 WIB

Bocoran unik gawai Microsoft. Seorang pengguna internet mengaku menemukan dan menguji prototipe Surface Laptop Ultra bertenaga APU NVIDIA RTX Spark N1X. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Netizen Temukan Prototipe Surface Laptop Ultra di Pinggir Jalan

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:16 WIB