JOHANNESBURG, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri China, Li Qiang, menyampaikan pesan tegas di hadapan para pemimpin dunia. Ia mendesak negara-negara G20 untuk membuang ego sektoral demi menyelamatkan ekonomi global yang sedang lesu.
Pernyataan ini ia sampaikan pada sesi pertama KTT G20 ke-20 di Johannesburg, Sabtu (22/11/2025). Saat itu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa memimpin jalannya sesi yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi inklusif.
Li menyoroti ancaman nyata yang menghadang. Menurutnya, kebangkitan unilateralisme dan proteksionisme menjadi penghambat utama pemulihan ekonomi. Selain itu, pembatasan perdagangan yang meningkat kian memperburuk situasi.
Melawan Arus Perpecahan
Li mengingatkan kembali pesan Presiden Xi Jinping pada KTT G20 sebelumnya. “Solidaritas adalah kekuatan, sedangkan perpecahan tidak akan membawa kita ke mana pun,” tegasnya.
Pasalnya, kepentingan yang berbeda antarnegara kini makin menajam. Hal ini memperlemah mekanisme kerja sama global yang sudah ada. Akibatnya, solidaritas internasional menjadi barang langka.
Li mendesak G20 untuk menghadapi masalah ini secara jantan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh anggota untuk menangani sengketa melalui konsultasi yang setara.
“Kita harus mencari persamaan sambil menyisihkan perbedaan,” ujarnya. Dengan begitu, kepentingan bersama yang luas dapat tercapai tanpa mengorbankan kepedulian satu sama lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Reformasi Institusi Global
Lebih jauh, Li menyerukan langkah berani dalam tata kelola global. Ia menuntut percepatan reformasi pada institusi keuangan utama dunia. Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) harus segera berbenah.
Tujuannya jelas, negara-negara berkembang harus mendapatkan suara yang lebih lantang. Maka, tatanan ekonomi internasional yang lebih adil dan terbuka dapat tercipta.
“G20 harus maju mengikuti perkembangan zaman dan memimpin dalam menegakkan multilateralisme,” desak Li.
Aksi Nyata untuk Afrika
Tak hanya bicara, China juga merilis rencana aksi konkret. Li mengumumkan implementasi inisiatif G20 untuk mendukung industrialisasi di Afrika dan negara-negara kurang berkembang (LDCs).
Bahkan, China menyatakan dukungan penuh terhadap pengurangan utang bagi negara berkembang. Mereka juga telah memulai inisiatif kerja sama dengan Afrika Selatan untuk mendukung modernisasi benua tersebut.
Sebagai penutup, Li menegaskan komitmen China untuk mendirikan Institut Pembangunan Global. Langkah ini menjadi bukti keseriusan Beijing dalam mempromosikan pembangunan bersama bagi semua negara.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















