Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia

Rabu, 8 April 2026 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahaya dari dalam. Demokrasi modern tidak lagi mati melalui kudeta militer yang berdarah, melainkan melalui erosi perlahan yang para pemimpin terpilih lakukan terhadap institusi dan norma politik tahun 2026. Dok: Istimewa.

Bahaya dari dalam. Demokrasi modern tidak lagi mati melalui kudeta militer yang berdarah, melainkan melalui erosi perlahan yang para pemimpin terpilih lakukan terhadap institusi dan norma politik tahun 2026. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, masyarakat membayangkan kematian demokrasi identik dengan tank di jalanan dan penggulingan kekuasaan secara paksa. Namun, di tahun 2026, realitas politik global menunjukkan wajah yang lebih halus namun mematikan. Demokrasi kini sedang meredup dari dalam melalui tangan para pemimpin yang awalnya memenangkan dukungan rakyat melalui kotak suara.

Dalam konteks ini, perspektif Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menjadi sangat relevan guna mendeteksi gejala regresi politik. Oleh karena itu, memahami cara kerja otoritarianisme modern adalah kunci untuk mencegah keruntuhan tatanan sipil yang berdaulat.

Ciri-Ciri Kemunduran Demokrasi (Democratic Backsliding)

Kemunduran demokrasi di abad ke-21 bersifat gradual dan sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Pemimpin otoriter masa kini tidak lagi menghapuskan konstitusi secara terang-terangan. Sebaliknya, mereka menggunakan instrumen hukum guna memperkuat kekuasaan pribadinya.

Gejala utama backsliding meliputi:

  1. Penghancuran Wasit: Upaya untuk mengontrol lembaga independen seperti Mahkamah Agung, badan intelijen, dan lembaga penegak hukum.
  2. Pembelian atau Pembungkaman Lawan: Pemimpin memberikan tekanan ekonomi kepada media kritis atau menawarkan jabatan bagi politisi oposisi agar mereka patuh.
  3. Perubahan Aturan Main: Modifikasi undang-undang pemilu atau batas usia jabatan guna memastikan kekuasaan tetap berada di tangan kelompok yang sama.
Baca Juga :  Teori Perdamaian Demokratis: Mitos atau Fakta

Akibatnya, masyarakat tetap merasa hidup dalam demokrasi karena pemilu tetap berjalan. Meskipun demikian, kompetisi politik tersebut sebenarnya sudah pemerintah rancang sedemikian rupa agar pihak oposisi mustahil untuk menang.

Melemahkan Institusi dari Dalam

Levitsky dan Ziblatt menekankan bahwa pemimpin terpilih sering kali bertindak seperti “kuda Troya”. Mereka masuk ke dalam sistem dengan janji perubahan, namun segera melumpuhkan mekanisme checks and balances begitu menjabat. Dalam hal ini, serangan terhadap pers dan akademisi menjadi strategi rutin untuk mendistorsi kebenaran informasi.

Lebih lanjut, penggunaan narasi “keadaan darurat” sering kali menjadi dalih untuk memperluas kekuasaan eksekutif. Di tahun 2026, krisis energi dan konflik internasional sering kali pemimpin gunakan guna menjustifikasi kebijakan represif. Oleh sebab itu, institusi demokrasi yang tadinya kuat perlahan berubah menjadi cangkang kosong yang hanya melayani kepentingan elit penguasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekuatan Norma: Toleransi dan Pengendalian Diri

Hukum tertulis saja tidak pernah cukup untuk menjaga demokrasi. Levitsky dan Ziblatt memperkenalkan dua “pagar pengaman” yang bersifat tidak tertulis namun sangat krusial:

  • Toleransi Bersama (Mutual Tolerance): Kemampuan para politisi untuk memandang lawan mereka sebagai pesaing yang sah, bukan sebagai musuh negara yang harus dimusnahkan. Tanpa norma ini, politik berubah menjadi perang habis-habisan.
  • Pengendalian Diri Institusional (Institutional Forbearance): Kesadaran pemimpin untuk tidak menggunakan seluruh wewenang hukumnya secara maksimal guna melumpuhkan lawan. Ini adalah seni menahan diri demi menjaga integritas sistem secara keseluruhan.
Baca Juga :  Pemukim Israel Bakar Desa-Desa Palestina di Tengah Eskalasi Perang Regional

Secara khusus, di era polarisasi digital tahun 2026, kedua norma ini sedang mengalami erosi hebat. Ketika pemimpin mulai melabeli lawan politiknya sebagai “pengkhianat” atau “kriminal”, maka pondasi demokrasi tersebut sebenarnya sudah retak. Keruntuhan norma biasanya mendahului keruntuhan institusi fisik.

Demokrasi adalah Perjuangan Harian

Masa depan kedaulatan rakyat bergantung pada keberanian kita untuk menegakkan etika politik di atas ambisi kekuasaan. Pada akhirnya, demokrasi memerlukan lebih dari sekadar prosedur pemilu rutin.

Dengan demikian, dunia memerlukan warga negara yang kritis terhadap setiap upaya konsentrasi kekuasaan yang berlebihan. Levitsky dan Ziblatt mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak mati dalam semalam. Ia mati saat kita mulai terbiasa dengan pelanggaran-pelanggaran kecil terhadap prinsip keadilan. Di tahun 2026, menjaga api demokrasi tetap menyala adalah tanggung jawab kolektif yang mengharuskan kita untuk menolak setiap bentuk tirani yang dibungkus dengan jubah legalitas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?
Teror Air Keras Aktivis Andrie Yunus, Bukti Keterlibatan Sipil Mulai Terkuak
Ngeri! Anak di Lahat Mutilasi Ibu Kandung, Jasad Dikubur dalam 3 Karung
Sistem Pemilu Dunia: Mana yang Paling Representatif untuk Demokrasi Kita?
Selandia Baru Siaga Satu: Siklon Vaianu Ancam Pulau Utara dengan Angin Mematikan
Hakim AS Sebut Rencana Pemerintah Terhadap Kilmar Ábrego
Rumah Saksi Dibakar, KPK Usut Intimidasi di Kasus Suap Bupati Bekasi Ade Kuswara
Konflik Uang Berujung Maut, Ayah Tewas Dibantai Anak Kandung Saat Tidur

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 19:29 WIB

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?

Rabu, 8 April 2026 - 18:50 WIB

Teror Air Keras Aktivis Andrie Yunus, Bukti Keterlibatan Sipil Mulai Terkuak

Rabu, 8 April 2026 - 18:26 WIB

Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia

Rabu, 8 April 2026 - 17:25 WIB

Ngeri! Anak di Lahat Mutilasi Ibu Kandung, Jasad Dikubur dalam 3 Karung

Rabu, 8 April 2026 - 17:21 WIB

Sistem Pemilu Dunia: Mana yang Paling Representatif untuk Demokrasi Kita?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Kita Memilih Pemimpin yang Kita Sukai?

Rabu, 8 Apr 2026 - 19:29 WIB

Bahaya dari dalam. Demokrasi modern tidak lagi mati melalui kudeta militer yang berdarah, melainkan melalui erosi perlahan yang para pemimpin terpilih lakukan terhadap institusi dan norma politik tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Memahami Gejala Regresi Politik di Berbagai Belahan Dunia

Rabu, 8 Apr 2026 - 18:26 WIB