JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkap kunci untuk memperkuat masa depan industri kakao Indonesia.
Menurutnya, pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan mitra internasional harus bekerja sama.
Budi menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci dalam The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) di Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai kolaborasi menjadi semakin penting karena industri kakao menghadapi tantangan sekaligus peluang besar di pasar global.
“Kakao terus mendukung kehidupan ratusan ribu keluarga petani. Komoditas ini juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi perdesaan,” kata Budi.
Karena itu, pemerintah ingin mendorong kakao Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Sebaliknya, Indonesia harus memperkuat pengolahan dan menciptakan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Visi Indonesia jelas, yaitu menjadi hub global bagi produk kakao dan cokelat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah,” ujarnya.
Ekspor Kakao Indonesia Naik Tiga Kali Lipat
Kinerja ekspor kakao Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, nilai ekspor kakao Indonesia mencapai 3,60 miliar dolar AS.
Angka tersebut melonjak tiga kali lipat dibandingkan 2021 yang hanya mencapai 1,2 miliar dolar AS. Peningkatan ini menunjukkan kuatnya permintaan pasar global terhadap produk kakao Indonesia.
Selain itu, Indonesia juga mendapat pengakuan dari International Cocoa Organization (ICCO) sebagai salah satu penghasil kakao bercita rasa unggul atau fine flavour cocoa.
Pengakuan tersebut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk mengisi pasar kakao premium dunia.
Namun, Budi menegaskan Indonesia harus terus meningkatkan kualitas. Inovasi, indikasi geografis, dan produksi berkelanjutan menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing.
“Strategi ekspor Indonesia harus fokus pada peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar, serta pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional,” tegasnya.
25 Perjanjian Dagang Jadi Modal Ekspansi
Pemerintah saat ini telah menerapkan 25 perjanjian perdagangan dengan negara mitra. Selain itu, dua perjanjian masih berada dalam proses ratifikasi.
Sebanyak 11 perjanjian dagang lainnya juga masih dalam tahap perundingan.
Salah satu yang paling dinantikan ialah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Perjanjian tersebut dinilai dapat membuka akses lebih besar bagi produk Indonesia ke pasar Uni Eropa.
Pemerintah juga terus mendorong negosiasi perdagangan resiprokal dengan Amerika Serikat.
Budi optimistis berbagai perjanjian tersebut dapat memperkuat daya saing sekaligus memperluas pasar ekspor kakao Indonesia.
Kemendag Kerahkan 46 Perwakilan Dagang
Untuk mempercepat ekspor, Kementerian Perdagangan mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara.
Para perwakilan tersebut bertugas membuka peluang pasar, mempromosikan produk Indonesia, serta mempertemukan eksportir dengan calon pembeli dari luar negeri.
“Jangan sungkan-sungkan menghubungi kami dan perwakilan kami di luar negeri,” ujar Budi.
Industri Kakao Indonesia Punya Peluang Besar
Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru yang turut hadir dalam konferensi tersebut menilai masa depan kakao Indonesia sangat cerah.
Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi untuk menjawab perubahan tren konsumen.
Saat ini, konsumen semakin tertarik pada produk yang autentik, bersumber dari petani lokal, diproduksi secara berkelanjutan, serta menawarkan tekstur dan cita rasa baru.
Tren tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pengolahan dan inovasi kakao di Asia hingga pasar global.
ICCO Dorong Indonesia Tingkatkan Produksi Biji Kakao
Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion, juga menilai Indonesia telah mengalami perkembangan besar dalam industri kakao.
Menurutnya, Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai produsen. Kini, Indonesia semakin kuat sebagai negara pengolah kakao untuk memenuhi kebutuhan industri cokelat.
“Indonesia memberikan banyak nilai tambah terhadap biji kakao untuk kepentingan industri cokelat. Kami yakin Indonesia akan semakin memperoleh banyak manfaat jika meningkatkan produksi biji kakaonya,” kata Michel.
Karena itu, peningkatan produksi di tingkat petani menjadi tantangan penting yang harus segera dijawab.
Dengan kolaborasi yang kuat, inovasi, dan peningkatan produksi, Indonesia berpeluang besar menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan bernilai tambah tinggi di pasar dunia. **
Editor : Hadwan













