Mengapa Kasus YTR Belum Disebut Penyiksaan? Ini Penjelasan Komnas Perempuan

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Komisioner Komnas Perempuan Sondang Frishka Simanjuntak. (Posnews/Ist)

Komisioner Komnas Perempuan Sondang Frishka Simanjuntak. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menegaskan bahwa kasus penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR (29) di Bandung, Jawa Barat, belum dapat dikategorikan sebagai tindak penyiksaan (torture) berdasarkan definisi Konvensi Anti-Penyiksaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention Against Torture/CAT).

Meski demikian, Komnas Perempuan menilai kekerasan yang dialami korban merupakan penganiayaan berat yang dilakukan secara terencana, berulang, dan menimbulkan dampak permanen.

Saat ini, polisi telah menetapkan Taufik Hidayat sebagai tersangka dalam perkara tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komisioner Komnas Perempuan Sondang Frishka Simanjuntak menjelaskan, klasifikasi penyiksaan menurut CAT PBB memiliki unsur hukum yang jauh lebih spesifik dibanding penganiayaan biasa.

“Kasus YTR belum bisa kami lihat sebagai kasus penyiksaan dalam definisi Konvensi Anti-Penyiksaan,” kata Sondang dalam dialog memperingati Hari Anti-Penyiksaan Internasional, Sabtu (27/6/2026).

Penyiksaan Menurut Konvensi PBB Harus Penuhi Unsur Tertentu

Sondang menerangkan, suatu tindakan baru dapat disebut penyiksaan apabila memenuhi sejumlah unsur yang telah diatur dalam Konvensi Anti-Penyiksaan PBB.

Baca Juga :  May Day 2026 di Monas, Buruh Bawa 11 Tuntutan - Prabowo Janjikan Kejutan

Selain menyebabkan penderitaan fisik atau mental yang sangat berat (severe pain), tindakan tersebut harus dilakukan untuk tujuan tertentu, seperti memperoleh pengakuan, menghukum, mengintimidasi, atau melakukan diskriminasi.

Tak hanya itu, unsur yang paling penting adalah adanya keterlibatan negara, baik secara langsung maupun melalui pembiaran atau kelalaian aparat yang memiliki kewajiban melindungi korban.

Karena itu, menurut Komnas Perempuan, status perkara YTR masih memerlukan pendalaman untuk memastikan apakah terdapat unsur tersebut.

Komnas Perempuan Dalami Dugaan Pembiaran Aparat

Komnas Perempuan kini mendorong penelusuran lebih jauh mengenai kemungkinan adanya pengabaian oleh pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.

Sondang mengatakan, penyidik perlu memastikan apakah korban pernah berupaya melapor atau meminta pertolongan, tetapi tidak memperoleh respons sebagaimana mestinya.

Jika terbukti ada pembiaran oleh negara, kasus ini dapat dikategorikan sebagai penyiksaan menurut CAT.

“Yang perlu diperiksa adalah apakah pemerintah daerah atau aparat mengabaikan laporan korban,” ujar Sondang.

Korban Alami Dampak Berat hingga Disabilitas

Meski kasus ini belum memenuhi definisi penyiksaan internasional, Komnas Perempuan menilai YTR mengalami penderitaan yang sangat serius.

Baca Juga :  Bareskrim Ringkus Otak Penyerangan yang Tewaskan Tiga Polisi Katingan

Komnas Perempuan mencatat pelaku berulang kali menganiaya korban hingga menyebabkan luka berat, trauma, dan disabilitas.

Sondang meminta aparat mengusut tuntas pola kekerasan tersebut agar dapat mengungkap seluruh tindak pidana yang dilakukan pelaku.

Desak Visum Menyeluruh dan Tambahan Pasal

Selain mendukung proses penyidikan, Komnas Perempuan meminta aparat melakukan visum secara komprehensif terhadap korban.

Langkah itu penting untuk mengungkap kemungkinan adanya kekerasan lain, termasuk dugaan kekerasan seksual yang belum terdeteksi.

Jika menemukan bukti baru, penyidik akan menerapkan pasal berlapis untuk memaksimalkan proses hukum terhadap tersangka.

Dugaan penyekapan dan penganiayaan berkepanjangan yang menyebabkan YTR mengalami luka berat dan disabilitas membuat kasus ini menjadi sorotan publik.

Kepolisian terus mengembangkan penyidikan untuk mengungkap seluruh rangkaian tindak pidana yang diduga dilakukan tersangka.

Komnas Perempuan meminta aparat memprioritaskan perlindungan terhadap korban selama proses hukum berlangsung.

Lembaga itu juga berharap penyidik mengusut tuntas kasus ini secara profesional agar seluruh pelaku kekerasan mempertanggungjawabkan perbuatannya. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nanik S. Deyang Mundur karena Sakit, Reza Indragiri Singgung Isu Malingering
Bareskrim Bongkar Pabrik Whip Pink, Dua Bos Ayah-Anak Jadi Tersangka
Prabowo Teken Keppres Baru, Kuntadi Isi Kursi Jampidsus Kejagung
Prabowo Lantik Perwira TNI-Polri 2026, 4 Lulusan Terbaik Raih Adhi Makayasa
Kepala BGN Nanik Deyang Mundur, Prabowo Minta Tetap Awasi BGN
Bupati Lombok Barat Diduga Terima Rp10,8 Miliar dari 32 Proyek
Imigrasi Bongkar Modus 10 WNA, Perusahaan Fiktif Dipakai untuk Kejar Visa Eropa
Giuseppe Garibaldi Jadi Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba September 2026

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:52 WIB

Nanik S. Deyang Mundur karena Sakit, Reza Indragiri Singgung Isu Malingering

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:42 WIB

Bareskrim Bongkar Pabrik Whip Pink, Dua Bos Ayah-Anak Jadi Tersangka

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:32 WIB

Prabowo Teken Keppres Baru, Kuntadi Isi Kursi Jampidsus Kejagung

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:14 WIB

Prabowo Lantik Perwira TNI-Polri 2026, 4 Lulusan Terbaik Raih Adhi Makayasa

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:50 WIB

Kepala BGN Nanik Deyang Mundur, Prabowo Minta Tetap Awasi BGN

Berita Terbaru