SIDOARJO, POSNEWS.CO.ID – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah tegas. SPPG Kalitengah, Tanggulangin, yang memasok makanan tersebut, dihentikan sementara atau disuspend selama 30 hari.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan sanksi itu masuk kategori berat. BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG dan menyiapkan penggantinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
512 Santri Terdampak
Data terbaru BGN mencatat 512 orang terdampak dalam dugaan keracunan tersebut.
Dari jumlah itu, 80 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara 312 orang telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Data penanganan korban masih terus diperbarui.
Insiden ini terjadi setelah para santri mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9/2026).
Suasana di pesantren pun berubah. Para santri yang sebelumnya mengikuti aktivitas belajar harus mendapat penanganan medis.
Karena jumlah korban cukup besar, sejumlah rumah sakit di Sidoarjo ikut menangani para santri.
BGN Tak Mau Ambil Risiko
BGN tidak menunggu hasil investigasi untuk menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah.
Langkah tersebut menjadi bentuk pencegahan agar makanan dari dapur yang sama tidak kembali didistribusikan sebelum seluruh pemeriksaan selesai.
Ketut mengatakan BGN bersama Dinas Kesehatan melakukan investigasi untuk mencari penyebab pasti kejadian.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan pemeriksaan medis korban akan menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Karena itu, pemerintah belum menyimpulkan bahwa makanan MBG tersebut menjadi penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan ilmiah keluar.
Satu Dapur Pasok 19 Sekolah
Kasus ini semakin serius karena SPPG Kalitengah ternyata tidak hanya memasok makanan ke Ponpes Manbaul Hikam.
SPPG tersebut tercatat menyuplai MBG ke 19 sekolah. Dalam sehari, dapur itu memproduksi sekitar 2.800 porsi, termasuk sekitar 1.000 porsi untuk Ponpes Manbaul Hikam.
Temuan tersebut membuat pengawasan terhadap rantai produksi dan distribusi makanan menjadi semakin penting.
Setiap tahapan harus dipastikan aman, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga makanan diterima penerima manfaat.
Kepala SPPG Diusulkan Dicopot
Selain menghentikan operasional, BGN mengusulkan pencopotan kepala SPPG Kalitengah.
Pergantian tersebut dilakukan bersamaan dengan evaluasi menyeluruh terhadap layanan dapur MBG.
Namun, langkah itu tidak boleh berhenti pada pergantian pengelola. Pemerintah perlu memastikan penyebab kejadian benar-benar ditemukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Keselamatan Anak Jadi Prioritas
Di tengah proses investigasi, BGN menegaskan keselamatan para santri menjadi prioritas utama.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pengelola pesantren untuk memastikan korban mendapat penanganan medis.
Bagi keluarga para santri, kesembuhan menjadi kabar yang paling ditunggu. Namun, di balik itu, mereka juga berhak memperoleh kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa program makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan nutrisi. Keamanan pangan harus menjadi syarat utama.
Makanan untuk anak-anak harus melewati standar kebersihan, pengolahan, penyimpanan dan distribusi yang ketat.
Karena itu, sanksi terhadap SPPG Kalitengah diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan MBG.
Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak harus berjalan dengan aman, transparan dan bertanggung jawab.
Kini, publik menunggu hasil investigasi BGN dan Dinas Kesehatan untuk menjawab satu pertanyaan penting: apa penyebab ratusan santri Manbaul Hikam mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG?
Editor : Hadwan














