Mengapa Krisis Finansial Semakin Parah? Jawabannya Ada di Hormon Trader

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Langkah strategis internal. Direktur Micron Technology Lynn A. Dugle melepas sebagian kepemilikan saham di tengah kolaborasi besar bersama General Motors.. Dok: Ilustrasi.

Langkah strategis internal. Direktur Micron Technology Lynn A. Dugle melepas sebagian kepemilikan saham di tengah kolaborasi besar bersama General Motors.. Dok: Ilustrasi.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Selama pasar keuangan ada, krisis finansial akan selalu menyertainya. Namun, para ekonom sepakat pada satu fakta meresahkan: sejak 1994, kejatuhan pasar menjadi lebih dalam dan masa pemulihannya jauh lebih lama.

Data berbicara sendiri. Dua krisis besar sebelum 1994—Nifty Fifty (pertengahan 70-an) dan Black Monday (1987)—menggerus nilai saham global rata-rata 40% dengan waktu pemulihan 240 hari. Bandingkan dengan krisis Dot-com dan krisis kredit pasca-1994: kerugian rata-rata melonjak menjadi 52% dan pasar butuh 430 hari untuk bangkit.

Mengapa krisis modern begitu parah? John Coates, mantan trader Goldman Sachs dan Deutsche Bank yang kini menjadi peneliti di Universitas Cambridge, memiliki jawaban yang tidak lazim. Ia tidak melihat pada grafik matematika, melainkan pada biologi manusia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Matematika, Tapi Kimiawi Otak

Banyak orang membayangkan trader sebagai jenius matematika bermental baja. Coates meragukan hal itu. Ia menyoroti aspek fisiologis keputusan mereka. Industri ini didominasi pria, dan menurut Coates, testosteron memengaruhi pilihan mereka secara signifikan.

Baca Juga :  Xi Jinping dan Keir Starmer Bertemu di Beijing: Akhiri 8 Tahun Kebekuan

Dalam simulasi pengambilan risiko tahun 2013, sampel darah trader London mengonfirmasi lonjakan testosteron, kortisol, dan dopamin. Ini bukan sekadar “keserakahan”, melainkan respons kimiawi tubuh terhadap sensasi. Neurosanis kini melihat otak bukan sebagai komputer netral, melainkan mekanisme yang merencanakan tindakan fisik dengan pola gairah tertentu.

Efek “Beku” Kortisol

Respons stres tubuh—yang memicu adrenalin dan kortisol—adalah hal normal saat menghadapi bahaya atau peluang besar. Jantung memompa lebih keras, tekanan darah naik. Ini terasa nikmat saat menonton film aksi atau menutup kesepakatan jutaan dolar.

Namun, masalah muncul saat ketidakpastian melanda. Produksi kortisol meningkat tajam saat seseorang menghadapi ketidakpastian—mirip seperti pasien yang menunggu giliran dokter gigi tanpa tahu kapan namanya dipanggil.

Coates mencurigai bahwa saat pasar saham menjadi terlalu fluktuatif (volatile), level adrenalin trader turun sementara kortisol melonjak. Akibatnya, trader tidak mengambil risiko yang diperlukan untuk “menghidupkan” pasar yang lesu. Mereka justru membeku (freeze), nyaris tidak mampu membeli atau menjual apa pun selain obligasi teraman. Padahal, menurut Coates, pasar yang jatuh justru membutuhkan keserakahan dan investasi untuk bangkit.

Baca Juga :  Membangun Kembali Momentum Setelah Akhir Pekan

Bumerang Kebijakan The Fed

Faktor ketiga dalam teori Coates adalah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Sejak 1994, The Fed mengadopsi kebijakan Forward Guidance, di mana mereka menginformasikan rencana suku bunga jangka pendek secara transparan dan berkala.

Tujuannya mulia: memberikan kepastian. Namun, Coates berhipotesis hal ini justru menjadi bumerang. Di masa lalu, kebijakan The Fed yang rahasia dan acak membuat trader selalu waspada (on guard).

Dengan adanya Forward Guidance, transparansi ini justru menciptakan rasa aman palsu (complacency). Sebelum krisis 2008, pasar melonjak liar karena trader merasa aman mengambil risiko lebih besar, ibarat anjing pit bull yang lepas dari rantai.

Kurangi Transparansi atau Tambah Wanita?

Coates mengajukan proposal radikal: The Fed mungkin perlu kembali ke era yang lebih tertutup (opaque) untuk mencegah spekulasi liar.

Meskipun banyak ekonom menentang teori Coates, ia memberikan bukti fisiologis kuat mengenai kenekatan sekaligus kelumpuhan trader. Tentu saja, seperti yang dicatat oleh pengamat lain, mungkin ada solusi yang lebih sederhana untuk menyeimbangkan hormon di lantai bursa: biarkan lebih banyak wanita menjadi trader.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB