JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Banyak orang sering menyalahartikan keahlian sebagai bakat bawaan. Padahal, pada intinya, keahlian adalah perpaduan antara komitmen dan kreativitas. Ini adalah investasi waktu, energi, dan sumber daya yang masif pada satu bidang studi yang spesifik, ditambah energi kreatif untuk menghasilkan pengetahuan baru.
Tidak ada jalan pintas. Seseorang membutuhkan waktu yang cukup lama dan paparan rutin terhadap ribuan kasus sebelum dunia mengakuinya sebagai seorang ahli. Namun, bagaimana sebenarnya proses transformasi ini terjadi?
Evolusi dari Pemula ke Master
Seseorang memulai perjalanan sebagai pemula (novice). Pada tahap ini, mereka perlu mempelajari prinsip-prinsip dasar dan aturan main agar bisa melakukan tugas. Layaknya seseorang yang baru belajar catur, pemula membutuhkan mentor untuk mengajarkan tujuan permainan, fungsi bidak, dan aturan kemenangan.
Seiring berjalannya waktu dan latihan yang intensif, pemula mulai mengenali pola perilaku dalam kasus-kasus tertentu dan naik tingkat menjadi “journeyman” atau praktisi madya. Mereka tidak hanya melihat pola dalam satu kasus, tetapi juga hubungan antar-kasus. Dalam analogi catur, mereka mulai memahami strategi pembukaan dan pola kemenangan, meski masih membutuhkan bimbingan mentor untuk masalah kompleks.
Transisi terakhir terjadi ketika praktisi mulai membuat dan menguji hipotesis perilaku masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Saat mereka mampu menghasilkan pengetahuan secara kreatif—bukan sekadar mencocokkan pola—mereka menjadi ahli. Mereka tidak lagi bergantung pada mentor, melainkan bertanggung jawab atas pengetahuan mereka sendiri, menciptakan kasus baru alih-alih sekadar mempelajarinya.
Kekuatan Super Kognitif
Seorang ahli memiliki “penglihatan” yang berbeda. Di mana pemula melihat titik data yang acak dan terputus, seorang ahli melihat pola yang bermakna dan terhubung. Kemampuan ini bukan sihir, melainkan hasil dari pengorganisasian pengetahuan setelah mereka menghadapi ribuan kasus.
Para ahli memahami makna data dan menimbang variabel dengan kriteria yang lebih tajam. Mereka mampu mengidentifikasi variabel mana yang memiliki pengaruh terbesar pada masalah tertentu dan memusatkan perhatian di sana. Selain itu, mereka memiliki memori jangka pendek dan jangka panjang yang lebih baik dalam domain spesifik mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, ahli memecahkan masalah dengan cara berbeda. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di awal untuk benar-benar memahami masalah sebelum mencari solusi, berbeda dengan pemula yang cenderung terburu-buru. Mereka juga memiliki pemantauan diri (self-monitoring) yang lebih baik, lebih cepat menyadari kesalahan, dan tahu batas pengetahuan mereka sendiri.
Paradoks Prediksi
Namun, kekuatan keahlian ini menyimpan kelemahan fatal. Meski ahli sangat andal dalam analisis, mereka ternyata bukan peramal yang baik. Sejak tahun 1930-an, peneliti telah menguji kemampuan para ahli dalam membuat prediksi masa depan dibandingkan dengan tabel aktuaria atau model statistik sederhana.
Hasil dari 70 tahun penelitian dengan lebih dari dua ratus eksperimen sangat mengejutkan: Jawabannya adalah tidak. Jika menerima data yang sama, model statistik sering kali setara atau bahkan lebih baik daripada ahli dalam memprediksi masa depan. Bahkan saat memperoleh informasi kasus yang lebih spesifik, para ahli jarang bisa mengungguli model statistik.
Teorikus berpendapat bahwa ahli, seperti manusia pada umumnya, tidak konsisten saat menggunakan model mental untuk prediksi. Peneliti menuding berbagai bias kognitif manusia sebagai penyebab ketidakandalan ini. Meskipun para ilmuwan telah mempelajarinya selama 30 tahun terakhir, literatur ilmiah belum mencapai konsensus mengenai penyebab pasti atau manifestasi dari bias manusia ini, menyisakan misteri dalam dunia keahlian profesional.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















