BANDA ACEH, POSNEWS.CO.ID – Ancaman narkoba dan perundungan masih menjadi pekerjaan rumah dalam melindungi generasi muda.
Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan mengingatkan para pelajar agar tidak salah memilih pergaulan dan berani menolak tindakan yang dapat merusak masa depan.
Pesan itu disampaikan Ruddi saat memimpin upacara bendera di SMA Negeri 2 Banda Aceh, Senin (19/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan kepala sekolah, guru, dan siswa, ia menegaskan bahwa keberhasilan generasi muda tidak cukup diukur dari nilai akademik. Karakter, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama juga menentukan masa depan mereka.
Peringatan tersebut sejalan dengan data Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh. Sepanjang Januari hingga September 2026, Polda Aceh bersama jajaran mengungkap 979 kasus narkotika dengan 1.253 tersangka.
Dari jumlah itu, sebanyak 35 orang tercatat berasal dari kalangan pelajar atau remaja.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kelompok usia muda juga menghadapi ancaman penyalahgunaan dan peredaran narkotika.
Karena itu, Ruddi meminta siswa menjaga pergaulan, mengisi waktu dengan kegiatan positif, dan tidak mudah mengikuti ajakan yang berisiko.
“Adik-adik sekalian, masa sekolah sangat berharga untuk belajar, mengembangkan diri, dan meraih cita-cita. Karena itu, jagalah pergaulan, beranilah menolak ajakan yang mengarah pada penyalahgunaan narkoba, dan isi waktu dengan kegiatan positif,” pesan Ruddi.
Kapolda Aceh Ingatkan Bahaya Perundungan di Sekolah
Selain narkoba, Ruddi menyoroti perundungan atau bullying yang dapat membuat siswa merasa takut, tertekan, dan tidak aman saat mengikuti kegiatan belajar.
Data Polresta Banda Aceh yang disampaikan dalam amanat upacara mencatat empat kasus perundungan, dengan empat korban dan 14 pelaku.
Data tersebut memperkuat pentingnya keterlibatan sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk mencegah kekerasan antarsiswa.
Ruddi mengingatkan para pelajar agar tidak menjadikan ejekan, penghinaan, atau tindakan menyakiti teman sebagai bahan candaan. Sebaliknya, siswa perlu menghargai perbedaan dan saling mendukung.
“Jadilah teman yang saling menghargai, bukan menyakiti. Hindari ejekan, hargai perbedaan, dan jangan menganggap perundungan sebagai candaan. Jika mengalami atau menyaksikan perundungan, jangan ragu meminta bantuan kepada guru atau orang tua,” tegasnya.
Ia juga meminta para guru membangun komunikasi terbuka dengan siswa. Pendidik perlu memperhatikan perubahan perilaku anak dan menindaklanjuti laporan perundungan secara bijaksana agar masalah tidak berlarut-larut.
Prestasi Harus Diiringi Karakter dan Kepedulian
Ruddi mengajak siswa SMA Negeri 2 Banda Aceh memanfaatkan masa sekolah untuk mengembangkan kemampuan, membangun disiplin, dan mengejar cita-cita.
Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan prestasi akademik dengan kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga mengingatkan siswa untuk menghormati guru, menyayangi orang tua, serta memilih lingkungan pertemanan yang membawa pengaruh baik.
“Saya percaya, dari SMA Negeri 2 Banda Aceh akan lahir generasi hebat yang membanggakan orang tua, mengharumkan nama Aceh, dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.
Abituren Akabri 1996 itu menegaskan bahwa perlindungan generasi muda bukan hanya tanggung jawab kepolisian.
Sekolah, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendorong anak-anak tumbuh dengan karakter positif.
Melalui semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, Ruddi berharap para pelajar berani menjauhi narkoba, menghentikan perundungan, dan memilih tindakan yang bermanfaat.
Sebab, masa depan Aceh membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, menghargai sesama, dan berani mengambil keputusan yang benar. **
Editor : Hadwan













