Neraka di Chili Selatan: Kebakaran Hutan Tewaskan 18 Orang

Selasa, 20 Januari 2026 - 01:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Api melalap ribuan hektare lahan di Bio-Bio dan Nuble. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi di tengah kepungan asap tebal dan kobaran api yang tak terkendali. Dok: Istimewa.

Api melalap ribuan hektare lahan di Bio-Bio dan Nuble. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi di tengah kepungan asap tebal dan kobaran api yang tak terkendali. Dok: Istimewa.

SANTIAGO, POSNEWS.CO.ID – Tragedi melanda Chili tengah-selatan. Presiden Gabriel Boric dengan berat hati mengumumkan pada hari Selasa (20/1) bahwa kebakaran hutan yang mengamuk di wilayah Bio-Bio dan Nuble telah merenggut setidaknya 18 nyawa.

Kekhawatiran masih menghantui, sebab otoritas memprediksi jumlah korban tewas bisa terus bertambah seiring tim penyelamat menyisir lokasi yang hangus.

Merespons krisis yang memburuk, Presiden Boric segera mendeklarasikan “keadaan bencana” (state of catastrophe) untuk kedua wilayah tersebut melalui media sosial. Langkah ini memberikan wewenang penuh untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang diperlukan guna memerangi api yang kian ganas.

Baca Juga :  Pasukan Pakistan Rebut Kembali Kota Nushki: 197 Militan Tewas dalam Operasi Skala Besar

24 Titik Api Tak Terkendali

Data dari Korporasi Kehutanan Nasional Chili melukiskan situasi yang genting. Hingga pukul 09.30 pagi waktu setempat, petugas pemadam kebakaran belum berhasil menaklukkan 24 titik api aktif.

Sembilan titik api berada di wilayah Nuble, sementara tiga lainnya berkobar di Bio-Bio. Kebakaran terbesar terjadi di kota Ranquil, Nuble, yang telah melahap sekitar 2.200 hektare lahan—sebuah area yang luas dan terus meluas.

Eksodus 30.000 Warga

Komunitas Penco, wilayah Bio-Bio, merasakan dampak kemanusiaan paling parah. Alicia Sefrian, direktur Layanan Pencegahan dan Respons Bencana Nasional Chili, memberikan laporan situasi yang mencekam kepada media.

Baca Juga :  BNPB Peringatkan Longsor Susulan, Pasca Sampah TPST Bantargebang Tewaskan 4 Orang

“Kami harus mengevakuasi setidaknya 30.000 penduduk di Penco,” ungkap Sefrian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warga harus meninggalkan rumah mereka di tengah kepanikan untuk menghindari jilatan api. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penilaian menyeluruh terhadap kerusakan properti, namun mereka memperkirakan kehancuran infrastruktur sangat masif.

Pemerintah Chili kini berpacu dengan waktu dan angin kencang untuk menyelamatkan sisa wilayah sebelum api melahapnya, sembari menyalurkan bantuan bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB