ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Maret 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

KINGSVILLE, POSNEWS.CO.ID – Operasi penegakan imigrasi yang ilegal kini memecah belah sebuah keluarga di Texas. Petugas Border Patrol menahan Tania Warner dan putrinya yang mengidap autisme, Ayla Luca (7), saat mereka dalam perjalanan pulang dari acara baby shower.

Penahanan ini terjadi di pos pemeriksaan Sarita meskipun Warner memiliki dokumen kependudukan yang lengkap. Suaminya, Edward Warner, mengecam keras tindakan petugas tersebut. “Istri saya memiliki nomor jaminan sosial dan visa fungsional yang berlaku hingga 2030,” tegas Edward kepada media.

Tekanan Psikologis dan Opsi “Deportasi Mandiri”

Kondisi di dalam ruang tahanan memberikan tekanan batin yang besar bagi anak dengan kebutuhan khusus. Tania harus berbisik saat menelepon suaminya agar petugas tidak mendengar pembicaraan mereka. Selain itu, Edward melaporkan bahwa Ayla mulai mengalami ruam kulit akibat kondisi lingkungan penahanan yang tidak higienis.

Pihak ICE memberikan tawaran yang menyulitkan bagi keluarga tersebut. Mereka menjanjikan kebebasan hanya jika Tania menyetujui “deportasi mandiri” kembali ke Kanada. Namun, keluarga Warner menolak mentah-mentah opsi tersebut. Edward menegaskan bahwa hukum Amerika Serikat seharusnya melindungi keluarga sah mereka, bukan mengusir mereka secara paksa.

Pusat Penahanan Dilley: Sejarah Kelam yang Hidup Kembali

Otoritas memindahkan Warner dan Ayla ke pusat penahanan Dilley pada Jumat pagi setelah sebelumnya mereka harus tidur di lantai pusat pemrosesan Rio Grande Valley. Fasilitas ini memiliki sejarah panjang yang kontroversial. Joe Biden sempat menutup Dilley, namun administrasi saat ini membukanya kembali pada awal 2025.

Lembaga hak asasi manusia sering mengkritik Dilley karena mengabaikan standar kemanusiaan. Laporan menyebutkan adanya wabah penyakit, kurangnya air bersih, hingga layanan medis yang sangat buruk di sana. Oleh karena itu, banyak pihak memandang penahanan anak autis di fasilitas semacam ini sebagai pelanggaran serius terhadap standar kemanusiaan internasional di tahun 2026.

Baca Juga :  Krisis Kesatuan Kanada: Alberta Gelar Referendum Batasi Imigran

Respon Diplomatik dan Kecaman Kongres

Kasus ini menarik perhatian serius dari pemerintah Kanada. Kementerian Urusan Global Kanada mengonfirmasi bahwa mereka sedang menangani beberapa kasus serupa yang melibatkan warga negaranya di AS. “Kami mengadvokasi warga kami, namun kami tidak dapat membatalkan proses hukum setempat secara sepihak,” ujar juru bicara kementerian tersebut.

Di tingkat domestik, Anggota Kongres Demokrat, Vicente Gonzalez, mendesak otoritas segera membebaskan Warner dan Ayla. Menurutnya, penahanan ini merupakan dampak dari operasi imigrasi administrasi saat ini yang tidak terkendali. Pengacara imigrasi Heather Neufeld memperingatkan bahwa proses pembebasan melalui pengadilan federal bisa memakan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, ketidakpastian hukum kini mengancam keutuhan keluarga ini dalam waktu yang sangat lama.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah
Taiwan Keluarkan Peringatan Darat Menyusul Ancaman Topan
Intelijen AS Buka Suara Soal Kampanye Disinformasi Rusia
Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX
Elon Musk Ancam Politisi Demokrat Terkait Rencana Penyelidikan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:28 WIB

Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Taiwan Keluarkan Peringatan Darat Menyusul Ancaman Topan

Berita Terbaru