Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Maret 2026 - 09:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Siaga keamanan di Perth. Otoritas kepolisian Australia memberlakukan zona eksklusi di Terminal 1 Bandara Perth guna menginvestigasi laporan tas tak bertuan yang memicu penumpukan penumpang pada Rabu siang. Dok: Istimewa.

SYDNEY, POSNEWS.CO.ID – Sebuah laporan baru dari Institute for Economics & Peace (IEP) mengungkap pergeseran peta terorisme dunia pada tahun 2026. Meskipun angka kematian global mencapai titik terendah dalam sepuluh tahun, Nigeria dan Republik Demokratik Kongo (DRC) justru mengalami eskalasi kekerasan jihadis yang signifikan.

Nigeria kini menempati peringkat keempat dalam Indeks Terorisme Global, di belakang Pakistan, Burkina Faso, dan Niger. Total kematian akibat terorisme di Nigeria naik drastis dari 513 jiwa pada 2024 menjadi 750 jiwa sepanjang tahun lalu.

Krisis Multifaset di Nigeria: Munculnya Ancaman Baru

Negara dengan populasi terbesar di Afrika ini sedang berjuang menghadapi krisis keamanan yang sangat kompleks. Kelompok Boko Haram dan pecahannya terus berupaya menguasai wilayah di utara. Selain itu, kelompok teroris baru seperti Lakurawa mulai muncul dan memberikan ancaman tambahan bagi stabilitas nasional.

Kebrutalan konflik ini terlihat jelas pada tragedi di negara bagian Kwara bulan Februari lalu, di mana 162 orang tewas dalam satu serangan massal. Militer Nigeria melaporkan bahwa mereka baru saja berhasil memukul mundur serangan terkoordinasi di Borno dan menewaskan 80 pemberontak. Namun, serangan bom bunuh diri di Maiduguri yang menewaskan puluhan orang membuktikan bahwa sel-sel teroris masih sangat aktif.

Eskalasi di Kongo dan Lonjakan di Dunia Barat

Kondisi serupa terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC). Angka kematian terkait terorisme di sana naik 28% menjadi 467 jiwa pada tahun 2025. Kelompok Allied Democratic Forces (ADF) yang berafiliasi dengan ISIS menjadi penggerak utama kekerasan di wilayah pusat Afrika tersebut.

Kontras dengan tren di Afrika, negara-negara Barat mencatat lonjakan kematian sebesar 280% meskipun total angkanya masih relatif kecil (57 kematian). Amerika Serikat mencatat 28 kematian, angka tertinggi sejak 2019. IEP mengidentifikasi bahwa radikalisasi pemuda dan serangan “lone-wolf” menjadi pendorong utama meningkatnya ancaman di wilayah Barat.

Strategi “Hati dan Pikiran” di Sahel dan Penggunaan Drone

Kawasan Sahel tetap menjadi episentrum terorisme global dengan menyumbang lebih dari separuh kematian dunia. Namun, terjadi perubahan taktik yang unik di wilayah ini. Kelompok afiliasi Al-Qaeda, JNIM, mulai mengurangi serangan terhadap warga sipil guna memenangkan dukungan publik atau strategi “hati dan pikiran”.

Baca Juga :  Negosiasi Damai Abu Dhabi: Pertukaran Tahanan Besar-Besaran

Militan di Sahel kini lebih fokus mengincar target bernilai tinggi seperti personel militer dan tokoh politik. Selain itu, penggunaan teknologi drone meningkat drastis. JNIM tercatat menggunakan drone dalam lebih dari 100 insiden kekerasan selama tiga tahun terakhir. ISWAP juga mulai mengoperasikan drone untuk misi pengumpulan intelijen dan pengawasan guna mempersiapkan serangan darat.

Kesimpulan: Tatanan Dunia yang Retak

Pendiri IEP, Steve Killelea, memperingatkan bahwa pencapaian dalam melawan terorisme selama satu dekade terakhir kini berada dalam risiko. “Tatanan dunia yang retak berisiko menghapus kemajuan yang telah kita bangun dengan susah payah,” ujar Killelea.

Konsentrasi serangan kini semakin meningkat di wilayah perbatasan, terutama di area tri-border Sahel Tengah dan Cekungan Danau Chad. Tantangan bagi pemerintah di tahun 2026 bukan lagi sekadar memadamkan api pemberontakan, melainkan menghadapi adaptasi taktis kelompok militan yang semakin canggih dan terintegrasi secara teknologi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Heroik! Damkar Berjibaku 3 Jam Selamatkan Bocah dari Lubang Proyek di Jaksel
8 Tersangka Jaringan Vape Narkotika Diciduk di Bandara Kualanamu, Ada Wanita Hamil
Polisi Ringkus Lima Terduga Pelaku Pembacokan di Tanah Tinggi Johar Baru
Kapal dari Laut Thailand Bawa 325 Kg Sabu, Bareskrim Polri Ringkus Dua Kurir
Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan
Jakarta Bangun Akses Bawah Tanah ke MRT, Hotel-Hotel Ikonik Terintegrasi
Pohon Tumbang Timpa Dua Mobil, Sudin Tamhut Jakarta Utara Sisir Pohon Berisiko
Teriak Minta Tolong, Pemuda Luka Bacok di Bekasi Diduga Jadi Korban Begal

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:11 WIB

Heroik! Damkar Berjibaku 3 Jam Selamatkan Bocah dari Lubang Proyek di Jaksel

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:40 WIB

8 Tersangka Jaringan Vape Narkotika Diciduk di Bandara Kualanamu, Ada Wanita Hamil

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:03 WIB

Polisi Ringkus Lima Terduga Pelaku Pembacokan di Tanah Tinggi Johar Baru

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:26 WIB

Kapal dari Laut Thailand Bawa 325 Kg Sabu, Bareskrim Polri Ringkus Dua Kurir

Minggu, 28 Juni 2026 - 11:00 WIB

Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan

Berita Terbaru