ATHENA, POSNEWS.CO.ID – Sejak penyair Homer menciptakan epos dan orang Yunani Kuno menggelar lomba lari 200 meter pertama demi ranting zaitun liar, Olimpiade telah berkembang jauh melampaui sekadar kompetisi fisik. Ajang ini adalah perayaan kemajuan manusia.
Daya tariknya tak terbantahkan. Pada Olimpiade Athena 2004, separuh penduduk bumi—sekitar 3,4 miliar orang—menyaksikan pertandingan lewat televisi. Menjadi penonton memang pengalaman yang mendebarkan. Namun, pertanyaan ilmiahnya adalah: mengapa?
Penemuan “Kalimat” dalam Otak
Jawabannya mulai terkuak pada tahun 1996. Tiga ahli saraf Italia—Giacomo Rizzolatti, Leonardo Fogassi, dan Vittorio Gallese—membedah misteri ini dengan meneliti korteks premotorik monyet.
Mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan: di dalam otak primata, terdapat kelompok sel yang “menyimpan kosakata tindakan motorik.” Layaknya tata bahasa, jaringan sel ini membentuk “kalimat” tubuh yang kita gunakan sehari-hari. Otak memilih, menyimpan, dan menyempurnakan gerakan-gerakan ini.
Ambil contoh ayunan stik golf. Bagi penonton TV, gerakan itu tampak mudah. Namun bagi pemula, mengayunkan tongkat logam dengan mulus adalah hal yang mustahil. Mengapa? Karena pemula mengayun dengan kesadaran penuh, menggunakan area otak di sebelah korteks premotorik.
Sebaliknya, bagi seorang ahli, pukulan yang seimbang adalah naluri kedua. Sang ahli telah menghafal aksi motorik tersebut, dan gerakannya tertanam kuat dalam neuron korteks premotoriknya. Ia memukul bola dengan ketenangan autopilot yang sempurna.
Kita Menjadi Apa yang Kita Tonton
Neuron-neuron di korteks premotorik ini memiliki karakteristik yang lebih menakjubkan, yang membuat Rizzolatti dan timnya menjulukinya sebagai “neuron cermin” (mirror neurons).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta kuncinya adalah: neuron ini menjadi aktif tidak hanya saat individu melakukan tindakan (seperti memegang benda), tetapi juga—dan ini yang mencengangkan—saat individu tersebut melihat orang lain melakukan tindakan serupa.
Manusia memiliki sistem neuron cermin yang lebih rumit. Sel-sel unik ini memantulkan dunia luar ke dalam otak; mereka memungkinkan kita menginternalisasi tindakan orang lain. Namun, sel ini hanya aktif untuk “gerakan yang berorientasi pada tujuan”. Jika kita menatap foto pelari yang diam, neuron cermin kita diam. Mereka hanya menyala saat pelari itu bergerak aktif atau berlari cepat.
Resonansi Gelombang Otak
Studi elektrofisiologis menunjukkan bahwa saat kita menonton pegolf atau pelari beraksi, neuron cermin di korteks premotorik kita menyala seolah-olah kita sendirilah yang sedang bertanding.
Fenomena cermin saraf ini sebenarnya memiliki jejak sejarah sejak 1954. Dua fisiolog Prancis, Gastaut dan Berf, menemukan bahwa otak manusia bergetar dengan dua panjang gelombang berbeda: alfa dan mu. Sistem mu terlibat dalam pencerminan saraf. Ia aktif saat tubuh diam, dan menghilang saat kita melakukan sesuatu yang aktif. Fakta mengejutkannya adalah sinyal mu juga menjadi “tenang” saat kita melihat orang lain aktif, seperti di TV. Ini adalah efek kerja neuron cermin.
Emosi Bersama di Garis Finis
Rizzolatti dan rekannya menyebut ini sebagai “hipotesis pencocokan langsung” (direct matching hypothesis). Kita hanya benar-benar memahami gerakan bintang olahraga ketika kita memetakan aksi visual mereka ke dalam representasi motorik kita sendiri.
Namun, neuron cermin lebih dari sekadar dasar saraf bagi penggemar olahraga. Menonton pegolf hebat ternyata bisa membuat kita menjadi pegolf yang lebih baik. Kemampuan belajar dengan meniru (mimesis) adalah bagian penting dari kesadaran manusia, mulai dari bayi yang belajar bahasa hingga meniru ekspresi wajah.
Lebih dari itu, kita menonton olahraga demi drama kemanusiaan. Perasaan ini juga berasal dari neuron cermin yang terhubung langsung ke amigdala, wilayah otak pengatur emosi. Saat Olimpiade berlangsung, neuron cermin satu bangsa akan “menyala” secara identik. Penonton merasakan apa yang atlet rasakan.
Kebanyakan dari kita mungkin tidak akan pernah berlari satu mil di bawah empat menit. Namun, penghiburan kita datang saat menonton: ketika kita berkumpul di depan TV, kita semua merasakan, sejenak saja, bagaimana rasanya melakukan sesuatu dengan sempurna.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















