Seni Berbohong dan Sains Mendeteksi Kebohongan

Jumat, 2 Januari 2026 - 20:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Manusia berbohong hingga 200 kali sehari. Namun, alam memberi petunjuk halus di wajah untuk membongkar tipu daya tersebut. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Manusia berbohong hingga 200 kali sehari. Namun, alam memberi petunjuk halus di wajah untuk membongkar tipu daya tersebut. Dok: Istimewa.

SAN FRANCISCO, POSNEWS.CO.ID – Betapa pun kita membencinya, tipu daya mengalir secara alami dalam darah semua makhluk hidup. Burung berpura-pura cedera untuk menjauhkan predator dari sarang, sementara kepiting laba-laba menyamar dengan rumput laut untuk mengelabui musuh. Alam memberi hadiah kelangsungan hidup bagi penipu yang ulung.

Manusia pun setali tiga uang. Psikolog Gerald Jellison dari University of South California memperkirakan bahwa manusia menerima kebohongan sekitar 200 kali sehari—rata-rata satu ketidakjujuran setiap lima menit. Motifnya pun serupa dengan hewan: menyelamatkan diri atau mendapatkan sesuatu yang sulit diraih dengan cara jujur.

Membaca Tanda, Menyelamatkan Diri

Namun, kemampuan mendeteksi kebohongan sama pentingnya dengan kemampuan berbohong itu sendiri. Seseorang yang mampu mengendus kepalsuan dengan cepat akan terhindar dari penipuan bisnis atau pasangan yang tidak setia. Beruntungnya, alam menyediakan petunjuk melimpah untuk menjebak para pembohong dalam jaring mereka sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Paul Ekman, profesor psikologi di University of California, San Francisco, telah menghabiskan 15 tahun terakhir untuk membedah seni rahasia ini. “Dengan pelatihan yang tepat, banyak orang bisa belajar mendeteksi kebohongan secara andal,” ujar Ekman.

Baca Juga :  Mengapa Uang Tidak Membeli Kegembiraan dan Gen Menentukan 50% Nasibmu?

Para peneliti bahkan kini memprogram komputer untuk menganalisis isyarat fisik yang sama dengan yang mata telanjang tangkap. Kunci utamanya terletak pada kecerdasan emosional: kemampuan mendeteksi stres, konflik batin yang pembohong rasakan antara kebenaran dan apa yang mereka ucapkan.

Poligraf dan Keterbatasan Teknologi

Alat canggih seperti poligraf atau detektor kebohongan sebenarnya tidak mendeteksi kebohongan secara langsung. Alat ini hanya mengukur isyarat fisik emosi, seperti detak jantung dan keringat, yang cenderung meningkat saat orang gugup.

Karena itulah, lonjakan konduktivitas kulit bisa mengindikasikan kegugupan karena berbohong. Akan tetapi, di sisi lain, hal itu juga bisa terjadi hanya karena lampu studio yang terlalu panas. Ekman menegaskan bahwa pendeteksi kebohongan yang baik tidak bergantung pada satu tanda saja, melainkan menginterpretasikan kumpulan petunjuk verbal dan nonverbal.

Wajah: Jendela Jiwa yang Jujur

Petunjuk paling otentik sering kali tertulis jelas di wajah. Karena otot wajah terhubung langsung ke area otak pemroses emosi, ekspresi muka menjadi jendela jiwa yang sulit tertutup rapat. Studi neurologis menunjukkan bahwa emosi tulus dan palsu menempuh jalur otak yang berbeda.

Baca Juga :  Ancaman Topan Raksasa: Bavi Bersiap Terjang Taiwan

Sangat sedikit orang—terutama aktor hebat dan politisi ulung—yang mampu mengontrol seluruh ekspresi wajah mereka secara sadar. Kebohongan sering kali terbongkar saat perasaan asli “bocor” sejenak melalui topeng kepalsuan. “Kita tidak berpikir sebelum merasa,” kata Ekman. “Ekspresi cenderung muncul di wajah bahkan sebelum kita sadar sedang mengalami emosi tersebut.”

Senyum Palsu vs Senyum Tulus

Salah satu ekspresi yang paling sulit dipalsukan adalah kesedihan. Saat seseorang benar-benar sedih, dahi akan berkerut dan sudut dalam alis tertarik ke atas. Kurang dari 15% orang yang Ekman uji mampu melakukan gerakan alis ini secara sukarela. Jika seseorang mengaku sedih namun alisnya datar, kemungkinan besar itu adalah air mata buaya.

Sebaliknya, senyum adalah ekspresi termudah untuk dipalsukan. Cukup menarik dua otot zygomaticus major di pipi, dan Anda sudah tersenyum. Namun, ada satu tangkapan. Senyum tulus melibatkan otot orbicularis oculi di sekitar mata yang menciptakan kerutan “kaki gagak” (crow’s-feet).

Ketiadaan kerutan di sudut mata dan alis yang tidak turun adalah tanda bahaya. Itulah sebabnya senyum palsu sering terlihat kaku dan tegang; bibir tersenyum, namun mata tidak berbicara.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB