Omzet Rp5 Miliar Sebulan, Sindikat Gas N2O Whip-Pink Dibongkar Bareskrim

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Barang bukti tabung gas N2O merek Whip-Pink yang diduga tidak memenuhi standar BPOM dan disalahgunakan sebagai gas tawa di Jakarta.

Barang bukti tabung gas N2O merek Whip-Pink yang diduga tidak memenuhi standar BPOM dan disalahgunakan sebagai gas tawa di Jakarta.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri membongkar praktik produksi dan peredaran tabung gas dinitrogen monoksida (N2O) atau gas tawa bermerek Whip-Pink yang diproduksi di Jakarta.

Hasil penyelidikan menunjukkan produk tersebut diduga tidak memenuhi ketentuan BPOM dan disalahgunakan di luar peruntukannya sebagai bahan tambahan pangan.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi mengatakan hasil pemeriksaan bersama BPOM menemukan tabung gas Whip-Pink tidak memenuhi ketentuan dalam Surat Edaran BPOM Nomor 2 Tahun 2026 tentang produksi, impor, registrasi, dan peredaran bahan tambahan pangan dinitrogen monoksida (N2O).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tabung gas N2O merek Whip-Pink tidak memenuhi standar Surat Edaran BPOM Nomor 2 Tahun 2026,” ujar Eko, Selasa (28/7/2026).

Dijual Lewat WhatsApp, Data Pembeli Tak Pernah Diverifikasi

Kasus ini bermula dari penggerebekan di tiga lokasi di Jakarta pada 13-14 April 2026. Penyidik menetapkan dua orang sebagai tersangka yang diduga mengendalikan produksi sekaligus distribusi Whip-Pink.

Baca Juga :  Kronologi Perawat Klinik Gigi Ditikam Pasien Usai Pembersihan Karang Gigi

Polisi mengungkap para pelaku memasarkan produk melalui media sosial dan aplikasi WhatsApp.

Pembeli memang diminta mengisi formulir pemesanan dengan identitas usaha kuliner, alamat, dan jumlah pesanan.

Namun, penyidik menemukan data tersebut hanya formalitas karena perusahaan tidak pernah melakukan verifikasi.

Uji Lab Ungkap Isi Tabung dan Dugaan Penyalahgunaan

Hasil uji Laboratorium Forensik Polri dan BPOM menunjukkan seluruh tabung berisi gas N2O murni standar gas medis untuk anestesi, bukan gas yang memenuhi standar sebagai bahan tambahan pangan.

Penyidik juga menemukan nozzle atau corong plastik yang disertakan tidak sesuai untuk alat pembuat krim makanan.

Berdasarkan keterangan ahli, aksesori tersebut justru diduga dirancang agar gas dapat dihirup langsung.

Diduga Menyasar Tempat Hiburan Malam

Penyidikan juga mengungkap jaringan ini tidak hanya menjual kepada konsumen perorangan, tetapi juga memasok gas N2O ke sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta.

Baca Juga :  Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pemuda di Senen Diduga Disekap Selama Tiga Pekan

Di lokasi tersebut, gas diduga disajikan menggunakan balon dan dijual kepada pengunjung.

Polisi turut menemukan promosi “Buy 5 Get 1 Free” serta penggunaan logo dan nama Djakarta Warehouse Project (DWP) XV Bali 2023 tanpa izin. Materi promosi itu akhirnya dihapus setelah penyelenggara DWP melayangkan somasi.

Omzet Capai Rp5 Miliar per Bulan

Bareskrim mengungkap jaringan ini menerapkan harga berbeda untuk wilayah Jakarta dan Bali, dengan selisih mencapai Rp150 ribu per tabung.

Harga jual di Jakarta berkisar Rp390 ribu hingga Rp1,75 juta per tabung. Dengan rata-rata penjualan sekitar 100 tabung per hari, omzet kotor yang diperoleh diperkirakan mencapai Rp2 miliar hingga Rp5 miliar setiap bulan.

Eko menegaskan para pelaku diduga menggunakan label bahan tambahan pangan untuk menutupi pelanggaran di bidang kesehatan. Padahal, penyalahgunaan gas N2O dapat memicu hipoksia, gangguan saraf, kehilangan kesadaran, hingga kematian apabila dihirup tanpa pengawasan medis.

Kedua tersangka dijerat Pasal 435 UU Kesehatan dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelaku Pembunuhan Intan Rahmania Pakai KTP Paman, Berpindah Tempat Hilangkan Jejak
Polisi Tangkap Pengedar 7,2 Kg Sabu di Jakbar, Upah Rp5 Juta per Kg
Janjian Lewat MiChat Berujung Maut, Wanita 18 Tahun Tewas Dicekik
Cekcok Berujung Pencekikan, Wanita 19 Tahun Tewas di Hotel Tanah Abang
Dugaan TPKS Artis ATT alias BP Terjadi di Sekitar SCBD, Polisi Masih Selidiki
Sopir dan Kernet Tewas, Truk Kontainer Terguling di Tol Slipi
Guru Renang di Depok Diduga Dipukul Ojol hingga Tabrak Tiang
Polisi Bongkar 3 Klaster Kerusuhan Pejompongan, Alur Dana Mulai Terungkap

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 06:17 WIB

Pelaku Pembunuhan Intan Rahmania Pakai KTP Paman, Berpindah Tempat Hilangkan Jejak

Senin, 14 September 2026 - 18:27 WIB

Polisi Tangkap Pengedar 7,2 Kg Sabu di Jakbar, Upah Rp5 Juta per Kg

Senin, 14 September 2026 - 15:08 WIB

Janjian Lewat MiChat Berujung Maut, Wanita 18 Tahun Tewas Dicekik

Senin, 14 September 2026 - 09:20 WIB

Cekcok Berujung Pencekikan, Wanita 19 Tahun Tewas di Hotel Tanah Abang

Minggu, 13 September 2026 - 16:06 WIB

Dugaan TPKS Artis ATT alias BP Terjadi di Sekitar SCBD, Polisi Masih Selidiki

Berita Terbaru

Serangan terhadap jalur pipa minyak Arab Saudi dan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak di atas $100 per barel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Terhadap Pipa Minyak Arab Saudi dan Kapal Teluk

Selasa, 15 Sep 2026 - 07:24 WIB

 PM Kanada Mark Carney jajaki status anggota asosiasi Uni Eropa di tengah eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat era Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kanada Jajaki Status Anggota Asosiasi Uni Eropa

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:19 WIB

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. (Posnews/KPK)

NASIONAL

KPK OTT BPN Bogor: 17 Orang Diamankan, Nama Summarecon Mencuat

Selasa, 15 Sep 2026 - 05:40 WIB