44 Politisi Progresif Terancam Larangan Politik Seumur Hidup

Sabtu, 25 April 2026 - 09:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pengepungan hukum terhadap reformis. Mahkamah Agung Thailand resmi memproses gugatan terhadap 44 politisi People's Party. Dok: Istimewa.

Pengepungan hukum terhadap reformis. Mahkamah Agung Thailand resmi memproses gugatan terhadap 44 politisi People's Party. Dok: Istimewa.

BANGKOK, POSNEWS.CO.ID – Stabilitas politik di “Negeri Gajah Putih” kembali berguncang akibat eskalasi sengketa hukum di tingkat tertinggi. Mahkamah Agung Thailand secara resmi memulai proses persidangan terhadap puluhan tokoh kunci dari gerakan progresif nasional.

Dalam konteks ini, pengadilan menerima petisi yang menuduh adanya pelanggaran etika sistemik oleh para politisi tersebut. Oleh karena itu, masa depan kepemimpinan oposisi kini berada dalam ketidakpastian hukum yang sangat ekstrem di tahun 2026 ini.

Bidikan Terhadap Arsitek Amandemen Lese-Majeste

Daftar 44 individu yang akan menjalani persidangan mencakup nama-nama besar di panggung politik Thailand. Tokoh sentral seperti pemimpin People’s Party, Natthaphong Ruengpanyawut, dan wakilnya, Sirikanya Tansakul, masuk dalam daftar tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara khusus, gugatan ini berakar pada aksi politik mereka di tahun 2021. Saat itu, mereka berupaya mengamandemen Pasal 112 KUHP atau hukum lese-majeste yang melindungi monarki dari kritik. Akibatnya, pemerintah melabeli langkah tersebut sebagai pelanggaran etika berat yang merusak tatanan konstitusional negara. Publik mengenal Thailand sebagai negara dengan hukum perlindungan kerajaan paling ketat di dunia. Hukum ini mengancam para pelanggar dengan hukuman penjara hingga 15 tahun.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek 26–27 Februari 2026, Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Ancaman Larangan Berpolitik Seumur Hidup

Analis memprediksi konsekuensi hukum kasus ini akan mengubah peta kekuatan politik secara permanen. Jika hakim menyatakan mereka bersalah, ke-44 politisi tersebut menghadapi ancaman hukuman maksimal berupa larangan memegang jabatan publik seumur hidup.

Meskipun demikian, Mahkamah Agung mengambil keputusan untuk tidak memberhentikan sementara 10 anggota parlemen yang saat ini masih menjabat. Hakim mengizinkan mereka tetap menjalankan tugas legislatif hingga putusan final jatuh. Oleh sebab itu, People’s Party kini harus beroperasi di bawah bayang-bayang ancaman diskualifikasi massal. Ancaman ini berpotensi melumpuhkan struktur kepemimpinan partai di parlemen.

Rentetan Pukulan bagi Gerakan Liberal

Kasus ini merupakan babak terbaru dari serangkaian hambatan yang kelompok liberal hadapi sejak kemenangan mereka pada pemilu 2023. Sebelumnya, Mahkamah Konstitusi telah membubarkan Partai Move Forward karena menganggap kampanye mereka membahayakan sistem demokrasi.

Baca Juga :  Manuver Kilat Trump: Naikkan Tarif Global ke Batas Maksimal

Para politisi kemudian menyusun kekuatan kembali di bawah bendera People’s Party. Namun, dalam pemilihan umum Februari 2026, mereka secara mengejutkan finis di urutan kedua. Partai Bhumjaithai pimpinan Perdana Menteri Anutin Chanvirakul berhasil mengamankan mandat untuk memimpin pemerintahan. Sebagai hasilnya, kegagalan elektoral dan pengepungan yudisial kini menjepit posisi oposisi secara intensif.

Menanti Sidang 30 Juni

Masa depan demokrasi Thailand di tahun 2026 kini bergantung pada independensi lembaga peradilan. Pada akhirnya, persidangan yang akan bermula pada 30 Juni mendatang akan menjadi ujian besar bagi kebebasan berekspresi di tingkat elit politik.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah proses hukum ini murni penegakan etika atau merupakan instrumen politik untuk membungkam aspirasi reformasi. Di tengah dinamika Asia Tenggara yang volatil, ketegangan di Bangkok membuktikan bahwa isu kedaulatan monarki tetap menjadi garis merah yang paling sensitif dalam politik dalam negeri Thailand.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB