JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama 130 tahun, sejak kelahirannya di laboratorium Leipzig, psikologi modern memiliki obsesi aneh terhadap penderitaan. Para ilmuwan menghabiskan ribuan jam meneliti kesedihan, kemarahan, dan kecemasan. Perpustakaan penuh dengan teori tentang mengapa kita sengsara.
Namun, Martin Seligman, seorang psikolog terkemuka, mengajukan pertanyaan radikal: Mengapa sains mengabaikan hal-hal yang berjalan baik? Mengapa sukacita, kebaikan, dan altruisme dianggap tidak layak diteliti? Faktanya, untuk setiap 100 makalah tentang depresi, hanya ada satu yang membahas sifat positif.
Kini, Seligman memelopori gerakan “Psikologi Positif” untuk mengubah paradigma tersebut. Kabar buruknya adalah otak kita memang tidak dirancang untuk bahagia. Akan tetapi, kabar baiknya adalah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya.
Eksperimen Permen dan Dokter Cerdas
Beberapa perintis telah melawan arus. Profesor Alice Isen dari Universitas Cornell membuktikan bahwa emosi positif membuat orang berpikir lebih cepat dan kreatif. Dalam sebuah eksperimen cerdas, ia membagi dokter yang sedang melakukan diagnosis rumit menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama menerima permen, kelompok kedua membaca pernyataan humanistik, dan kelompok ketiga tidak mendapat apa-apa. Hasilnya mengejutkan: dokter yang memakan permen menunjukkan pemikiran paling kreatif dan bekerja lebih efisien. Kebahagiaan sederhana ternyata mendongkrak kecerdasan.
Terinspirasi oleh temuan ini, Seligman menggalang dana jutaan dolar dan mendanai 50 kelompok riset di seluruh dunia. Bahkan, mereka mendirikan pusat psikologi yang ceria, lengkap dengan sofa nyaman, untuk mendiskusikan topik seperti “rasa takjub”.
Warisan Zaman Es: Otak yang Paranoid
Namun, para kritikus mempertanyakan relevansi studi ini di tengah masalah dunia yang pelik seperti kelaparan dan banjir. Untuk menjawabnya, kita harus melihat ke masa lalu evolusi kita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Homo sapiens berevolusi selama era Pleistosen, zaman penuh kesulitan dan bencana alam. Nenek moyang kita bertahan hidup dari kebekuan Zaman Es, banjir ganas, dan predator mengerikan seperti kucing sabre-toothed. Akibatnya, otak manusia terbentuk dalam cetakan “bertahan hidup”.
“Karena otak kita berevolusi selama masa es, banjir, dan kelaparan, kita memiliki otak bencana (catastrophic brain),” jelas Profesor Seligman. Cara kerja otak adalah terus-menerus mencari apa yang salah. Mekanisme ini menyelamatkan nyawa di zaman purba, namun di dunia modern yang aman, hal ini justru menjadi penghalang kebahagiaan.
Biologi Ketidakpuasan
Bukti biologis mendukung pandangan ini. Neurosaintis di Universitas Iowa menemukan bahwa gambar menyenangkan mengaktifkan lobus frontal—area otak yang berevolusi paling akhir dan digunakan untuk pemikiran tinggi. Sebaliknya, gambar tidak menyenangkan memicu respons dari bagian otak yang lebih primitif dan kuno.
Daniel Nettle, penulis buku Happiness, menyoroti jebakan biologis lainnya: sistem otak untuk “menginginkan” (wanting) dan “menyukai” (liking) ternyata terpisah. Zat kimia dopamin mengatur rasa ingin dan kecanduan.
Seekor tikus akan terus menekan tombol untuk menstimulasi bagian “menginginkan” di otaknya tanpa henti, bahkan mengabaikan makanan atau pasangan. Demikian pula pada manusia, zat seperti nikotin memicu keinginan kuat (craving) tetapi memberikan sedikit kenikmatan nyata.
Alam tampaknya memainkan trik kejam: otak kita didesain untuk terus menginginkan sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar mencapai kepuasan abadi. Memahami biologi ini adalah langkah pertama untuk menaklukkannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















