Otak Manusia Didesain untuk Cemas dan Bahagia

Selasa, 6 Januari 2026 - 09:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Evolusi zaman Es membentuk otak kita untuk selalu waspada akan bahaya. Kini, sains modern berusaha memprogram ulang manusia agar bisa merasakan kebahagiaan sejati. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Evolusi zaman Es membentuk otak kita untuk selalu waspada akan bahaya. Kini, sains modern berusaha memprogram ulang manusia agar bisa merasakan kebahagiaan sejati. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama 130 tahun, sejak kelahirannya di laboratorium Leipzig, psikologi modern memiliki obsesi aneh terhadap penderitaan. Para ilmuwan menghabiskan ribuan jam meneliti kesedihan, kemarahan, dan kecemasan. Perpustakaan penuh dengan teori tentang mengapa kita sengsara.

Namun, Martin Seligman, seorang psikolog terkemuka, mengajukan pertanyaan radikal: Mengapa sains mengabaikan hal-hal yang berjalan baik? Mengapa sukacita, kebaikan, dan altruisme dianggap tidak layak diteliti? Faktanya, untuk setiap 100 makalah tentang depresi, hanya ada satu yang membahas sifat positif.

Kini, Seligman memelopori gerakan “Psikologi Positif” untuk mengubah paradigma tersebut. Kabar buruknya adalah otak kita memang tidak dirancang untuk bahagia. Akan tetapi, kabar baiknya adalah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Eksperimen Permen dan Dokter Cerdas

Beberapa perintis telah melawan arus. Profesor Alice Isen dari Universitas Cornell membuktikan bahwa emosi positif membuat orang berpikir lebih cepat dan kreatif. Dalam sebuah eksperimen cerdas, ia membagi dokter yang sedang melakukan diagnosis rumit menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama menerima permen, kelompok kedua membaca pernyataan humanistik, dan kelompok ketiga tidak mendapat apa-apa. Hasilnya mengejutkan: dokter yang memakan permen menunjukkan pemikiran paling kreatif dan bekerja lebih efisien. Kebahagiaan sederhana ternyata mendongkrak kecerdasan.

Baca Juga :  Virus Komputer: Evolusi Senjata Digital dari Disket Floppy hingga Teror Email

Terinspirasi oleh temuan ini, Seligman menggalang dana jutaan dolar dan mendanai 50 kelompok riset di seluruh dunia. Bahkan, mereka mendirikan pusat psikologi yang ceria, lengkap dengan sofa nyaman, untuk mendiskusikan topik seperti “rasa takjub”.

Warisan Zaman Es: Otak yang Paranoid

Namun, para kritikus mempertanyakan relevansi studi ini di tengah masalah dunia yang pelik seperti kelaparan dan banjir. Untuk menjawabnya, kita harus melihat ke masa lalu evolusi kita.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Homo sapiens berevolusi selama era Pleistosen, zaman penuh kesulitan dan bencana alam. Nenek moyang kita bertahan hidup dari kebekuan Zaman Es, banjir ganas, dan predator mengerikan seperti kucing sabre-toothed. Akibatnya, otak manusia terbentuk dalam cetakan “bertahan hidup”.

“Karena otak kita berevolusi selama masa es, banjir, dan kelaparan, kita memiliki otak bencana (catastrophic brain),” jelas Profesor Seligman. Cara kerja otak adalah terus-menerus mencari apa yang salah. Mekanisme ini menyelamatkan nyawa di zaman purba, namun di dunia modern yang aman, hal ini justru menjadi penghalang kebahagiaan.

Baca Juga :  Misteri Kematian Satu Keluarga di Warakas, Polisi Minta Jangan Berspekulasi

Biologi Ketidakpuasan

Bukti biologis mendukung pandangan ini. Neurosaintis di Universitas Iowa menemukan bahwa gambar menyenangkan mengaktifkan lobus frontal—area otak yang berevolusi paling akhir dan digunakan untuk pemikiran tinggi. Sebaliknya, gambar tidak menyenangkan memicu respons dari bagian otak yang lebih primitif dan kuno.

Daniel Nettle, penulis buku Happiness, menyoroti jebakan biologis lainnya: sistem otak untuk “menginginkan” (wanting) dan “menyukai” (liking) ternyata terpisah. Zat kimia dopamin mengatur rasa ingin dan kecanduan.

Seekor tikus akan terus menekan tombol untuk menstimulasi bagian “menginginkan” di otaknya tanpa henti, bahkan mengabaikan makanan atau pasangan. Demikian pula pada manusia, zat seperti nikotin memicu keinginan kuat (craving) tetapi memberikan sedikit kenikmatan nyata.

Alam tampaknya memainkan trik kejam: otak kita didesain untuk terus menginginkan sesuatu, tetapi tidak pernah benar-benar mencapai kepuasan abadi. Memahami biologi ini adalah langkah pertama untuk menaklukkannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 18:15 WIB

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:47 WIB

Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB