DOHA, POSNEWS.CO.ID – Rencana perdamaian Gaza memasuki babak baru yang krusial. Pasukan internasional berpotensi mendarat di Jalur Gaza paling cepat bulan depan.
Dua pejabat Amerika Serikat (AS) membocorkan rencana tersebut kepada Reuters. Nantinya, pasukan ini akan membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang memiliki mandat resmi dari PBB.
Meskipun detail teknis masih digodok, satu hal sudah pasti: ISF tidak akan bertempur melawan Hamas. Washington saat ini sibuk menyusun ukuran pasukan, komposisi, pelatihan, dan aturan pelibatan (rules of engagement).
Kabarnya, seorang jenderal bintang dua dari Angkatan Darat AS sedang dipertimbangkan untuk memimpin misi ini.
Konferensi Doha dan Kesiapan Indonesia
Langkah konkret akan segera diambil. Komando Pusat AS (CENTCOM) dijadwalkan menggelar konferensi perencanaan di Doha pada 16 Desember mendatang.
Lebih dari 25 negara mitra diperkirakan akan mengirimkan perwakilan mereka. Fokus utamanya adalah membahas struktur komando dan logistik ISF.
“Ada banyak perencanaan diam-diam yang sedang berlangsung di balik layar saat ini untuk fase dua kesepakatan damai,” ungkap juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, Indonesia mengambil peran proaktif. Pemerintah Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk mengerahkan hingga 20.000 personel. Namun, mandat pasukan Indonesia akan fokus pada tugas-tugas kesehatan dan konstruksi di wilayah yang hancur lebur tersebut.
Lampu Hijau Bersyarat Hamas
Hamas, yang selama ini skeptis, mulai melunakkan sikapnya. Husam Badran, anggota biro politik Hamas, memberikan sinyal persetujuan awal (initial approval).
Akan tetapi, persetujuan itu datang dengan syarat ketat. Hamas hanya mengizinkan pasukan asing jika mandatnya terbatas pada pemantauan gencatan senjata dan pemisahan kedua belah pihak di perbatasan.
“Setiap pembicaraan tentang pelucutan senjata perlawanan ditolak,” tegas Badran kepada Xinhua.
Pernyataan ini bertentangan langsung dengan visi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pasalnya, Netanyahu bersikeras bahwa fase kedua perdamaian harus mencakup demiliterisasi total dan pelucutan senjata Hamas.
Ancaman Banjir Maut
Di tengah manuver politik tingkat tinggi, penderitaan warga sipil Gaza terus berlanjut. Hujan deras yang mengguyur pada Kamis lalu telah memicu bencana baru.
Air bah merendam tenda-tenda pengungsi yang rapuh. Nahasnya, seorang bayi perempuan dilaporkan meninggal dunia akibat paparan cuaca dingin ekstrem. Kantor berita WAFA melaporkan total 14 warga Palestina tewas akibat badai dan runtuhnya bangunan.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB membunyikan alarm bahaya. Hampir 795.000 pengungsi kini berada dalam risiko tinggi banjir di area dataran rendah yang penuh puing.
Parahnya lagi, material untuk memperbaiki tenda dan karung pasir dilarang masuk ke wilayah tersebut. Drainase yang buruk dan pengelolaan limbah yang hancur juga meningkatkan risiko wabah penyakit menular di kamp-kamp pengungsian.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















