BRUSSELS/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Awan gelap yang menyelimuti hubungan transatlantik mulai sirna. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyuarakan nada positif yang kontras dengan ketegangan minggu lalu.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela pertemuan Uni Eropa di Brussels pada hari Jumat (30/1), Rasmussen mengonfirmasi bahwa babak baru diplomasi telah bermula.
“Kami mengadakan pertemuan pertama di tingkat pejabat senior di Washington kemarin mengenai masalah Greenland,” ungkapnya. “Itu berjalan baik dalam suasana dan nada yang sangat konstruktif.”
Rasmussen mengakui bahwa para diplomat belum sepenuhnya memecahkan masalah, namun arahnya sudah benar. “Bukan berarti masalah sudah selesai, tapi ini bagus,” tambahnya.
“Kembali ke Jalur” Pasca-Eskalasi
Ketiga negara menggelar pembicaraan trilateral ini setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu menarik kembali ancamannya untuk menyita wilayah otonom Denmark tersebut. Ancaman itu sempat menjerumuskan aliansi transatlantik ke dalam krisis terdalamnya dalam beberapa tahun terakhir.
“Ada jalan memutar yang besar (major detour). Segala sesuatunya sempat memanas, tetapi sekarang kita kembali ke jalur,” kata Rasmussen lega. “Saya sedikit lebih optimis hari ini dibandingkan seminggu yang lalu.”
Kompromi: Keamanan Arktik, Bukan Kedaulatan
Trump, pemimpin AS yang sulit ditebak, melunak setelah mengklaim telah mencapai kesepakatan “kerangka kerja” dengan kepala NATO Mark Rutte untuk memastikan pengaruh Amerika yang lebih besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski detail konkret masih minim, garis merah Denmark dan Greenland tetap teguh: mereka tidak akan menyerahkan kedaulatan. Otoritas di Kopenhagen dan Nuuk menolak mendiskusikan penjualan wilayah.
Sebagai gantinya, para negosiator menggeser fokus ke kerja sama keamanan. “Saya telah menyatakan dalam banyak kesempatan, kami tentu saja berbagi kekhawatiran keamanan AS mengenai Arktik; ini adalah sesuatu yang ingin kami selesaikan dalam kerja sama yang erat,” jelas Rasmussen.
Sebagai bagian dari kompromi dengan Washington, analis memperkirakan NATO akan meningkatkan aktivitasnya di Arktik. Selain itu, Denmark dan Greenland kemungkinan akan membuka pintu untuk negosiasi ulang perjanjian pertahanan 1951 (1951 treaty) yang mengatur penempatan pasukan AS di pangkalan udara Thule (kini Pituffik).
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: AFP





















