Pemakaman Panglima AL Warnai Peringatan 47 Tahun Revolusi

Kamis, 2 April 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Lapangan Enghelab di jantung ibu kota Iran berubah menjadi lautan duka sekaligus simbol perlawanan pada hari Rabu. Ribuan warga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi yang tewas dalam serangan udara Israel.

Dalam konteks ini, prosesi pemakaman berlangsung tepat pada peringatan 47 tahun proklamasi Republik Islam Iran. Hari libur nasional yang biasanya penuh perayaan kini membawa beban emosional yang jauh lebih berat. Rakyat Iran kini berjuang untuk bertahan hidup di bawah bombardir rutin Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama satu bulan penuh.

Tangsiri: Sang Arsitek Blokade Selat Hormuz

Peti mati Alireza Tangsiri bergerak perlahan menembus kerumunan massa yang meneriakkan slogan perlawanan. Tangsiri merupakan salah satu tokoh paling senior dan berpengaruh di jajaran Garda Revolusi. Bahkan, dunia internasional mengenalnya sebagai arsitek utama di balik penutupan efektif Selat Hormuz yang melumpuhkan ekonomi global.

“Perang ini telah berlangsung sebulan. Berapa pun lamanya, kami akan terus maju,” tegas Moussa Nowruzi, seorang pensiunan yang hadir di lokasi. Kehadiran massa di pusat kota membuktikan bahwa moral pendukung pemerintah tetap terjaga meski militer AS-Israel menargetkan infrastruktur pertahanan secara masif.

Duel Klaim: Gencatan Senjata atau Perang Berlanjut

Sebelum menyampaikan pidato nasional, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial. Trump mengeklaim bahwa Presiden Iran telah meminta gencatan senjata kepada Washington. Namun, pemerintah Teheran segera membantah keras klaim tersebut.

Trump menegaskan bahwa ia hanya akan mempertimbangkan perdamaian jika Selat Hormuz dibuka sepenuhnya bagi pelayaran internasional. Oleh karena itu, ancaman bombardir tetap membayangi warga Iran. Menanggapi gertakan tersebut, para pelayat di Teheran justru menunjukkan sikap tak acuh. Mereka menganggap pernyataan Trump sebagai omong kosong yang tidak konsisten.

Ketangguhan Sistem di Tengah Kehilangan Pemimpin

Meskipun serangan udara telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan banyak pejabat senior lainnya, sistem pemerintahan Iran terbukti masih berfungsi. Secara simultan, Iran tetap mempertahankan kemampuannya untuk meluncurkan rudal dan drone ke wilayah sekitar.

Baca Juga :  Polda Sumut Gerebek Tempat Hiburan Malam di Sei Bingai, Amankan Waiter Diduga Pengedar Narkoba

Potret mendiang pemimpin dan putranya, Mojtaba Khamenei—yang kini mengambil alih kekuasaan namun belum muncul di depan publik—terpampang di seluruh sudut kota. Para pendukung pemerintah meyakini bahwa musuh memiliki ide yang salah jika menganggap Iran akan melemah hanya dengan membunuh para komandan militer mereka.

Realitas Domestik: Antara Kesetiaan dan Kekecewaan

Di balik narasi perlawanan resmi, terdapat lapisan sentimen publik yang lebih kompleks. Beberapa warga yang sempat mengikuti demonstrasi anti-pemerintah pada Januari lalu masih memendam harapan akan adanya perubahan politik. Meskipun demikian, muncul rasa pengkhianatan yang mendalam terhadap Donald Trump.

“Dia [Trump] mengkhianati orang-orang Iran,” ujar seorang wanita berusia 30-an yang meminta anonimitas. Ia kini tidak lagi mengharapkan perubahan rezim melalui intervensi asing. Baginya, stabilitas dan pemberian kebebasan sipil yang lebih luas sudah cukup untuk diterima di tengah situasi perang yang mencekam di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai
Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik
Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump
Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan
AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP
Tanah Longsor Sapu Tujuh Persen Populasi Orangutan
Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:15 WIB

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:00 WIB

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:02 WIB

Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:21 WIB

AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP

Berita Terbaru

Gebrakan besar di perbatasan. Otoritas Hong Kong menyita ratusan ribu barang palsu termasuk jersi Piala Dunia siap ekspor senilai dua puluh juta dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:15 WIB

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Jun 2026 - 16:00 WIB