NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – China kembali menyuarakan peringatan keras di panggung internasional. Pada hari Senin (20/1), seorang utusan China mendesak komunitas global untuk bersatu mencegah Jepang kembali ke “jalan lama dan jahat militerisme.”
Sun Lei, charge d’affaires Perutusan Tetap China untuk PBB, menyampaikan seruan tersebut dalam sesi pertama Komite Persiapan Konferensi PBB. Pertemuan ini membahas Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan terhadap Kemanusiaan.
Bagi Beijing, kejahatan terhadap kemanusiaan merupakan pelanggaran berat yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Sun mengingatkan bahwa tuduhan ini pertama kali muncul dalam Piagam Pengadilan Militer Internasional di Nuremberg dan Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh.
“Tuduhan ini mewujudkan hati nurani umat manusia,” tegas Sun.
Mengenang 80 Tahun Pengadilan Tokyo
Sun Lei menggunakan momen sejarah untuk memperkuat argumennya. Ia menyoroti bahwa tahun ini menandai peringatan 80 tahun dimulainya pekerjaan Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh, atau yang terkenal sebagai “Pengadilan Tokyo” (Tokyo Trials).
Selama Perang Dunia II, militerisme Jepang menimbulkan kekejaman mendalam bagi rakyat China, negara-negara Asia lainnya, dan dunia.
“Pengadilan tersebut secara sistematis mengadili dan mengungkap kejahatan militerisme Jepang dalam merencanakan, mempersiapkan, dan menginvasi China serta negara-negara Asia lainnya,” ujar Sun. Ia juga menekankan peran Jepang dalam memicu Perang Pasifik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengadilan Tokyo menjatuhkan hukuman kepada penjahat perang yang relevan atas tiga kategori kejahatan utama: kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Bukti Sejarah yang Tak Terbantahkan
Di mata diplomat China tersebut, Pengadilan Tokyo berdiri sebagai bukti sejarah yang tak terbantahkan atas kejahatan agresi Jepang. Pengadilan ini juga memelopori perkembangan hukum pidana internasional dan menyuarakan seruan perdamaian untuk mengoreksi kebijakan ekspansionis Jepang.
Oleh karena itu, Sun mendesak dunia untuk tidak melupakan sejarah.
“Komunitas internasional harus bersama-sama menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II, termasuk Pengadilan Tokyo,” desaknya. “Kita harus menegakkan tatanan internasional berdasarkan hukum internasional dan mencegah Jepang kembali ke jalan lama militerisme yang merusak.”
Relevansi di Tengah Gejolak Global
Peringatan ini bukan tanpa konteks modern. Sun Lei mengaitkan sejarah tersebut dengan situasi internasional saat ini yang penuh dengan perubahan, kekacauan, dan konflik regional yang muncul silih berganti.
Menurutnya, memperkuat pencegahan dan penghukuman kejahatan terhadap kemanusiaan saat ini adalah langkah yang tepat waktu dan sangat signifikan. China memandang bahwa kewaspadaan terhadap kebangkitan militerisme masa lalu adalah kunci untuk menjaga stabilitas masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















