JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya membongkar daftar menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diam-diam berpotensi memicu gangguan pencernaan pada anak.
Hasil evaluasi terbaru mengungkap sejumlah makanan populer justru rawan menyebabkan mual, muntah, hingga diare jika tidak diolah dengan benar.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan temuan ini berasal dari investigasi tim pemantauan dan pengawasan di lapangan.
Ia menyebut, kesalahan pengolahan hingga penyajian menjadi faktor utama munculnya risiko kesehatan pada program MBG.
Soto Jadi Sorotan: Kuah Dingin Picu Bakteri
BGN secara tegas menyoroti menu soto yang kerap dianggap aman. Namun, di balik itu, terdapat potensi bahaya serius jika penyajian tidak higienis.
Menurut Nanik, penggunaan kondimen mentah seperti kol, seledri, dan tauge menjadi celah masuk bakteri. Kondisi makin parah saat kuah disajikan dalam keadaan dingin.
“Ketika kuah dingin disiram ke bahan mentah, risiko kontaminasi bakteri seperti E. coli meningkat. Anak dengan imunitas rendah bisa langsung mengalami gangguan pencernaan,” jelasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nasi Kuning hingga Mi Goreng, Mudah Basi dan Berisiko
Selain soto, BGN juga mengidentifikasi sejumlah menu lain yang cepat basi dan berpotensi memicu sakit perut. Di antaranya nasi kuning, nasi uduk, hingga nasi goreng.
Tak hanya itu, berbagai olahan mi—terutama mi goreng yang langsung dicampur sayuran—juga masuk daftar rawan. Proses memasak yang tidak tepat membuat makanan lebih cepat terkontaminasi.
Ayam Suwir dan Saus Jadi Pemicu Keracunan
Temuan paling mengkhawatirkan muncul pada menu ayam suwir. BGN menyebut, bahan baku yang tidak segar serta proses penyuwiran tanpa standar higienis menjadi penyebab utama tingginya kasus keracunan.
“Sering kali ayam yang digunakan bukan kualitas terbaik. Ditambah proses penyuwiran tanpa sarung tangan, ini sangat berisiko,” tegas Nanik.
Selain itu, makanan berbasis saus juga menjadi perhatian. Banyak yang dimasak kurang matang, lalu dikonsumsi lebih dari 12 jam setelah dimasak—bahkan dibawa pulang—sehingga meningkatkan potensi kontaminasi.
Ayam Bakar dan Ikan BBQ Tak Matang Sempurna
Menu ayam bakar dan ikan barbeque juga tak luput dari sorotan. BGN menemukan proses pemasakan sering hanya menggunakan alat torch, bukan oven besar.
Akibatnya, bagian luar memang terlihat matang, tetapi bagian dalam masih mentah—kondisi yang sangat berbahaya bagi kesehatan anak.
Berdasarkan temuan tersebut, Badan Gizi Nasional menegaskan tidak merekomendasikan menu-menu berisiko itu untuk program MBG.
BGN menekankan, standar keamanan pangan harus diperketat, terutama di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menu berisiko baru boleh disajikan jika tenaga masak benar-benar kompeten dan memahami prosedur higienis secara ketat.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa program makan gratis tidak hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga keamanan dan kualitas.
Jika pengolahan diabaikan, makanan bergizi justru bisa berubah menjadi ancaman kesehatan serius bagi anak-anak. (red)
Editor : Hadwan


















