JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Pernahkah Anda merasa ikut sedih saat streamer game favorit Anda sedang liburan dan tidak live? Atau merasa kesal dan marah saat anggota idol group idola Anda dikabarkan punya pacar?
Jika Anda merasa “kenal dekat” dengan figur publik yang bahkan tidak tahu Anda ada, Anda tidak sendirian. Anda sedang mengalami fenomena psikologis yang semakin umum di era digital: Hubungan Parasosial.
Hubungan Ilusi Satu Arah
Hubungan Parasosial adalah sebuah hubungan psikologis yang bersifat satu arah. Ini terjadi ketika seorang penggemar menginvestasikan waktu, energi, dan emosi yang sangat besar terhadap seorang figur publik (idola K-Pop, streamer, YouTuber, atau aktor).
Masalahnya? Sang idola, sebagai objek dari emosi tersebut, sama sekali tidak tahu bahwa penggemar spesifik itu ada. Ini adalah ilusi kedekatan; sang penggemar merasa memiliki koneksi personal, sementara sang idola hanya memproyeksikan persona publiknya ke ribuan orang.
Desain Media yang Manipulatif
Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan; platform media modern sengaja merancangnya. Pengembang sengaja membuat fitur-fitur interaktif untuk mengaburkan batas antara interaksi nyata dan ilusi.
Saat seorang streamer di TikTok Live atau Twitch menyapa username Anda secara langsung (“Terima kasih donasinya, Budi!”), otak Anda melepaskan dopamin. Anda merasa bahwa streamer itu melihat dan mengakui Anda secara personal. Sesi Q&A di Instagram Stories, update “kegiatan sehari-hari”, dan sapaan langsung ke kamera, semuanya adalah mekanisme yang developer rancang untuk menciptakan dan memperkuat ilusi “interaksi” dan “kedekatan personal” ini.
Saat Ilusi Menggantikan Realitas
Meskipun mengagumi idola adalah hal yang wajar, hubungan parasosial bisa menjadi berbahaya ketika sudah melewati batas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, ilusi ini bisa menggantikan hubungan di dunia nyata. Seseorang mungkin merasa lebih nyaman “berinteraksi” dengan streamer-nya daripada bergaul dengan teman sungguhan, karena hubungan parasosial terasa lebih aman dan terkendali.
Kedua, ini membuka celah eksploitasi finansial. Rasa “dekat” ini akan lebih mudah mendorong penggemar untuk memberi donasi berlebihan, gifting mahal, atau membeli merchandise apa pun, dengan harapan mendapat pengakuan lebih dari sang idola.
Terakhir, bahaya terbesarnya adalah kekecewaan ekstrem. Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi—misalnya sang idola tersandung skandal, menunjukkan sifat asli yang berbeda, atau mengumumkan pernikahan—penggemar bisa merasakan patah hati yang nyata, depresi, atau kemarahan yang destruktif karena ilusi yang mereka pegang hancur.
Antara Kagum dan Terjerat
Pada akhirnya, hubungan parasosial adalah spektrum. Mengagumi karya seseorang dan mendapat inspirasi adalah hal yang sehat. Namun, ketika kekaguman itu berubah menjadi perasaan memiliki dan ekspektasi emosional satu arah, ia telah menjadi ilusi yang tidak sehat.
Batasnya tipis: di mana kita berhenti mengagumi karya seseorang, dan mulai masuk dalam ilusi hubungan dengan persona yang mereka ciptakan?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















